BAB SUDAH DIREVISI
HAPPY READING
JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN
* * *
Usai tidur siang yang panjang sesuai perkataan Ryan, mereka benar-benar tidur sangat lama bahkan melewatkan makan siang karena baru bangun pada pukul tiga sore.
Ketiganya kini sedang berada di meja makan untuk memulai makan siang yang tertunda itu karena begitu lapar apalagi Raga karena ia hanya makan sepotong sandwich saat sarapan pagi tadi.
“Ryan mau Mama suapin?” tawar Riani.
“Mau, Ma,” jawabnya begitu antusias.
Riani tersenyum kemudian mendekatkan kursinya dengan Ryan dan mulai menyuapi anaknya.
“Papa juga mau disuapin sama Mama,” rengek Raga dengan nada manja yang dibuat-buat.
“Kalau gitu, Mas harus kurangin umur Mas sebanyak sembilan belas tahun, biar sama kayak Ryan,” balas Riani dan langsung tertawa.
Raga merenggut dan melanjutkan makannya.
“Jadi pulang?” tanya Firda.
“Iya, Ma,” jawab Raga.
“Jam berapa?” tanyanya lagi.
“Kayaknya sekitar jam lima sore, deh Ma,” jawab Raga.
“Oh, ya udah kalau gitu. Lanjutin gih makannya,” ujar Firda.
“Kamu itu harus ya ajak Riani bulan madu, masa kamu biarin istri kamu terkurung mulu,” celetuk Firda menatap Raga.
“Raga janji bakal bawa Riani bulan madu, bahkan Raga udah nyiapin tempat buat bulan madu, tapi aku nunggu Riani punya waktu senggang dulu, soalnya Riani lagi sibuk-sibuknya nyiapin semua tugas akhirnya,” jawab Raga.
“Wah, bagus itu. Pokoknya kalau ada kesempatan kalian wajib bulan madu. Kasian menantu Mama. Sekalian refresh otaknya karena mikirin skripsi mulu, iya 'kan sayang?” Riani tersenyum seakan setuju dengan ucapan mertuanya.
“Pasti, Ma,” jawab Raga.
“Ya udah Mama mau ke depan dulu. Kalau udah selesai ke depan juga, ya, kita cerita-cerita dulu baru kalian pulang,” ucap Firda.
“Iya, Ma,” jawab keduanya serempak.
Usai makan siang yang tertunda, ketiganya beranjak ke ruang keluarga setelah Riani selesai mencuci piring bekas mereka.
Di ruang keluarga sudah ada Daniel, Sasa yang sedang menggendong anaknya dan juga Firda sedang tertawa-tawa.
“Ngomong apa nih? Sampe ketawa-ketawa,” seru Raga.
“Ini lho, Abang kamu ceritain kamu nangis pas denger Riani sama Ryan kecelakaan padahal mah gak,” jawab Mamanya.
Raga mendelik tajam pada Daniel yang sengaja mendekat pada istrinya dan mencolek-colek pipi gembul anaknya.
“Apaan Lo ngeliatin gue kayak gitu, dek?” sentak Daniel.
“Gak!” ketusnya.
Riani tertawa kecil sambil memangku Ryan yang entah kenapa mulai manja-manja dengannya.
“Bukannya kek gitu?” tanya Daniel.
“Takut banget kalau Riani kecelakaan,” goda Sasa.
“Mbak Sasa jangan ikut-ikutan Bang Daniel, deh!” kesalnya sambil mendekatkan tubuhnya dengan Riani.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hallo, Mas Duda!
Literatura Feminina[FOLLOW AKUNKU SEBELUM BACA!] Raga menatap gadis di depannya ini dengan sorot mata yang agak berbeda. "Duda duda begini tapi saya masih perjaka," ucapnya pada Riani, gadis yang sedari tadi berdiri di depan meja kerjanya. "Udah punya anak tapi dibila...
