Halo teman-teman....
Kabarnya baik kan?
Selamat membaca kisah mereka yaaa!!!!
Jangan lupa vote dan komen yaaaa
-oOo-
Jarum jam sudah menunjuk tepat pada angka lima. Keenam orang yang berada di dalam ruang SSR sudah bersiap-siap untuk keluar dari sini. Mereka melakukan tos seperti biasa, lalu satu per satu mulai meninggalkan ruangan.
"Athaya, bisa ngomong sebentar?" tanya Rachel.
Athaya yang sedang menyandang tas sekolahnya, mengangguk. "Boleh kak," jawabnya.
Keduanya pun melangkah bersama untuk keluar. Kemudian Athaya terlebih dahulu menghentikan langkahnya di sebelah pintu. "Mau ngomong apa kak?"
"Maaf kalo ini akan nyakitin kamu, aku nggak bermaksud." Rachel terlihat menggigit bibir bawahnya. "Aku..., aku cinta sama Athala. Dan, aku juga sayang sama dia."
Athaya berusaha untuk bersikap biasa saja. Cewek yang tengah memangku jaketnya itu mengangguk. "Ada lagi nggak?"
Rachel terlihat memandang ke sana ke mari, entah dia gugup atau bagaimana. "Dan Athala, mungkin juga sama, bahkan lebih mencintai aku dibanding kamu."
"Iya, satu kemungkinan yang sudah lama gue prediksi." Athaya tersenyum. "Dan ternyata, benar kan?"
"Selama menjalin hubungan sama kamu, Athala nggak pernah ada rasa. Dia berusaha untuk jatuh cinta sama kamu, tapi enggak bisa."
"Iya, dan dia tetep jatuh cintanya sama kak Rachel kan?"
Rachel mengangguk. "Mungkin..., bener."
"Rachel!" Boby datang dan langsung memanggil Rachel dengan nada ketus. "Nggak semuanya harus lo sampaikan ke Athaya. Perasaan lo itu urusan lo! Lo nggak perlu nambahin sakit dia."
Athaya mengangkat sebelah tangannya. "Gue cuma pengen tau, sejauh mana kak Athala nyakitin gue."
"Rachel bener, yang dia katakan nggak ada satupun kebohongan."
Dari belakang tubuh Athaya dan Boby, Athala mendekat. Rachel tampak kaget melihat kemunculan Athala yang tiba-tiba saja membenarkan ucapannya. Cowok itu lalu memposisikan diri di samping Rachel.
"Sejauh mana?" tanya Athaya.
"Untuk sekarang, lebih dari hubungan gue dengan lo sebelumnya," jawab Athala tanpa pikir.
Athaya tertawa. "Oke.., kemaren lo pura-pura peduli? Atau emang lagi membohongi hati lo sendiri?"
"Gue cinta sama Rachel. Bahkan sangat jauh sebelum mengenal lo."
Penuturan Athala yang satu itu, cukup untuk membuat Athaya mengerti tentang apa dan bagaimana cowok itu menganggapnya selama ini.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Athala dengan sangat keras. Athaya menatap cowok itu bukan lagi dengan pendar bahagia ataupun kecewa, tapi dia membencinya. "Berengsek! Lo cowok paling nggak kenal kata menghargai Athala!"
KAMU SEDANG MEMBACA
ATHALA
Novela JuvenilDia tetap jatuh cinta paling bahagia. Meskipun di akhir cerita, aku menyakitinya karena harus.
