BAB SUDAH DIREVISI
HAPPY READING
JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN
NB: Yang di mulmed itu Riani ya♥️
* * *
Seminggu sudah Riani melakukan magang dan selama itu pula ia terus berhadapan dengan atasannya yang selalu memperhatikannya ketika bekerja. Raga bahkan selalu memandang dan memperhatikan setiap kegiatan yang dilakukan Riani.
Seperti saat ini, Raga menatap Riani yang tengah mengetik beberapa laporan tentang kegiatan perusahaan dalam tiga bulan terakhir dengan senyum yang tak pernah pudar. Jujur Riani merasa sedikit tak nyaman jika ditatap dengan seperti itu apalagi tatapan itu seperti menyiratkan tentang sesuatu yang menurutnya tak pantas jika dilakukan oleh seorang pria beristri pada wanita lain. Ia sengaja membiarkan saja seolah tak ada apa-apa karena jika ia bertanya maka jawaban yang dilayangkan oleh Raga akan membuatnya pusing seperti yang pernah ia alami di hari pertama ia bekerja.
Setelah hasil ketikan laporan telah selesai, Riani beralih pada mesin printer dan mulai mencetak laporan tersebut.
Suara dari mesin print yang mulai bekerja membuat Raga yang tengah seperti orang yang melamun tiba-tiba buyar. Riani menatap atasannya itu kemudian bertanya. “Bapak kenapa?” Ia sengaja bertanya meskipun ia sudah tau apa yang sedang dilakukan oleh Raga sedari tadi.
“Ah, tidak apa-apa, lanjutkan pekerjaanmu,” jawab Raga.
Riani mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya. Setelah mesin mesin print selesai mencetak hasil copy-an, Riani menata satu persatu lembar dengan urutan yang benar ke dalam satu map Snelhecter kemudian beranjak dari mejanya menuju meja kerja milik Raga.
Riani menyodorkan map tersebut. “Ini Pak laporan yang sudah saya buat mengenai kegiatan perusahaan.”
“Terimakasih, ya,” ucap Raga.
“Sama-sama, Pak.” Balas Riani kemudian hendak berbalik.
“Em, Riani.” Riani yang hendak kembali harus membalikkan tubuhnya menghadap Raga.
“Iya, Pak?”
“Lima menit lagi jam makan siang, kamu mau nemenin saya makan siang?” tawar Raga.
Riani sempat merasa sedikit kaget karena ia diajak makan siang dengan atasannya sendiri yang bahkan ia pikir tak selayaknya karena ia takut dituduh perebut suami orang oleh beberapa karyawan kantor nanti.
“Aduh, gimana ya, Pak, bukannya saya gak mau nemenin bapak tapi saya gak enak sama karyawan lain, Pak,” ucapnya dengan nada tak enak
“Kamu takut diliat jalan sama atasan kamu?” tanya Raga dan Riani menjawab dengan anggukan.
Raga tertawa renyah. “Tak apa, Riani. Lagipula semua karyawan disini itu suka masa bodoh dengan keadaan.”
“Nah, itu Bapak malah bikin saya merasa gak enak, 'kan,” ucap Riani.
“Ayolah, Riani. Sekali ini saja.” Riani perlahan-lahan menarik nafasnya dan menerima ajakan Raga dengan wajah yang tak enak. Raga tertawa dalam hatinya karena melihat wajah Riani yang seperti itu. Ia berniat mengerjai Riani, ia ingin membuat Riani merasa tak enak saat bersamanya karena ia tahu bahwa yang Riani tau adalah ia adalah seorang laki-laki yang sudah memiliki istri. Tak dapat ia bayangkan kalau suatu saat nanti Riani tau kalau ia itu adalah seorang DuRen, Duda keren.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hallo, Mas Duda!
Chick-Lit[FOLLOW AKUNKU SEBELUM BACA!] Raga menatap gadis di depannya ini dengan sorot mata yang agak berbeda. "Duda duda begini tapi saya masih perjaka," ucapnya pada Riani, gadis yang sedari tadi berdiri di depan meja kerjanya. "Udah punya anak tapi dibila...
