47. Lomba Cerdas Cermat Dan Hal Menggemparkan

7.9K 720 508
                                        

Jangan lupa vote dan komen sebelum membaca ya....

Happy reading....

Jangan lupa kasih bintangnya ya guys, kan gratis!

Banyakin komen yaw🤙

-oOo-


SELAMAT DATANG PESERTA LCC SAINS TINGKAT JAKARTA DI SMA GALAKSI

Menjadi tuan rumah kompetisi rutin tersebut, membuat SMA Galaksi pagi-pagi sudah ramai dengan kendaraan-kendaraan SMA lain yang datang menghadiri kompetisi tersebut. Baik sebagai perwakilan sekolah, maupun sebagai pendukung setia sekolah masing-masing.

"Terus terus!" Jon tengah cosplay jadi tukang parkir. Ah, bukan cowok itu saja ternyata, teman-temannya pun begitu.

"Giliran jadi kang parkir, baik banget Bu Cecet sama kita," celetuk Vando kesal.

"Namanya juga cewek, kalo ada maunya pasti baik," sahut Barbar, lalu kembali mengatur kendaraan yang berdatangan.

"Lima belas menit lagi kita cabut," kata Athala menginterupsi. "Bentar lagi tribun penuh."

"Takut banget gabisa nonton Ta," goda Gilang.

"Gue juga Lang, cewek gue lomba tuh," kata Saga.

"Iya Ga, Iya, tau gue cewek lo lomba," kata Barbar. "Cewek gue juga ikut."

Vando menoleh bingung. "Siapa cewek lo?"

Barbar terkekeh. "Rachel dong."

"Jadi calon juga belum pasti bego," cibir Gilang.

"Mulut lo Lang, awas ya kualat! Gue bakal ketawain sampe sesak nafas."

"Nah gini ni, kalau kalian seperti ini kan Ibu Jadi sayang sama kalian." Bu Cecet mendekat, guru perempuan itu hari ini memakai baju kebaya, berdandan lebih menor dari hari biasanya.

"Buset dah, mau ngalahin badut aja tuh make up Bu Cecet," bisik Barbar pada Athala.

"Lo jangan ngomong kenceng," balas Athala ikut berbisik.

"Gimana penampilan Ibu, udah cantik dan menggoda?"

Jon tersenyum terpaksa. "Hehe iya Bu, menggoda banget."

"Saking menggodanya saya jadi takut," timpal Saga sangat pelan.

"Gimana penampilan Ibu Gilang?" tanya Bu Cecet pada Gilang.

"Biasa aja Bu." Gilang terlalu jujur.

Barbar menggeleng. "Enggak Bu, kaya badut."

Mata Bu Cecet yang dilapisi softlens itu langsung menghunus Barbar dengan tatapan menakutkan. "Apa kamu bilang?!"

"Ya tuhan Ibu... saya belum selesai ngomong. Maksud saya kaya Baduy, ah iya ibu kaya masyarakat suku Baduy. Cantiknya natural," Barbar tersenyum lalu mengangkat kedua jempol tangannya.

Bu Cecet jadi mesem-mesem mendengarnya. "Iya benar, makanya Pak Jaki melet Ibu ke dukun." Bu Cecet kemudian mengambil langkah untuk beranjak, namun sebelum itu ia menoleh pada Vando dan Athala. "Kenapa kalian berdua? Terpesona?"

ATHALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang