Chapter 27

4.8K 352 11
                                        

Happy reading ❤

***

Masakan yang tersisa di meja akhirnya menjadi santapan makan malam mereka. Hari ini karena Limar berkata ingin berkunjung—dan makan masakan Nirbana, meskipun zonk—akhirnya Nirbana berusaha keras membuat makanan untuk Limar. Well, ini adalah keinginan pertama calon ‘ponakan’ yang masih sebiji timun didalam perut Limar.

Karena sudah beberapa kali memasak—dan masih dengan panduan pengawasan oleh Mbok Jar, masakan Nirbana tidak semengerikan biasanya. Hanya satu masakan zonk yang pertama tadi ia masak, terlalu asin.

Lalu, tiba-tiba Arga memintanya untuk menyisihkan sedikit masakan itu untuk diberikan kepada Auriga. Dari situ, Arga bercerita kalau Auriga sepertinya tidak enak badan sehingga libur seharian dan menetap di rumah—kompleks sebelah. Nirbana merasa tidak nyaman ketika mendengarkan cerita Arga, belum lagi Arga yang melebih-lebihkan kalau Auriga sakit demamnya bisa tinggi dan kadang Auriga bisa pingsan seharian.

Tapi untungnya, Nirbana masih bisa menahan diri untuk tidak terlalu kepo lebih lanjut. Nirbana masih terlalu kesal untuk melihatnya langsung, tapi ia juga merasa tidak nyaman kalau tidak mendengar kabar Auriga sendiri.

Nirbana hanya bisa memainkan sendok dan garpunya di atas piring, sedangkan pikirannya melanglang buana jauh di atas awan. Tentu hal itu membuat Limar yang mengawasi Nirbana semakin geram. Sudah lebih dari 3 kali Nirbana tiba-tiba melamun dalam 15 menit terakhir ini.

“Nir? Halo? Nirbanaaa?” Limar sampai harus melambaikan telapak tangan di depan wajah Nirbana agar wanita itu tersadar.

Limar mendengus saat melihat Nirbana tersenyum aneh padanya, “mikirin apa sih? Dari tadi aku cerita panjang lebar, pasti kamu nggak denger kan?” kata Limar dengan wajah yang masam.

Nirbana menggeleng, kemudian mengangguk, “aku masih denger kok pas bagian kamu salah bawain boxer nya Arga,” jawabnya sambil tersenyum kecil.

Limar menggeleng, “apa sih yang kamu pikirin. Sini giliran cerita ke aku,” kata Limar.

Nirbana menatap Limar sejenak, kemudian mengganti posisi duduknya agar lebih bisa menghada Limar. Nirbana memulai ceritanya, “jadi gini, aku punya teman nih, dia punya temen. Jadi temennya temenku ini dia ngelakuin perbuatan yang memalukan dan bikin temanku kesel.

Terus temennya temenku ini udah minta maaf ke temanku, tapi temanku masih kesel sama dia, makanya nggak dia maafin. Terus temenku baru tau kalau temannya ini sakit. Dia mau tanya keadaannya tapi takut gengsi, jadi gimana sih harusnya?”

Limar memutar bola matanya saat mendengar cerita Nirbana.

“Astaga, kenapa ribet. Intinya si B udah minta maaf ke si A tapi si A belum maafin kan? Yaudah, minta si A maafin si B aja. Toh kesalahannya B nggak sefatal itu kan.”

“menurut A, salahnya B parah sih, soalnya bikin si A malu.”

“Tapi kan si B udah minta maaf, ya harusnya si A maafin kan. Kamu sendiri yang pernah bilang ke aku, siapapun itu yang menyimpan kesal dan tidak mau memaafkan, nantinya dia sendiri yang capek karena mau sekesal apapun dia, orang yang bikin kesel kita nggak bakalan tau. Capek sendiri.”

Limar mendecak kesal, “kirain mikirin hal penting apa gitu!”

Nirbana mendengarkan omelan Limar dengan saksama. Apa yang dikatakan Limar benar juga. Harusnya ia tidak menyiman kesal pada Auriga. Toh Auriga juga tidak tau kalau ia sekesal itu padanya. Terlebih sekarang malah Nirbana sendiri yang merasa bersalah setelah mendengar Auriga sedang tidak enak badan.

Better Together [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang