Hai hai hai!!!!!!
Jangan lupa pencet bintang sebelum membaca. Dan gencarkan tangan untuk komen yang banyak ya teman-teman 🤝
Semoga hari kalian selalu baik ya. Hari ini, besok dan hari-hari selanjutnya.
Selamat membaca, selamat menikmati kisah mereka 🙆
-oOo-
Athaya segera merapikan alat tulisnya saat bel pertanda jam pulang sekolah berdering nyaring. Cewek itu menyandang ranselnya, kemudian mulai berjalan keluar dari kelas. Langkahnya tertata menuju kantin, berniat membeli air mineral karena kehausan semenjak jam terakhir mata pelajaran kimia tadi.
"Mbak, aquanya satu ya," ucap Athaya sambil mengambil sebotol air mineral yang ditata rapi di etalase depan.
"Oke Aya, tiga ribu ya," sahut Mbak Ijen, baik.
Ketika dilihatnya sekitar kantin sangat sepi dari aktivitas siswa siswi, Athaya memilih untuk duduk sebentar di depan stand Mbak Ijen. Lalu, dia meneguk air mineral yang tadi dibelinya.
"Tumben banget Aya duduk di sini?" tanya Mbak Ijen.
"Lagi pengen aja mbak, mumpung sepi."
Mbak Ijen mengangguk paham. "Aya, kata Jessie, kamu sama Athala putus? Kenapa? Kok nyampe putus sih? Padahal mbak nge-ship kalian banget loh."
Athaya menatap sebentar Mbak Ijen yang mengambil duduk persis di sampingnya. "Apa karna kamu udah nggak kuat ngadepin cowok bangor modelan dia? Perlahan-lahan dia bisa berubah kok Ya, kalo kamu arahin. Tapi mbak paham juga sih, kamu pinter dan cantiknya nggak main-main, wajar aja kalo ngerasa capek sama dia."
Athaya balas tersenyum, senyum dengan tatapan yang berbeda. "Bukan mbak, bukan karna itu. Mungkin memang harus seperti itu jalannya."
Mbak Ijen mengangguk, tidak meminta penjelasan terlalu jauh. Karena dari kaca matanya, ia melihat Athaya yang tidak seterbuka itu pada orang lain. Apalagi dia juga tidak terlalu dekat dengan Mbak Ijen.
"Kalo gitu yang semangat ya, Mbak perhatiin akhir-akhir ini kamu banyak ngelamunnya. Senyum dong, biar cantiknya jadi plus plus."
Athaya tertawa pelan karenanya. "Iya mbak, siap."
"Ada apa gerangan nih? Tumbenan banget Aya nemenin janda tua," kata Jon, saat cowok itu baru ingin menghampiri kantin Mbak Ijen bersama teman-temannya.
"Lo mau mati modelan apa Jon? Mutilasi? Dicekek? Ditenggelemin? Atau mau pilihan lain?" tanya Mbak Ijen.
"Buset deh mbak, psikologi lo mbak. Ngeri deh gue," ucap Barbar merinding.
Athala mengerling tidak habis pikir. "Psikopat Bar," Athala membenarkan.
"Mati di dalam pelukannya aja udah lebih dari cukup mbak," jawab Jon ngaur.
"Bener-bener ni bocah prik!" tukas Vando.
"Lagi ada acara apa sama Mbak Ijen Ya?" tanya Gilang.
"Nggak ada kok kak, gue abis beli minum aja," balas Athaya seraya mengangkat botol mineralnya.
"Pulang bareng siapa Ya?" tanya Saga.
KAMU SEDANG MEMBACA
ATHALA
Novela JuvenilDia tetap jatuh cinta paling bahagia. Meskipun di akhir cerita, aku menyakitinya karena harus.
