Chapter 45

8.5K 372 3
                                        

Here we go!!! This is the last chapter ya guys! Last but not least hehehe
Masih ada 1 lagi epilog yang nyusul setelah ini
Mau say thanks buat yg sudah setia baca, tinggalin komen, tinggalin kritikan, semuanya, waw aku bener2 nggk nyangka ada sebanyak ini yg mau bersedia baca ceritaku hehehe
Rasa syukur, terima kasih, yg bisa menggambarkan isi hatiku ❤
.
Happy reading!
Sorry for typos 🤪

***

Ditemani Razan, Nirbana berangkat menuju rumah sakit. Sekitar satu jam yang lalu, Auriga meneleponnya, mengabarkan kalau kini ia sedang berada dalam perjalanan rumah sakit. Auriga memintanya untuk menjaga Mamanya, selagi ia mengurus keperluan yang lain.

Nirbana sejujurnya masih merasa belum siap untuk bertemu dengan Leny lagi, setelah kejadian terakhir kali mereka bertemu, Nirbana yang berjanji akan memutuskan Auriga. Nirbana ragu untuk memasuki ruang inap, tepat saat ia melihat Rigel sedang membuka pintu.

“Mbak,” sapa Rigel dengan senyum sayu.

“Gimana keadaan tante?” tanya Nirbana ragu.

Rigel tersenyum lalu meminta Nirbana dan Razan untuk masuk dan melihat sendiri. “Ma, Mbak Nir datang nih.”

Nirbana melihat wanita itu dengan pakaian pasien sedang duduk bersandar pada bed yang ditegakkan. Di sampingnya sudah ada Om Prawira yang sedang mengupaskan buah.

“Oh, hai, nak. Ada apa dengan wajah kamu? Kenapa kamu sedih seperti itu?” tanya Leny dengan prihatin.

Nirbana menggeleng, ia lantas menoleh menatap Rigel yang hanya tersenyum nyengir. “Kata dokter lukanya nggak dalam. Nggak kena alat vital apa-apa. Emang agak ngeri soalnya darahnya bercucuran, tapi untungnya nggak parah.”

Nirbana menghembuskan nafas lega.

“Sini, Nak. Tante mau bicara.”

Om Prawira meletakkan buah yang selesai ia kupas di nakas, lalu bangkit, “kalau gitu Papa cari makan dulu ya, Ma. Ayo Gel, kamu ikut Papa!”

Nirbana beringsut mendekat, menggantikan posisi Om prawira yang melayani Tante Leny. Leny menghadap Nirbana, ia menggenggem kedua tangan wanita itu. “Nirbana, tante mau minta maaf.”

Nirbana menatap Leny dengan ragu. Ia menggeleng, “Nirbana yang harus minta maaf tante. Setelah tempo hari Nirbana janji bakalan mutusin Auriga, tapi malah sampai sekarang Nirbana masih…”

Kali ini Leny yang menggeleng, “sst. Nggak nak, yang kamu lakukan sudah benar. Bisa gila kali kalau Auriga jadi kamu putusin gitu. Dia sudah cukup pusing ngurus ini itu, belum lagi tante, apalagi kalau sama kamu. Yang ada dia bisa jadi pasien baru RSJ Karangmenjangan.”

Nirbana terkekeh geli mendengar lelucon yang dibuat oleh Leny, padahal harusnya ialah yang menghibur wanita yang sedang sakit ini.

“Tante sudah tau yang sebenarnya. Auriga sudah kasih bukti ke Tante. Apa yang Irene lakuin ke kamu, memang nggak bisa dimaafkan. Tapi, sekali lagi, tante mau minta maaf buat Irene ke kamu. Kamu mau maafin Irene kan Nak?” tanya Leny.

“Irene seperti itu mungkin karena kurangnya perhatian dari kami. Tante nggak pernah tau apayang dirasain Irene sampai sekarang ini kalau Irene nggak marah besar tadi. Rasa sakit tusukan pisau ini nggak sebanding sama sakitnya hati tante waktu dengar anak yang tante kenal sebagai anak baik itu menjadi sampai seperti ini.” Leny menatapnya dengan mata sedih dan berkaca-kaca, “apalagi setelah pengakuannya kalau dia selama ini menyukai Auriga. Tante nggak bisa nyalahin dia sepenuhnya. Kadang rasa suka bisa membutakan seperti itu, Nak.”

Leny tersenyum miris, “bukan sekali dua kali Tante memang tau kalau anak itu menaruh hati pada Auriga. Tapi tante juga nggak bisa memaksakan kehendak. Tante biarkan dia berada di sekitar kami. Kalaupun dia memang berjodoh dengan Auriga, biar takdir yang memainkan perannya. Tapi Auriga malah jauh-jauh ketemu kamu.”

Better Together [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang