Chapter 39

3.7K 240 13
                                        

Happy reading
Sorry for typos 🤪

***

Nirbana dan Auriga sepakat untuk memberitahu keluarga masing-masing untuk pertemuan keluarga. Masih perkenalan, lalu menetapkan tanggal untuk lamaran. Nirbana juga sadar jika Auriga masih sibuk dengan proyeknya meskipun Auriga berkata kalau ia masih bisa mengubah jadwalnya bila mengikuti prioritas. Untungnya Nirbana berhasil menahan keinginan Auriga, berkata kalau tantenya baru bisa pulang dua minggu lagi.

Auriga dan Nirbana menyepakati tanggal pertemuan keluarga mereka—untuk berkenalan. Baru setelahnya mereka akan membahas mengenai lamaran, pertunangan, hingga pernikahan. Tentu saja karena melibatkan keluarga besar, mereka tidak bisa grusa-grusu. Terlebih karena fakta kalau Nirbana pernah gagal dalam pertunangannya.

Nirbana sendiri masih memiliki hal yang perlu di bahas dengan Mama Auriga. Mengenai pertemuan mereka tempo hari. Auriga sama sekali tidak menyinggungnya dengan Nirbana—yang berarti Mama Auriga tidak bercerita padanya. Padahal Nirbana sudah menyiapkan semuanya kalau Auriga bertanya. Tapi dia tidak menanyakannya.

Sepanjang minggu Auriga disibukkan dengan pekerjaan, agar dia bisa melonggarkan waktu untuk acara keluarga mereka nanti. sedang Nirbana merencanakan pertemuan dengan Mama Auriga. Rencananya akhir minggu Nirbana akan pergi ke Malang mengunjungi Mama Auriga untuk meluruskan kesalahpahaman mereka. Auriga percaya padanya. Nirbana berharap Mama Auriga juga tidak akan memandangnya dengan bias.

Di sekolah, Nirbana masih sibuk mengerjakan nilai rapot. Menginput seluruh nilai yang sudah diolahnya, mengirimkannya ke wali kelas masing-masing. Sedang ia sendiri menunggu nilai yang harus ia input di rapor karena ia juga seorang wali kelas.

Pulang sekolah, Nirbana mengistirahatkan diri di kasur empuknya. Lalu mendapatkan sebuah pesan dari Dito yang menginginkan pertemuan mereka lagi. Nirbana ingin mengabaikannya, tapi ia ingat kegilaan yang Dito lakukan padanya sebelum ini. Ia tidak mau Dito mengulangi kegilaan itu tepat di keluarga besarnya.

Nirbana menyetujui ajakan Dito untuk bertemu di salah satu resto yang ada di kawasan elit surabaya.
Tepat pukul tujuh malam, Nirbana keluar. Ia berpamitan pada Razan dan Rissa yang ada di rumah, karena Ragha belum pulang. Ia tidak menggunakan mobil sendiri, memilih untuk naik taksi online agar lebih praktis.

Nirbana mendatangi tempat pertemuan mereka, saat itu ia bertemu dengan Dito di depan pintu restoran. Mereka kemudian masuk berdua ke dalam restoran itu. setelah memesan makanan masing-masing, Nirbana langsung to the point dengan maksud kedatangannya.

“Aku harap kamu nggak melakukan hal bodoh seperti kemarin lagi, Dit,” peringat Nirbana.

Dito menyeringai, “kalau aku tidak mau?”

“Aku akan melaporkanmu ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik, stalking, semuanya yang bisa aku tuduhkan.”

“Apa kamu sekarang mengancamku?” tanya Dito.

“Tidak. Aku hanya memperingatkanmu. Aku akan mengingatkanmu lagi, kalau kita sudah putus. Aku tidak ada sangkut pautnya lagi dengan hidupmu.”

“Itu menurutmu. Kenyataannya hidupku stagnat saat kamu meninggalkanku,” Dito mengatakannya dengan berapi-api. “I want my live back, setelah itu aku akan melepaskanmu.”

Nirbana mengatupkan bibirnya rapat-rapat, mencoba menahan gejolak amarah yang mendidih dalam darahnya.

“Kalau aku masuk neraka, aku akan menyeretmu juga, Nir,” kata Dito.
Nirbana menyeringai, “neraka hanya buat makhluk terkutuk macam kamu, dit!”

Dito tertawa bahagia. Nirbana ingin menetralisir amarahnya, ia mengambil gelas di mejanya yang sudah terisi cairan bening. “Asal kamu tau, Auriga sama sekali tidak tau tentang kelakukan kamu yang ini. Kalau dia sampai tau, aku tidak bisa menjamin apapun padamu.”

Better Together [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang