32- Yang Mencintai Dengan Tulus

14.7K 1K 432
                                        


Halo manusia yang sedang senang, sedih dan marah👋

Happy reading!!!!
Semoga yang sedih sebentar lagi jadi bahagia yaaaa!!!

Vote dan komen juga di tiap paragrafnya. Supaya kalian bisa memberi senang untuk manusia yang menulis cerita ini:)

-oOo-








Jam 7 lewat lima belas menit, Athala bersama kelima temannya sudah berada di parkiran sekolah. Setelah menaruh motor dan helm masing-masing, mereka pun melangkahkan kaki menuju kelas.

"Lo berdua kemarin kenapa? Rebutan permen?" tanya Jon lalu tertawa. Pertanyaan tersebut jelas ditujukan untuk Athala dan Saga tentunya.

"Iya," balas Saga. "Permen emas."

"Kenapa nggak ngajak gue?" tanya Jon.

"Lo nggak pantes diajak Jon," jawab Athala.

"HAHAHA mampus!" Barbar kemudian mendorong pelan bahu Jon.

Perkara kemarin sudah selesai. Tidak ada yang akan memperpanjangnya, baik Athala, maupun Saga. Karena dalam Zedeza, masalah itu harus selesai hari itu juga. Hari esoknya, wajib berjalan seperti biasa.

Vando kemarin juga mengatakan, bahwa jika ingin menjaga dan menemani Athaya, silahkan saja. Tapi, untuk ikut campur terlalu jauh dalam hubungan Athala dan cewek itu, Vando melarangnya.

"Pagi-pagi udah bawa buku aja Ya." Wakil ketua Zedeza itu terdengar menyapa Athaya saat mereka tidak sengaja berpas-pasan di koridor sekolah.

Athaya balas tersenyum. "Bukan mau belajar kak, tapi gue mau nganterin bukunya Kak Boby. Soalnya pagi ini mau dipake."

"Bukunya Boby?" tanya Jon. "Boby bukannya seangkatan sama kita, dan elo baru kelas sepuluh. Kenapa minjam buku Boby?"

Plak!

Barbar menggeplak lengan Jon. "Liat! Liat lo nanya kaya gitu sama siapa? anak LCC Sains Jon. Goblok emang!"

"Kan memang yang mereka bahas materi tiga angkatan sat," tambah Gilang membuat Jon semakin terpojok.

"Maklumin aja Aya, dia sekolah cuma mau ajak orang-orang bergabung sama PT pencari cinta sejati. PT kebanggaan Jon sama Barbar," ujar Saga memberi informasi.

"Gini amat temen gue." Jon menghela nafas berat. "Aya, omong-omong nggak ada rencana join sama kita? Membangun perusahaan cinta masa depan yang lebih bermutu."

Athaya terkekeh, heran juga dengan kerandoman orang-orang di depannya ini. "Enggak deh kak."

"Yah.., padahal benefit yang bakal lo dapetin banyak lo Ya. Serius nggak mau join nih? Mumpung kami lagi buka di bagian direktur patah hati." Barbar ikut-ikutan mempromosikan. "Lagian, keliatannya lo pas dan cocok banget direkrut dan bekerja sama dengan perusahaan kita." Lanjut Barbar bak seorang HRD perusahaan yang tengah melakukan penilaian.

"Lain kali aja kalo gue minat ya kak."

Sejujurnya, Athaya dari tadi salah fokus pada wajah Athala yang banyak memar bekas pukulan di sana. Beberapa kali mereka sempat kontak mata, namun Athala selalu dengan cepat memutuskannya.

"Gue duluan ya, buru-buru juga soalnya," ucap Athaya lalu melewati cowok-cowok itu dengan cepat.

Tidak sampai semenit setelah Athaya menghilang dari pandangan mereka. Ponsel Athala tiba-tiba berdenting, sehingga cowok itu langsung mengecek chat yang baru saja masuk ke ponselnya.

ATHALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang