Happy Reading
Makasih buat vote dan spam next di part sebelumnya! Luv luv❤️
* * *
Dua hari yang lalu Raga menghadiri rapat direksi yang juga dihadiri semua petinggi perusahaan di setiap cabang untuk membahas pengalihan jabatan yang saat ini dipegang oleh abangnya, Daniel.
Dan atas rapat tersebut, mereka mendapatkan hasil yaitu Raga diangkat menjadi CEO, jika mengikuti peraturan, maka yang seharusnya pindah ke cabang lain adalah Raga bukanlah Daniel karena, untuk pemegang jabatan General Manager akan diangkat menjadi CEO jika dimutasi ke cabang lain. Namun karena berhubung cabang yang berada di Jogja baru didirikan, maka pemegang jabatan pemimpin di sana haruslah yang berpengalaman dan Daniel lah yang dipilih, maka Raga akan diangkat menjadi CEO tanpa dimutasi.
Sesuai jadwal, lusa adalah hari serah terima jabatan yang bertempat di gedung perusahaan pusat yang berada di Jakarta maka dari itu Raga mulai mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkannya.
"Jadi, aku boleh hadir waktu hari serah terima nya?" tanya Riani yang sedang memilih jas untuk Raga.
"Boleh dong, masa gak? Aku 'kan udah punya istri masa perginya sendiri?" ucap Raga. "Oh, atau aku sewa cewek aja biar pergi bareng."
Riani langsung menatapnya tajam dan Raga dihadiahi satu kemeja putih yang dilemparkan oleh Riani tepat di wajahnya.
"Kamu ngomongnya aneh banget, Mas!" geramnya.
"Hehe, becanda kok, sayang," jawab Raga sambil memberi cengiran.
"Huh, sebel pilih aja jasnya sendiri," kesal Riani kemudian hendak beranjak dari sana tapi Raga langsung memeluknya dari belakang.
"Aku becanda kok, mana ada aku sewa cewek buat nemenin, dulu aja gak berani apalagi sekarang," ucap Raga.
Riani berbalik dan menatapnya tajam. "Awas aja kalau kamu berani nyewa cewek."
"Gak kok, gak bakal, gak berani, gak modal, gak sudi, gak suka gelayy," ucapnya melawak.
Riani yang awalnya marah malah tak kuasa menahan tawanya. "Ihhh, kok malah ngelawak, sih?"
"Biar kamu gak ngambek lagi, hehe."
"Pinter banget nyari jawabannya."
"Kebahagiaan istri nomor satu," timpalnya sambil mendaratkan kecupan singkat di bibir istrinya.
"Terus kalau Ryan nomor berapa?" tanya Ryan yang tiba-tiba sudah ada di pintu kamarnya yang terhubung dengan kamar mereka.
Sontak keduanya sama-sama terkejut dengan kehadiran Ryan yang begitu tiba-tiba.
"Huh, ngagetin aja, kamu. Kalau kamu, nomor satu juga," jawab Raga.
"Sesak dong hati Papa? Terus nanti kalau ada adek? Adek nomor berapa?" celetuk Ryan.
"Hati Papa luas tau, kayak rumah ini. Jadi kalau ada adek nanti, kalian semua nomor satu, dong,” jawab Raga.
“Bisa isi cewek lain juga berarti?” tanya Ryan polos.
“Eh, gak ya! Gak berani Papa kalau nyari cewek lain, punya Mama aja bangga banget.”
“Awas kalau nyari cewek lain kamu, Mas,” ancam Riani kemudian kembali ke lemari pakaian.
“Jadi kamu make yang abu-abu atau item, Mas?” tanya Riani sambil mengangkat dua stelan jas.
“Yang item aja, itu bagus banget biar seragam sama gaun kamu,” jawab Riani.
“Ryan, kamu maunya make jas atau kemeja aja?”
“Jas aja Ma, yang kemeja itu dari Ryan umur dua tahun loh, udah kekecilan,” jawab Ryan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hallo, Mas Duda!
ChickLit[FOLLOW AKUNKU SEBELUM BACA!] Raga menatap gadis di depannya ini dengan sorot mata yang agak berbeda. "Duda duda begini tapi saya masih perjaka," ucapnya pada Riani, gadis yang sedari tadi berdiri di depan meja kerjanya. "Udah punya anak tapi dibila...
