27. Positif ... Tapi!?

9.9K 1K 855
                                        

Happy Reading ❤️
Makasih buat vote dan komen di bab kemarin, kalian memang benar-benar jago nyepam😭🙏❤️
Kalau aku minta kali ini 500 spam? Gimana? Hehe.

* * *

Satu bulan kemudian, semua berjalan seperti biasanya, Riani masih menyusun skripsinya yang akhir-akhir ini menurutnya sangat-sangat berantakan, entah karena otaknya yang stuck dan ngeblank, dan kadang-kadang ia merasa tidak memiliki mood untuk menyusun skripsi, bahkan ia pernah menghapus satu bab skripsi karena ia sering merasa kesal dan marah tanpa sebab.

"Arrghh, ini gimana sih, kok otaknya lemot," geramnya sambil membanting tangannya kasar di atas keyboard.

"Huh, sabar ... Riani, kamu harus sabar nyusunnya," ucapnya berusaha menenangkan diri sendiri.

"Arrrghh, kok susah." Ia melempar asal satu buku yang menjadi referensinya ke bawah ranjang.

"Coklat dingin kayaknya bisa balikin mood, deh. Eh, kok tapi aku maunya sate ... ." Ia meringkuk di bawah selimut.

Dengan kasar ia menyibakkan selimut dan membereskan barang-barangnya yang berantakan, bahkan beberapa buku dan pulpen sudah tak berada di tempatnya.

Baru saja ia hendak membuka pintu, ia mencium bau amis darah dan ia rasa sangat dekat dengan sumber bau amis itu, tiba-tiba ia merasa bibirnya basah dan dingin. Tangan kirinya mengusap bibir itu dan terkejutlah ia melihat darah yang ternyata keluar dari hidungnya.

Buru-buru ia berlari menuju kamar mandi dan membersihkan hidung serta mulutnya yang berlumur darah, tak lama setelah itu tiba-tiba saja ia merasa mual bahkan muntah-muntah ke dalam wastafel tapi tak ada apa-apa, hanya cairan asam yang keluar.

"Arrgh, apalagi ini??" gumamnya lirih karena tubuhnya mendadak lemas.

Setelah itu ia langsung turun ke bawah untuk mengambil satu potong bolu cokelat yang baru saja ia buat semalam dan belum tersentuh sama sekali.

Baru saja ia hendak menyuapkan satu potong bolu ke dalam mulutnya, rasa mual kembali terasa dan dengan cepat ia berlari menuju wastafel dekat pencuci piring dan kembali muntah dan masih sama, ia hanya melihat cairan bening yang tadinya terasa asam di lidahnya sebelum ia keluarkan ke dalam wastafel.

Mengingat ia pernah mengalami mual dan muntah sebulan yang lalu karena mengalami alergi, Riani berusaha untuk mengingat-ingat kembali makanan yang ia konsumsi, apakah terdapat kerang atau tidak dan hasilnya tidak ada.

"Apa aku bener-bener hamil?" tanyanya pada dirinya sendiri.

"Testpack, iya aku harus beli testpack." Dengan terburu-buru ia berlari kembali ke kamar dan segera bersiap-siap untuk pergi ke apotek.

Tak perlu yang ribet-ribet, Ia hanya memakai hoodie dan celana jeans panjang kemudian mengambil mobilnya yang sekian lama terparkir di dalam garasi.

Karena jarak apotek yang cukup dekat, ia saat ini sudah sampai di tempat yang dituju, namun ia terkejut ketika melihat teman semasa SMA nya dulu ada di sana, Riani bahkan lupa kalau apotek tersebut milik kedua orang tua temannya itu yang merupakan pasangan dokter.

"Eh, Riani, 'kan?" sapa gadis yang Riani maksud tadi.

"Ah, i-iya, Vita 'kan?"

Hallo, Mas Duda!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang