Jangan lupa vote dan komen sebelum membaca ya....
Happy reading....
Jangan lupa kasih bintangnya ya guys, kan gratis!
Banyakin komen yaw🤙
-oOo-
Pertandingan antara SMA Galaksi dan SMA Tunas Bangsa sedang berlangsung sengit. Kedua sekolah itu saling kejar-kejaran poin untuk menjadi yang paling unggul. Hal tersebut, ikut membuat para penonton di tribun merasa greget.
"Gila! Gue ikut tremor," kata Barbar. "Aya emang pinter banget ya ternyata."
"Baru sadar lo? Kemana aja selama ini Om?" tanya Jon ketus.
"Jenguk sepupu di saturnus."
"Diem lo berdua, ganggu fokus yang nonton aja." Vando menegur keduanya.
Gilang ikut menoleh, lalu cowok itu tertawa pelan. "Dimarahin Pak Vando kan lo berdua."
"Makanya jangan nakal, Pak Vando gampang naik darah," timpal Saga.
Athala menggeleng heran melihat tingkah luar biasa Jon dan Barbar. Kemudian ia mengalihkan perhatian pada ponsel Athaya yang bergetar dalam genggamannya. Ia membaca sebuah pesan yang muncul di pop up.
Athala mencoba membuka ponsel itu menggunakan tanggal lahir Athaya. Ternyata benar saja, ponselnya berhasil terbuka. Kini, ia beralih membuka pesan yang tadi muncul di pop up dari nomor yang tidak dikenal.
Athala kemudian menyimpan ponsel Athaya. "Ga, gue ke toilet."
Saga mengangguk, tidak akan membayangkan bahwa tujuan Athala bukanlah ke toilet. Melainkan ia menemui seseorang yang telah menunggu Athaya di jalan sepi belakang sekolah.
Cowok itu keluar dari tribun, ia berjalan menuju parkiran untuk mengambil motornya. Kemudian, Athala membawa motornya menuju lokasi yang telah dikirimkan melalui pesan tadi.
Tidak lebih dari lima menit untuk menjangkau tempat itu menggunakan motor, Athala membuka helm full face yang menutupi wajahnya, kemudian turun dari motor.
Prok!
Prok!
Suara tepuk tangan tersebut terdengar nyaring karena di sini memang sangat sepi, membuat Athala dengan cepat membalikkan tubuhnya segera.
"Pahlawan?"
Perempuan di depan Athala tertawa. Sedangkan cowok itu masih terdiam dengan menatap tidak percaya pada orang di depannya. Ini sungguh di luar dugaan.
"Lo?! Bilang kalo yang neror Aya bukan lo."
"Segitu baiknya gue di mata lo?" senyum bodohnya malah membuat Athala bergidik ngeri. "Gue adalah pelakunya, gue adalah pelaku dari semua teror yang menghantui lo dan Athaya."
"Berarti lo juga orang yang ikut terlibat dalam pembunuhan Ayahnya Athaya?!" tanya Athala dengan muka menahan emosi. Berhadapan dengan makhluk seperti cewek ini, membuat ia merasa emosinya seolah dipermainkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ATHALA
Teen FictionDia tetap jatuh cinta paling bahagia. Meskipun di akhir cerita, aku menyakitinya karena harus.
