18. Back to Home I

14K 1.2K 36
                                        

HAPPY READING
JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN

***

Karena puskesmas yang tersedia layanan UGD 24 jam terletak jauh, mereka baru sampai di Puskesmas setengah jam kemudian.

Riani saat ini sedang ditangani oleh para medis yang sedang bertugas sedangkan Raga menunggu di ruang tunggu dengan pikiran yang begitu kacau. Ia terus mengucapkan doa dalam hatinya agar Riani tidak mengalami hal yang buruk.

Satu jam menunggu, akhirnya Riani dapat keluar dari ruang UGD dengan berjalan gontai dibantu seorang petugas medis.

"Keadaan istri saya bagaimana?" tanya Raga sambil memegang tangan Riani.

"Kaka nona tidak apa-apa. Hanya luka kecil di kaki tangan, dan juga tadi karena benturan keras makanya ada darah yang keluar dari hidung tapi tidak ada luka atau radang di hidung. Dan untuk kepala belakang ada benjolan kecil tapi bisa menurun kalau dikompres. Nanti pulang kasih minum ini obat," jelas petugas medis tersebut dengan menyodorkan satu kantong obat.

Raga mengangguk. "Baik. Terimakasih. Untuk administrasi sudah saya bayar di depan. Permisi."

"Kamu rasanya gimana? Masih pusing?" tanya Raga sambil menuntun Riani untuk keluar.

"Masih pusing banget," jawab Riani dengan lemas.

"Aku gendong aja biar kamu gak jatuh, ya?" tawar Raga.

"Eng, gak usah, Mas. Aku masih bisa jalan, kok,"

Ketika mereka keluar, ternyata Renal sudah menyiapkan mobil di depan Puskesmas.

Raga membantu Riani untuk masuk ke dalam mobil.

Setelah mereka masuk barulah mobil beranjak dari pelataran Puskesmas.

"Sini, tidur di paha aku kalau masih pusing." Raga mengarahkan kepala Riani dan menempatkannya di paha miliknya.

Setelah Riani memejamkan matanya, Raga mencium kening Riani dengan penuh kasih sayang.

"Jangan kayak gini lagi, sayang. Kamu bikin aku khawatir banget," ucapnya sambil mengelus-elus pipi Riani.

"Baru segini aja udah kalang kabut sampai uring-uringan, apalagi kalau lebih parah," batin Raga sambil menatap wajah tenang istrinya.

Karena kondisi Riani, mereka membatalkan rencana mereka untuk mengunjungi wisata lain yang ingin mereka kunjungi sejak pagi tadi.

"Besok bisa ke hotel jam empat pagi, gak? Kami harus pulang besok karena saya takut Riani kenapa-napa." Raga terus menerus mengelus rambut dan membelai pipi Riani.

"Aduh, kalau jam empat pagi tidak bisa, kaka karena terlalu jauh dari saya punya rumah," ucapnya tak enak.

"Kalau nginap di hotel kamu mau gak? Nanti saya bayarin. Saya sudah terlanjur percaya sama kamu jadi bisa, 'kan?" ujar Raga meminta kesediaan Renal.

Renal tampak berpikir kemudian berpikir kemudian mengangguk. "Bisa kaka."

"Terimakasih, ya."

Hallo, Mas Duda!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang