Nata dan Aldi memasuki kelas yang kini tampak sudah ramai karena sebentar lagi bel tanda masuk setelah istirahat akan berbunyi. Terlihat Eza melambaikan tangannya sambil nyengir kuda di kursi pojok samping Dirga yang ekspresinya terlihat datar.
"Tau nggak, katanya Bu Melly nggak masuk hari ini" ujar Eza yang bersemangat menyambut kedatangan Nata dan Aldi.
"Kata siapa?" Sahut Aldi yang kini telah duduk menghadap ke arah belakang.
"Biasalah" jawab Eza, kemudian melirik ke arah Dirga. Fyi, Dirga itu wakil ketua kelas walaupun wajahnya yang datar sangat tidak mendukung dan memungkinkan.
"Pengen boba" ujar Nata
"Jangan aneh-aneh" sahut Aldi cepat
"Iiihh boba masa nggak boleh" sewot Nata yang kemudian memalingkan wajahnya dari Aldi. Aldi menggelengkan kepalanya.
"Bolos skuyy sekalian jalan kek" ajakan laknat dari Eza yang membuat Aldi melotot.
"Kuyyy" jawab Nata semangat, sekali mendayung dua, tiga pulau terlampaui bukan. Sudah jalan-jalan dapat bonus segelas boba pula, kesempatan emas sekali untuknya.
Aldi menghela nafas, sudahlah paling nanti malam tidurnya tidak akan nyenyak pikirnya. Ingatkan dia nanti untuk tidak memperdulikan makhluk sejenis nata de coco ini jika nanti ucapannya benar.
Sedangkan Dirga hanya diam menyimak dan mengangguk seperlunya. Ia selalu menjadi manusia yang hanya akan mengikuti alur.
***
Di tempat lain, di kediaman Nugraha suasana tampak begitu damai. Dinda mengelus kepala Byan yang ada dipangkuannya dengan sayang. Anak yang dulu saat baru beberapa waktu ia lahirkan sudah divonis tak akan bisa bertahan hidup lebih lama.
Namun entah keajaiban atau kuasa Tuhan, anak itu masih tetap bertahan di pelukannya hingga sekarang. Mematahkan vonis dokter yang menjadi bayangan hitam baginya. Dinda tersenyum memandangi wajah sang anak yang tampak serius menonton televisi dihadapannya.
"Ganteng" gumam Dinda seraya terus tersenyum dan mengusap lembut kepala sang anak.
Byan mengalihkan perhatian pada sang bunda kemudian tersenyum.
"Bunda tau, Bunda itu wanita paling cantik untuk Byan. Bunda itu dunianya Byan". Ucap Byan tak lupa dengan senyum manisnya.
Dinda terkekeh, lihat anaknya ini sangat manis bukan. Meski jarang sekali mengungkapkan apa yang dirasakan namun Byan tetap memiliki sisi manis yang selalu bisa membuat dirinya tersenyum.
"Bunda, kalau Byan sekolah gimana?" Tiba-tiba Byan bertanya.
Pertanyaan sederhana yang mampu membuat Dinda terdiam. Dinda kemudian mengubah ekspresi wajahnya, kembali tersenyum dan mengelus sayang kepala sang anak.
"Kakak kan udah belajar sama kak Mira"
"Iya tapi bukan yang itu Bunda" jawab Byan
"Terus?"
"Byan mau sekolah kayak adek, pake seragam, belajar di kelas bareng-bareng yang lain, terus makan di kantin pas istirahat. Seru kan Bun?" ujar Byan dengan berseri-seri.
"Kata siapa gitu?" Tanya Dinda
"Kata Byan dong" seru Byan
Dinda terdiam tak mampu menjawab, bingung hendak berkata apa.
"Bunda boleh yaa?" Pinta Byan mendongak ke arah sang Bunda.
Dinda menghela nafas, ia bingung harus bagaimana ia menjelaskan kepada sang putra. Ia takut terjadi hal yang tidak diinginkan saat sang anak jauh dari jangkauannya. Takut Byan kelelahan yang dapat mempengaruhi kesehatannya. Ia takut, sangat takut kehilangan putranya.
"Hmm, tanya ayah aja ya kak" ucap Dinda akhirnya, ia bingung.
"Iya deh nanti tanya ayah"
Dinda bernafas lega setelah mendengar jawaban sang putra, mungkin tidak ada salahnya jika putranya juga merasakan sedikit kebebasan. Tidak hanya tentang rumah dan rumah sakit. Dinda yakin Byan anak yang kuat, buktinya ia masih bertahan hingga kini.
***
"Nat, udah ah janjinya cuman segelas loh. Ini kok udah mau tiga" ujar Aldi.
Dirinya dibuat sangat kesal oleh makhluk bernama Nata ini, bagaimana tidak dengan senyum manisnya ia berjanji hanya akan menghabiskan segelas boba saja. Tetapi apa realitanya? Bahkan anak itu sudah akan menghabiskan gelas ketiganya. Mana segala minta es batu ekstra, entah bagaimana nanti kelanjutannya. Harus punya stok sabar yang tidak terbatas jika berurusan dengan anak ini.
"Iihh lo mah gitu, bilang aja nggak mau beliin lagi kan?" Jawab Nata dengan polosnya.
"Bener tuh, sekali-kali kan gpp sih bro" sahut Eza yang menambah api kemarahan Aldi.
"Bacot lo" kesal Aldi
"Udah, lain kali nggak ada acara bolos lagi, nggak ada boba lagi. Sekarang pulang" titah Dirga menengahi.
"Ahhh nggak seru" rengek Nata seperti anak kecil
"Aslii, ini kan belum jam pulang sekolah. Bentar lagi lah, mama gw di rumah bisa disidang ini" ucap Eza
"Bodo, tadi siapa yang ngajak bolos?" Sinis Aldi
" Yaa gw ta-taapi maksudnya pulangnya kan sama kek jam pulang sekolah" sahut Eza
"Bilang aja gurunya rapat makanya pulang cepat" usul Nata
"Aah iya pinter lo" sambung Eza
"Nggak jangan bohong" sela Dirga
"Terus lo mau gw disidang, uang bulanan gw dipotong, hp gw disita, motor gw disita, dan lo mau nanggung hidup gw beberapa bulan ke depan hah?" Cerocos Eza pada Dirga
"Emang masalah saya?" Ucap Dirga tanpa dosa
" Ya Allah punya teman gini amat ya, sabar-sabar" ujar Eza geleng-geleng kepala dan mengusap dadanya
"Balik ke sekolah sana lo, ribet banget" celetuk Aldi
"Ini lagi, mon maaf banget ngab saran lo unfaedah banget" seru Eza dengan mengatupkan kedua tangan di depan dada, layaknya seorang mbak-mbak minimarket.
Nata terkekeh geli, adakah manusia aneh yang dapat menyaingi kegilaan sahabatnya ini.
"Ke rumah lo aja al gimana?" Pinta Nata dengan mata berbinar jangan lupa kedipan yang berulang-ulang, tak ketinggalan senyum semanis gula.
Aldi mengernyitkan dahi, bukannya tante Dinda baru saja pulang? Biasanya seorang Nata tidak akan mau meninggalkan rumah jika ada keluarganya di rumah, terutama ibunya. Ah mungkin ada sesuatu pikirnya.
"Gw sih oke-oke aja, jangan lupa izin" ujar Aldi melirik pada Nata.
"Iya nanti izin kok"
"Oke kalo gitu, nanti gw kabarin mama gw aja pas jam pulang kalo gw ke rumah Aldi. Sipp, terbaik dehh bang Aldi" beo Eza yang sekarang tengah memeluk Aldi
"Lepas ogeb, gw nggak mau disangka homo" ucap Aldi seraya melepaskan pelukan Eza.
"Santayy Bosque" elak Eza dengan menepuk pundak Aldi yang langsung ditepis oleh Aldi.
"Dirga ikut kan?" Tanya Nata menoleh pada Dirga mengabaikan pertikaian antara Aldi dan Eza yang menambah polusi suara saja. Dan hanya dibalas dehaman saja.
***
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Kita Beda
Novela Juvenil"Hidup bagaimanapun jalannya tetap harus dijalani". -Abiyana Adinata Nugraha- "Penyesalan adalah sesuatu yang pasti akan terjadi". -Abyan Aditya Nugraha-
