Sebelumnya aku mau menegaskan bahwa sebelum aku publish My Eden aku udah nulis plotnya sampai ending. Jadi sejak awal emang maunya berakhir seperti ini. Bismillah dulu ya sebelum baca, aku tulis trigger warningnya biar kalian bisa memutuskan mau lanjut baca atau udahan.
Tw: Mcd (Major Character Dead), Drama, Angst, Sad, Blood.
Happy Reading
👑
Taehyung menunggangi kuda di tengah derasnya hujan yang membasahi tanah. Dirinya hilang arah. Bayangan akan wajah Taejung yang menjemput maut atas perintahnya sedang menari-nari di atas kepala.
Entah mengapa hal itu membuatnya ingin segera lekas pulang. Sedari ia keluar dari paviliun Raja, relung batinnya gundah tanpa sebab. Tak mengerti akan perasaannya ini. Selama ia hidup, Taehyung tak pernah merasakan debar jantungnya menjadi tak karuan. Maksudnya, ini berbeda halnya dengan saat ia berada di dekat Jeongguk.
Saat dirinya mencium bau khas tanah yang basah akibat hujan deras yang mengguyur setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, tepat di depan gerbang padepokan tempat tinggalnya saat ini yang tengah terbuka lebar, Taehyung mengernyitkan dahi bingung. Ada hantaman yang memukul telak dadanya hingga membuatnya tak bisa bernapas dengan benar tatkala dengan cekatan, ia menuruni kuda dengan manik kembarnya yang menyapu bagian dalam rumahnya yang porak poranda.
Tubuhnya berdiri tegap di ambang gerbang yang tinggi, mulutnya bahkan setengah terbuka ketika melihat beberapa mayat yang menggelepar dan berserakan, tak bernyawa di halaman rumahnya. Ia mengelaninya. Semua itu adalah pelayannya yang bertugas di rumah produksi.
"Apa ini?" bisiknya lirih.
Tak ada orang yang berlalu lalang di depannya. Rumahnya tampak sepi tak berpenghuni. Dengan lidah yang kelu, ia berlari menuju rumah utama untuk mencari keberadaan Jeongguknya. Untuk saat ini, ia harus memastikan bahwa suaminya itu baik-baik saja. Ia tak ingin berpikiran macam-macam dan hanya mempercayai bahwa Jimin akan menjaganya dengan baik.
Saat ia melewati pintu rumahnya yang rusak, Taehyung lagi-lagi melihat mayat dengan darah yang masih mengotori lantai. Pikirannya seketika melompong. Ia masih berusaha menyadarkan dirinya tentang apa yang baru saja ia lihat. Menerka sekiranya apa yang membuat rumah yang susah payah ia bangun kian dihancurkan begitu saja.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Langkahnya pelan melihat satu persatu mayat yang ia kenali. Tubuhnya mematung saat melihat punggung kokoh yang ia kenal. Kedua matanya melebar sempurna. Dengan langkah kuat ia membalikkan tubuh itu dan melihat Paman Lee yang sudah tiada.
"Paman Lee?" panggil Taehyung seraya mengguncang-guncangkan tubuhnya yang lemah. Ia mendekatkan telinganya pada lubang hidung paman Lee untuk memeriksa apakah beliau masih bernapas. Hingga kedua matanya memerah, Taehyung kini hanya bisa merelakan bahwa Paman Lee sudah tak bernyawa.
Ia bangkit menuju kamar miliknya yang tertutup. Saat langkahnya tertahan oleh tubuh Jimin yang menatapnya sendu di daun pintu, Taehyung kembali merasa tak aman.
"Jeongguk di dalam?"
Jimin hanya menunduk tanpa mengucapkan kata yang semakin membuat kedua mata Taehyung memanas.
"Kutanya, suamiku di dalam?!"
Jimin menggeser tubuhnya supaya Taehyung bisa melihat kondisi Jeongguk yang tertidur di atas katil emas. Prianya terlihat cantik dan menawan seperti biasa. Pakaiannya bersih seperti tidak terjadi apa-apa padanya. Awalnya, Taehyung tak bereaksi apa-apa. Namun ketika ia memastikan bahwa leher Jeongguk di bebat kain dengan bercak merah di sana, Taehyung langsung membanting pedangnya dan berlari untuk bersimpuh di pinggir ranjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Eden | Tk √
Fanfic[Taekook Alternative Universe] 14 Masehi Ini berkisah tentang dua anak pribumi beda kasta yang saling mendamba. Tak peduli seberapa mereka sama-sama cinta, semesta akan tetap menjadi saksinya.
