Jangan lupa vote dan komen sebelum membaca ya....
Ingat jangan lupa ya kesayangan ❤️
Happy reading....
-oOo-
Sungguh menyakiti diri paling sengaja, ketika kamu mencintai seseorang yang sedang mencintai orang lain.
"ATHALA!" Bu Cecet berjalan tergopoh-gopoh, bermaksud untuk menghampiri murid kesayangannya. "Mau kabur kamu?! Enak aja mau pulang sekarang! Bersihin toilet dulu, cepat!"
Dengan semena-mena, Bu Cecet menjewer sebelah telinga Athala. Membuat cowok tersebut mengerang kesal dan sedikit mengumpat di dalam hati.
"Aduh aduh, Bu..., entar telinga saya copot. Ibu nariknya udah kaya lomba tarik tambang aja," ucap Athala protes.
Athaya yang berdiri di samping Athala ikut meringis melihatnya. Lagian, Athala udah diingetin masih aja bandel.
Bu Cecet melepaskan telinga Athala, lalu dengan gesit mencabut kunci yang tertancap di motor besar cowok itu. "Kalo kamu nggak lakuin hukumannya, kamu nggak bakalan pulang." Guru berbadan gempal itu dengan sombong memutar kunci motor Athala menggunakan jarinya.
Lalu dengan pongah, Bu Cecet tersenyum menang. Kemudian, berjalan melenggak-lenggok meninggalkan Athala dan Athaya di parkiran.
Athala berdecak. "Kamu dianter sama Barbar aja gimana?" tanyanya.
"Bareng kamu aja, aku bantuin kamu bersihin toiletnya. Ayo!" Athaya menuntun Athala untuk segera melangkahkan kaki dari sana.
"Serius?"
"Cepetan! Biar kelarnya juga cepet."
***
"Mau hujan Ya, kita nunggu reda aja atau gimana?" tanya Athala sambil mengaitkan pengait helm Athaya.
"Kayanya masih lama deh hujannya, kita pulang aja ya kak."
Athala mengangguk. "Oke," balasnya, lalu meraih helm dan memakai benda tersebut dengan cepat.
"Kamu pake jaket aku aja, kasian nanti kalo kehujanan."
Athaya menggeleng tegas. "Aku masih gerah abis ngepel tadi. Nggak mau make jaket."
Athala mengusap pipi Athaya. "Maaf ya," katanya.
Athaya tersenyum dengan pipi bersemu merah. "Meleyot nih aku."
Athala terkekeh. Cukup Athala, cukup! Kekehanmu itu membuat jantung Athaya tidak baik-baik saja. Cewek itu kemudian menyusul Athala yang sudah berada di atas motornya. Bersiap membelah ramainya jalan ibukota menggunakan motor.
Terhitung lima menit sejak keduanya berangkat dari sekolah, hujan yang cukup deras melanda kota Jakarta di sore yang memang mendung sebelumnya. Membuat Athala dan Athaya seketika kuyup karenanya.
"Mau nepi dulu aja atau enggak?" tanya Athala dengan sedikit berteriak.
"Nggak usah, udah terlanjur kuyup." Athaya balas juga dengan berteriak.
Athala mengendarai motornya cukup kencang. Takut cewek yang diboncengnya terlalu lama kehujanan di luar. Namun, ia jadi berubah pikiran saat jemari Athaya berpegangan semakin kuat pada bahunya, bahkan sedikit meremas. Cowok dengan motor besar hitam itu segera menepi. Memarkirkan motornya di dekat pedagang kaki lima.
Tangan besar Athala mengamit pelan jemari Athaya. Kemudian dituntunnya untuk segera berjalan ke salah satu meja yang memang telah disediakan untuk pembeli. Meja tersebut dilindungi oleh payung besar warna-warni.
KAMU SEDANG MEMBACA
ATHALA
Teen FictionDia tetap jatuh cinta paling bahagia. Meskipun di akhir cerita, aku menyakitinya karena harus.
