Taehyung membasuh wajahnya sebelum memasuki kamar untuk bertemu Jeongguk. Ia takut pria-nya tak nyaman sebab dirinya kini bau anyir. Maka dari itu, Taehyung ingin bergegas mandi sebelum Jeongguk berhasil mencegatnya karena melihat darah pada leher Taehyung.
"Yang Mulia??? Mengapa bisa berdarah?" Tanya Jeongguk khawatir. Matanya membulat sempurna. Ia ingin menyentuh leher, namun Taehyung melarangnya.
"Bukan darahku." Ucapnya tak menatap Jeongguk sama sekali. Wajah Taehyung kusut. Sejak memasuki kamarnya, Taehyung selalu menghindari tatapan Jeongguk.
Lantas, ia beranjak untuk bergegas mandi. Meninggalkan Jeongguk yang bertanya-tanya sebab Taehyung sungguhan bau amis darah.
Setelah keluar dari kamar mandi, Jeongguk menawarkannya untuk mengeringkan rambut Taehyung yang basah. Yang termuda mengusapnya dengan telaten menggunakan kain kering tanpa bertanya apapun. Jeongguk bungkam. Begitupun dengan Taehyung. Tak ada pembicaraan penting sampai rambut Taehyung total kering.
Jeongguk menjemur kain yang basah pada kamar mandi. Kemudian kembali saat mendapati Taehyung yang masih duduk merunduk di atas kursi, terlihat merenung.
Langkahnya melaju, kemudian Jeongguk memeluk leher Taehyung dari belakang. Meletakkan dagunya pada pundak Taehyung yang kian merosot tak setegap biasanya. Jeongguk berusaha membuat Taehyung nyaman. Memperlakukan pria-nya selembut yang ia bisa.
Sebenarnya, dirinya ini tak pandai memulai pembicaraan. Sebab selama ini selalu Taehyung yang memulai segalanya. Namun kali ini Jeongguk harus. Sebab ia sudah tersiksa dengan segala diamnya Taehyung padanya.
"Apa Yang Mulia sedang tidak baik-baik saja?"
"Ya." Jawab Taehyung singkat.
"Ingin bercerita? Saya berjanji, seburuk apapun itu tak akan pernah mengurangi kasihku pada Yang Mulia." Tutur Jeongguk lembut.
Taehyung menggenggam tangan Jeongguk yang melingkari pundaknya. Mengusapnya berkali-kali sebelum Taehyung mulai bercerita.
"Aku pernah membunuh lebih dari lima ratus orang. Dan mereka semua adalah musuh kerajaan. Saat aku menebas mereka satu persatu, aku tak pernah memikirkan apakah mereka berkeluarga, apakah mereka mempunyai saudara, apakah mereka mempunyai orang tua, pemikiran-pemikiran seperti itu tak pernah terlintas sama sekali di kepalaku. Sekalipun tak pernah, Jeongguk." Ucap Taehyung dengan nada yang mulai bergetar.
"Tapi hari ini, aku sudah membunuh delapan pria pribumi yang sudah berkeluarga. Artinya, aku membuat delapan wanita di negeri ini menjanda. Jeongguk, sejujurnya aku tak bisa membunuh rakyatku sendiri. Aku sudah memikirkannya berhari-hari namun aku tak punya pilihan lain sebab tindakan mereka yang merugikan istana."
Pertahanan Taehyung hancur. Isakannya mulai di dengar Jeongguk. Taehyung menangis, seperti menyesali tindakannya.
"Aku membenci saat di mana emosi menguasai isi kepalaku. Aku tak pernah menang dalam pengendalian diri, Jeongguk. Aku tak tahu caranya."
Jeongguk merengkuh Taehyung lebih erat. Seakan memberikan kekuatan pada Taehyung yang sedang rentan.
"Yang Mulia sudah melakukan yang terbaik. Bahkan saya masih mengingat perkataan Yang Mulia, bahwa segala sesuatunya harus impas. Ada yang harus dibayar atas tindakan yang sudah diperbuat. Menurutku, itu hukuman yang harus mereka dapatkan. Perihal delapan wanita yang menjanda, itu sudah takdir mereka. Sedangkan Yang Mulia hanyalah perantara. Ini sama sekali bukan salah Yang Mulia."
Tangis Taehyung sedikit mereda. Penuturan dari Jeonguk membuat isi kepalanya damai. "Tolong jangan takut padaku, Jeon Jeongguk. Aku bersumpah hanya memerangi orang jahat saja."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Eden | Tk √
Fanfiction[Taekook Alternative Universe] 14 Masehi Ini berkisah tentang dua anak pribumi beda kasta yang saling mendamba. Tak peduli seberapa mereka sama-sama cinta, semesta akan tetap menjadi saksinya.
