Bagaimanakah kabar diriku?
***
"Keluar"
Waktu seakan berhenti sejenak kala kata pertama yang menyambut kedatangan Byan terlontar dari mulut Nata.
Byan tersadar, kembali berjalan mendekati Nata yang duduk bersandar pada kepala ranjang. Ditatapnya mata Nata yang menatapnya tajam sangat tak bersahabat.
"Kamu tuli? Aku bilang keluar" bentak Nata melihat sosok yang memiliki wajah persis dengannya itu.
"Kamu itu jahat, aku inget kamu yang suka ambil perhatian orang tua kit- ahh bukan, maksudnya orang tua kamu"
Lagi, entah ingatan mana yang Nata ingat tentangnya. Tapi sepertinya bukan hal yang menyenangkan.
"Kenapa? Kenapa aku harus keluar?"
"Kamu jahat"
"Aku gak tau ingatan apa tentangku yang kamu ingat, tapi yang harus kamu tau aku merindukanmu"
Nata tak memberikan respon apapun, emosinya sedang membuncah sekarang.
Byan menghela nafas, kemarin sore hatinya sangat berbunga karena Nata tertidur dipundaknya. Namun sekarang ia mendapat penolakan mentah-mentah dari Nata.
Byan meletakkan nampan berisi segelas susu hangat dan juga beberapa lembar roti berselai coklat pada nakas.
"Mau marah gapapa tapi jangan lupa makan. Marah-marah juga butuh tenaga"
Byan berucap demikian karena Nata yang menolak ikut sarapan. Dan sayangnya, tidak ada Aldi yang biasanya menjadi pawang anak itu.
Byan meninggalkan kamar Nata. Harus sedikit bersabar menghadapi ingatan Nata yang kadang menjadi bumerang. Entah apa saja yang telah diingat oleh Nata. Sikap Nata yang dulunya ceria penuh pengertian berubah dalam sekejap.
Keluarganya tak masalah sikap Nata yang sekarang berubah-ubah, kadang kalem atau bahkan kadang berubah menjadi reog.
Nata yang merasa kembali sendiri melengkungkan bibirnya. Ia lapar, tapi tidak bisa mengambil makanannya sendiri. Coba saja ada kakaknya tanpa diminta pun pasti ia sudah diberi makan.
Setelah puas menangis, Nata malah kini tertidur dengan televisi yang masih menyala. Matanya pasti akan bengkak jika ia bangun nanti.
***
Cklek
Pintu kamar Nata terbuka, ada Arkan serta Byan yang mengekor. Dokter muda itu baru pulang dari rumah sakit dan setelah bersih-bersih ia bergegas ke kamar Nata. Hitung-hitung pendekatan ulang atau pendekatan yang memang tidak pernah dilakukan.
"Tidur anaknya" ucap Arkan setengah berbisik pada Byan.
Dengan gerakan pelan, Arkan mendudukkan dirinya di ranjang Nata. Tersenyum singkat menatap wajah tenang milik Nata.
"Abang, adek pake pampers hihi kata bunda biar gak kasian mau ke toilet" Byan berbisik di telinga Arkan.
Yap betul sekali, karena kasian melihat Nata yang kesusahan tiap kali ingin ke toilet Dinda menyarankan untuk sementara Nata memakai popok saja. Kemarin jika di rumah sakit pakai selang kateter itu sangat memudahkan. Namun sayang, rayuan Nata untuk melepas semua selang di tubuhnya berhasil membuat mereka termakan bujuk rayunya.
Arkan menahan tawa yang akan keluar. Bisa-bisa ia dicap musuh abadi oleh Nata.
"Emang mau?"
Byan mengangguk, "mau tapi tadi nangis dulu, terus pas udah capek nangis minta makan" cerita Byan.
Apa dari dulu sifat adiknya memang seperti itu? Kemana saja dirinya selama ini, hanya karena kesedihan tak berujung membuatnya lupa dan acuh pada adik kecilnya.
"Kalau kakak gimana? Dadanya masih sering sakit?" Arkan bertanya pada Byan.
"Hmm gak juga, tapi masih dikit-dikit" jawab Byan yang sebelumnya tampak berpikir sejenak.
"Kakak jaga kesehatan juga, minum obatnya yang rajin. Abang lagi usaha buat nyari donor buat kakak" Byan mengangguk mendengar penjelasan Arkan. Ia menyunggingkan senyumnya saat teringat jika Arkan memanggilnya dengan kata 'kakak'.
***
Halo, ini draf terakhir yang aku punya, diketik bulan agustus 2023. Waaaw jujur aku buka ini gemeter agak tremor sayy😭
Singkat aja, maaf untuk kecewa kalian. Aku juga sama udah rindu Nata, salah dong aku kemarin bilang cerita kara😣intinya mau nyucapin makasih buat yang masih nunggu Nata lagi. Aku gak tau ini mau dilanjut atau gimana, masih belum sanggup buat baca ulang dan inget alurnya. Aku udah usaha buat balikin isi note di hp sebelumnya, tapi sayangnya gak selamat.
Sekali lagi maaf ya, aku juga pengen banget banget cerita Nata sampe selesai. Boleh tunggu sampai mental dan hatiku kuat dulu ya??
Aku juga ngerasa bersalah sama Nata karena sekarang tiba-tiba aku fomo dan lagi cinta sama Sena, doa'in ya tremorku ilang pas baca cerita Nata. Jadi aku bisa lanjut lagi or rombak ceritanya sampai selesai. Aku takut kalau maksa malah ngalur ngidul gak tentu arah.
See you guys, makasih yaa🫶🏻🫶🏻
(Lagi mencet "publikasikan" sambil tremor)
KAMU SEDANG MEMBACA
Kita Beda
Teen Fiction"Hidup bagaimanapun jalannya tetap harus dijalani". -Abiyana Adinata Nugraha- "Penyesalan adalah sesuatu yang pasti akan terjadi". -Abyan Aditya Nugraha-
