(The Chosen sequel)
- ꜰɪɢʜᴛ ᴏʀ ʙᴇ ꜰᴏʀᴇᴠᴇʀ ꜰᴀʟʟᴇɴ -
***
Setelah berhasil melewati ritual terakhir yang nyaris mempertemukannya dengan kematian, Stela kini dihadapkan pada awal yang baru. Awal di mana ia mempel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku terbangun dengan keringat yang terasa lengket di leher. Tenggorokan kering. Punggung kaku. Napas memburu. Serta perut yang meronta lapar. Apa pun yang baru kusaksikan sebelum kesadaran ini menyerbu, telah membanjiri benakku dengan keping-keping pemahaman yang menghantam bagai hujan ingatan. Sebuah jawaban tak terucap dari tepi kekosongan. Yang membuatku merasa baru saja dikuras habis-habisan, lantas diisi kembali dengan sederet informasi yang tidak menyenangkan.
"Welcome back, sweetheart." Suara Dahlia terdengar menyapa dari sisi kananku. Setengah terkejut, aku segera mendongak untuk melihat dirinya. "Lo benar-benar kacau." Cewek itu berdecak sembari menggelengkan kepala.
Sebentar, bukannya tadi Dahlia tidak diperbolehkan masuk ke ruangan ini? Aku segera mengedarkan pandang ke seantero ruang, lantas terpegun begitu menyadari aku sedang berada di kamar yang mereka pinjamkan untuk sementara waktu. Melalui jendela, kulihat langit telah berubah gelap. Dunia yang seingatku masih pagi kini berganti malam. Kira-kira berapa lama aku terlelap?
"Aiden-"
"Gue di sini." Cowok itu menyahut dari suatu tempat.
Aku bertumpu pada siku, mencoba untuk duduk dan bergeser ke tepi ranjang. "Mereka ... Dyadib, gue tahu-" serbuan rasa sakit mendadak menyerang kepalaku.
"Lo masih dalam tahap mencerna." Aiden melangkah ke sisi Dahlia, mendorong tubuhku kembali berbaring seperti semula dengan lembut. "Jangan dipaksain kalau masih terasa gak nyaman."
Aku meringis pelan sembari memijat pelipis kiriku. "Ini memang terasa aneh, tapi gue baik-baik aja."
"Gak ada yang baik-baik aja setelah keluar dari pengaruh Kubus Metraton." Aiden menampik selagi ia duduk di ujung tempat tidur. "Lo beruntung gak berakhir kayak para Daim di sini setelah proses transformasi selesai."
Aku berusaha membuka mata di tengah sensasi berdenyut-denyut itu. "Emangnya mereka kenapa?"
"Macam-macam," Dahlia menyahut cepat. "Ada yang pingsan sampai beberapa hari, tapi sebagian besar Daim-termasuk gue, bisa dibilang muntah-muntah hebat begitu bangun."
"Yiaks!" Hiro tahu-tahu muncul dari balik punggung Aiden. Kaus hitam lengan panjang yang ia kenakan digulung hingga ke siku. "Menjijikkan sekali."
Dahlia memberinya lirikan garang. "Ucap seorang cowok yang pernah makan semut hidup-hidup."
Hiro lantas terkesiap. "Aku-"
"Oh, yang benar makan crayon?"
"HEI!"
"Berhenti." Aiden menengahi keduanya dengan jengkel. "Ada hal lebih penting yang harus kita tangani saat ini."
Hiro segera beralih ke ujung ranjang di sisi kiri, sembari memberengutkan wajahnya ke arah Dahlia. Lantas merapatkan bibir hingga kedua pipinya sedikit mengembung. Aku mendadak teringat pada Ari dan sifatnya yang terkadang menggemaskan. Meski tak jarang juga ia bertingkah menyebalkan, sekarang aku jadi merindukan anak itu. Kira-kira apa yang sedang dilakukannya saat ini?