Setelah bersedih cukup lama, ustadz menyarankan agar jenazah segera dibersihkan terlebih dahulu. Kemudian jenazah pun dibawa keluar ruangan untuk dimandikan dan saat hendak keluar ruangan :
"Bunda yang ridho yah" Merangkul dan mengelus pelan pundak kanan bunda, kemudian tangan kirinya memegangi kepalanya yang terasa sakit dan tiba-tiba matanya terasa kabur. Dan.. Anaya ?
Brukkk.. Anaya pingsan dan sedikit tertahan oleh bunda, kemudian ditya menggendongnya ke ruang perawatan untuk diperiksa. Kemudian karena pemakaman akan dilangsungkan esok hari, bunda tidur di sofa. Ditya yang duduk di kursi dan Anaya yang terbaring belum sadarkan diri.
Jam sebelas malam bunda sudah terlelep, namun Ditya masih terjaga. Ia memberanikan diri memegang erat tangan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, ia mencium tangannya dan memandanginya cukup lama, ia memandangi kesedihan yang ada di raut wajah bundanya, ia mengingat akan kepergian ayahnya, semua itu sangat membuatnya terpukul.
Akan tetapi, ia tersadar bahwa ia harus kuat, ia harus menjaga dan bertanggung jawab serta atas Anaya yang sekarang sudah menjadi istrinya, bunda, serta adiknya yang kini sedang berada di pondok pesantren. Kemudian setelah jam setengah tiga pagi, Ditya baru bisa terlelap dari pilunya. Jam empat pagi, Anaya bangun. Ia mendapati tangan kanannya sedang dipegang erat oleh seorang laki-laki. Siapa dia ? Suaminya, ia mengingatya.
Kepiluan itu kembali menghampiri Anaya, ia terbayang akan semua keraguan dan rasa takut yang ada diatas pernikahannya. Anaya memandangi bunda yang kini telah menjadi ibu mertuanya, kemudian ia kembali memandangi laki-laki disampingnya.
Anaya mengelus pelan rambut Ditya dengan tangan kanannya, dalam hati Anaya jujur pada dirinya bahwa ini untuk pertama kalinya ia menyentuh laki-laki, yaitu suaminya. Ia mengingat awal pertemuannya, memohon untuk menerima permintaan ayahnya, ijab kobul, kebahagiaan ayah dan kepergiannya.
Kesedihan dimata Ditya, bunda, semua itu membuatnya tersiksa karena bercampur dengan kebimbangannya. Dengan rintikan air mata yang bercucuran lama, Anaya juga menyadari bahwa ia bahagia berada di sisi keluarga barunya.
Anaya bingung dengan perasaannya, dia menikah karena kasihan atau memang ada benih cinta yang terbenam dalam hatinya. Anaya mencoba menguatkan dirinya sendiri, ia harus menerima semua kenyataan ini, ia menghapus air matanya dan berusaha mengambil air minum untuk membantu menenangkannya.
Tangan kanannya dipegang erat oleh Ditya, Anaya kesulitan untuk mengambil air minumnya hingga. Prankkk.., air dalam gelas jatuh dan pecah ke lantai. Bunda dan Ditya pun terbangun.
"Anaya sayang.."
"Maaf bunda, kak.., Anaya mau minum tapi gelasnya malah jatuh"
"Ada yang terluka ?" Tanya Ditya yang berdiri panik
"Nggak kak, Anaya nggak papa. Maaf sudah mengganggu waktu istirahat kalian"
"Nggak sayang, tenanglah.. sebentar yah bunda ambilin gelas lagi" Mengambil gelas di laci samping kursi yang tadi ditidurinya, mengisikan air dan memberikannya pada Anaya
"Terimakasih bunda" Anaya minum dibantu oleh Ditya dengan membuat posisinya menjadi duduk dengan kaki terlentang di atas kasur
"Anaya, habis nagis ?" Anaya mengucek-ngucek matanya
"Nggak bunda"
"Maaf kalau sudah membuatmu bersedih" ucap Ditya
"Anaya tidak bersedih kak, tenanglah"
Pukul enam pagi..
"Sayang, Anaya kenapa tadi malam pingsan ?" Tanya bunda pada Anaya
"Kata dokter Anaya pingsan karena telat makan dan kecapean bunda" Jawab Ditya
"Astaghfirullah hal adzim, sayang"
"Maaf sudah merepotkan, tadi sore sampai malam saya belum sempet makan"
"Sama sekali tidak merepotkan sayang, sekarang coba makan yah"
"Maaf bunda, nanti saja. Sekarang badan Anaya sudah lebih enak kok, mungkin karena infus"
"Bisa jadi, tapi kata dokter Anaya harus tetap makan"
"Sedikit aja"Ditya mencoba menyuapinya, baru beberapa sendok
"Sudah ya kak. Kalau dipaksain, takutnya perut Anaya malah nggak enak kak"
"Tapi makanannya belum habis" kata Ditya
"Yasudah, tidak papa sayang. Anaya pakai infus, mungkin itu efeknya. Sekarang kamu kamu makan juga yah"
"Baik bunda"
"Makasih kak, sudah nyuapin saya makan."
"Sudah kewajiban saya Anaya"
"Ouh.. iya, ayah bagaimana ?"
"Jam delapan pagi, ayah akan dimakamkan di pemakaman yang ada di dekat rumah. Sekarang jam berapa sayang ?" Ditya pun melihat jam tangannya
"Jam 6 pagi bunda"
Bunda teringat sesuatu..
"Sayang bunda lupa, Jihan belum kita kasih tahu"
"Sudah bunda, ditya meminta om Gion menjemput Jihan ke pondok nya dan barusan beliau ngasih kabar kalau Jihan sudah di rumah"
"Baguslah, terimakasih sayang"
KAMU SEDANG MEMBACA
Ditya & Anaya
RomansaMemiliki kepribadian pendiam, membuat Anaya juga diam-diam menutupi status pernikahannya. Seperti apa sebenarnya, kehidupan mahasiswa yang sudah menikah itu ? Baca yukk, janga lupa vote juga yah...
