Chapter 21

5.3K 449 4
                                        

Spread your love, vote, comment, in this story too 😆
For still waiting this story, thankyou
Happy reading ❤

***


Senyuman dibibirnya sama sekali belum turun bahkan saat jam kantor menunjukkan waktu pulang. Ada beberapa meeting dan pekerjaan yang harus ia kerjakan sepanjang hari ini-meskipun padat, tapi Auriga melakukannya dengan hati yang riang gembira. Frans yang menemukan keadaan bosnya semakin aneh kian penasaran. Walau begitu, ia tidak bernai menanyakannya langsung karena ia tahu, bosnya nanti malah akan curhat colongan-dan berakhir memberikannya beban tugas yang lebih banyak kalau dia salah bicara.

Frans menguap di tempatnya ketika melihat Auriga keluar dari ruangan dengan bersemangat. Ditangannya sudah ada tas-yang menandakan kalau Auriga sudah bersiap untuk pulang. Ia lagi-lagi dibuat heran, setahunya bosnya ini adalah workaholic yang pantang pulang sebelum jam 8 malam. Tapi hari ini, masih pukul 17.58 WIB manusia itu sudah menenteng tas dan melenggangkan kaki. Apa bosnya benar-benar salah minum obat?

"Where are you going, bos?" tanya Frans yang terkejut.

Auriga melirik Frans dengan pandangan bersahabat. "Hari ini kita pulang cepat. Pekerjaan sudah selesai, kenapa harus lama-lama di kantor?" tanyanya ulang.

Frans memandang kearah Wina yang sama terkejutnya. Wina langsung bergerak untuk merapikan barang-barangnya-berbeda dengan Frans yang masih diam mematung diposisinya.

"Frans, kamu nggak siap-siap pulang? Mau lembur?" tanya Auriga sambil menaikkan alisnya.

Frans menerjap dua kali sebelum tangannya otomatis membentuk tanda silang didepan dada, "no way! Saya juga mau pulang, pak!" jawabnya penuh semangat.

Auriga melipat tangannya, "jadi nggak suka lembur?"

"Suka juga, Pak. Kan bayarannya dobel. Tapi pulang cepat saya lebih suka, Pak!" imbuhnya bersemangat.

Auriga mengerutkan bibirnya ketika mendengar sahutan Frans. Ia menggelengkan kepalanya kemudian berlalu meninggalkan ruangan kantornya bersama pegawainya. Mereka masuk lift yang sama, Auriga menekan tombol menuju parkiran, lalu memeriksa ponselnya. Alisnya mengerut karena ia belum mendapatkan lagi pesan apapun dari seseorang yang amat ditunggunya.

"Hari ini hari apa, Frans?" tanya Auriga enggan memeriksa tanggal yang padahal sudah tertera jelas di layar ponsel maupun smartwatchnya. Matanya sibuk mengulir history chatnya dengan wanita itu.

Frans langsung menjawab, "hari Jumat, Pak. Tumben sampai lupa hari."

"Dia terakhir mengirimkan pesan padaku hari Rabu. Benar-benar!" Auriga kembali sibuk dengan layar ponselnya. ia mengetikkan pesan, lalu setelah menimbang, ia hapus lagi. Ia mengetikkan lagi, lalu menghapusnya. Berulang sampai ia tidak sadar kalau liftnya sudah berada di lantai parkiran.

Frans yang sempat mencuri lihat berdeham, "Pak. Sudah sampai, Bapak mau ke lantai berapa?"

Auriga mendongak, "oh. Cepat sekali." Lalu melangkahkan kaki keluar. Frans mengekor dibelakangnya. Auriga kembali disapa oleh beberapa staf dan security guard yang ada di lantai itu. Ia mengeluarkan kunci mobilnya, menekan benda itu hingga menimbulkan bunyi bip bip.

Ia menghampiri mobil SUV mewah keluaran terbaru. Berbeda dengan mobil yang biasa digunakan Auriga sebelumnya. Frans langsung mengekorinya, "ganti mobil, Pak?" tanyanya ingin tahu.

Auriga tersenyum, "dia nggak suka naik mobil yang penumpangnya cuma dua. Dia juga lebih suka mobil yang bagasinya lebih besar, yaudah saya ganti mobil saja." kata Auriga diikuti kuluman senyum-karena ia tanpa sadar membayangkan bagaimana wanita itu bisa membuatnya seperti ini.

Better Together [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang