Chapter 34

4.5K 416 12
                                        

Happy reading ❤

***

Nirbana tidak dapat berkata-kata setelah mendengar pengakuan—atau lamaran mendadak yang tiba-tiba dilakukan secara spontan oleh Auriga. Kini laki-laki itu hanya menatapnya intens seolah menuntut jawaban atas permintaannya, pengakuannya untuk hidup bersama Nirbana kali ini.

Nirbana baru akan membuka mulutnya saat kata-kata yang sudah ia rakit di dalam otak seolah hilang ketika berada di ujung lidah.

Say you will, Nir,” desak Auriga masih enggan memberikan kesempatan pada Nirbana untuk berkelit dari kenyataan.

Nirbana tau apa yang dikatakan Auriga tidak sepenuhnya salah. Fakta bahwa kehidupannya tidak akan kembali normal setelah menolah Auriga adalah suatu kenyataan yang harus ia hadapi, mungkin, suatu hari kalau Auriga memutuskan untuk menarik diri dari kehidupannya.

Tapi menurutnya masih terlalu jauh bagi mereka untuk mengambil keputusan itu sekarang. Lihat, bahkan keluarga Auriga tampak fit in together dengan keluarga Irene—yang jelas-jelas sudah saling mengenal sejak jaman dahulu kala.

Mengingat bad record yang dimilikinya, gagal bertunangan dengan laki-laki yang selingkuh, berasal dari keluarga yang tidak memiliki apa-apa, Nirbana tidak bisa mengandalkan latar belakangnya untuk bersanding dengan Auriga.

Nirbana menggigit bibirnya, ia tidak tau apa yang harus ia katakan. Menolak Auriga adalah hal terakhir yang mampu ia pikirkan, tapi menerima Auriga tidak akan semudah itu. Auriga ini orang gila—tergila-gila padanya. Kalau ia sampai berani berkata macam-macam pada Auriga, ia yakin kalau Auriga akan melakukan semuanya untuknya, bahkan untuk pernikahan.

Don’t bite your lips, just say yes, Nir.” Auriga memegang dagu Nirbana, mencoba untuk menghalangi Nirbana untuk menggigit bibir.

I would, but not this time,” kata Nirbana dengan ragu.

“Jadi kapan waktunya?” tuntut Auriga lagi. “Aku benar-benar tidak mau, dan tidak akan kehilangan kamu, Nir. Just tell me, what should I do to have you?”

“Ini tidak semudah yang kamu bayangkan, Auriga. Kamu tau apa yang aku pikirkan, kamu tau semuanya, tapi kamu desak aku untuk melakukannya.”

“Aku tidak sedang memojokkan kamu, Nirbana. Aku masih menunggu keputusanmu. Dengan tidak sabar. Sungguh, aku ingin sekali mengenalkanmu pada keluargaku secara resmi. Aku ingin semua orang tau, sekarang, aku dan kamu, kita memiliki perasaan yang sama. Dan bukan hanya aku yang mengusahakan hubungan ini, tapi kita berdua, Nir.”

Nirbana menatap Auriga dengan pandangan yang teguh, “I’m sorry, butuh waktu lama untuk menyadarinya.”

Auriga menggeleng, “tidak akan pernah lama untuk menunggu kamu datang padaku, Nir. So let me know if you want to make it next step.”

Nirbana mengangguk bersemangat. Auriga membawanya menuju pelukan, memeluk Nirbana dengan segenap jiwa dan raganya sambil menciumi kepalanya dan berbisik, “sungguh aku bisa gila sekarang.”

“Kamu memang sudah gila, sekarang.”

“Yeah, tergila-gila padamu,” kata Auriga sebelum menciumi bibir Nirbana.

“Ga! Jangan gila. kita berada di tempat umum!”

Auriga menyeringai sebelum mencium Nirbana lagi kali ini lebih lama, “katamu aku memang gila, kan?”

***

Berkat kemampuan Auriga, dia bisa membatalkan Nizam untuk menjemput Nirbana, tentu saja dengan segudang omelan Nizam dan peringatan agar Auriga segera kembali ke villa bersama Nirbana untuk menerima hukuman.

Better Together [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang