27 | KEKUATAN TAK TERDUGA

80 7 0
                                        

Tangisku nyaris pecah saat kulihat wajah-wajah familier berada di hadapanku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Tangisku nyaris pecah saat kulihat wajah-wajah familier berada di hadapanku. Rasanya melegakan sekali melihat tak satu pun dari mereka tampak babak belur setelah dihajar habis-habisan.
Bahkan Hugo–yang tadinya menderita sejumlah luka akibat terpanah–terlihat baik-baik saja tanpa bekas lebam di wajah. Cowok itu sedang duduk sendiri di dekat dinding tebing yang dirayapi dedaunan layu. Sementara Aiden dan yang lain tampak sibuk membersihkan senjata mereka. Belum sepenuhnya menyadari kedatanganku.

“Hei,” Krow yang berjalan di depanku tiba-tiba berbalik, “lelaki yang datang bersamamu itu … apa dia penyihir?”

“Um, dia Nephilim, itu sebutan bagi keturunan malaikat yang memiliki kekuatan magis.”

“Pantas saja cara bertarungnya berbeda.” Krow mengangkat sebelah alisnya, nyaris terlihat kagum.

Seingatku sihir tak begitu dijelaskan di dalam gulungan Tanah Nod. Hanya ada sederet kalimat yang menyebutkan bahwa penghuni Tanah Nod terbiasa bertahan dengan insting mereka, sehingga sihir akhirnya terlupakan. Tak ada penjelasan lain mengapa hal itu bisa terjadi. Tapi kurasa tidak semua orang melupakannya.

Krow mempersilakanku berjalan menuju tenda di depan sana, menghampiri teman-temanku yang masih belum menyadari kedatangan kami. Sementara dirinya terus mengekoriku dalam diam.

Dahlia menjadi orang pertama yang menoleh ke arahku. Seakan aku telah memasuki radar waspadanya. Yang lain baru mendongak ketika Dahlia meletakkan senjatanya secara asal, lantas berlari menghampiriku sebelum aku sempat mencapai posisi mereka.

“Stela! Lo baik-baik aja?!” tanyanya dengan kedua tangan meremas bahuku pelan. “Lo masih bisa … mengendalikan diri, kan?”

“Ya, dan ya.” Aku mencoba tersenyum.

Ada secercah ketakutan yang kutangkap dari sorot mata Dahlia. Bukan jenis takut yang disebabkan oleh kekhawatirannya pada kondisiku, tetapi lebih seperti ia takut padaku. Pada sosok sejatiku. Dan pengendalian diri yang Dahlia maksud jelas-jelas cuma kewarasanku–yang sepertinya sudah mulai terganggu. Aku jadi merasa bersalah atas insiden waktu itu.

“Syukurlah.” Dahlia bergerak memelukku. “Kami pikir iblis itu udah membajak pikiran lo.”

“Membajak?” Aku menggeleng. “Gue rasa itu cuma karena senjata–”

“Senjata apa?” suara Aiden menyela tanpa basa-basi. Rupanya cowok itu sudah berdiri di belakang Dahlia. Menatapku dengan tajam dan terlihat cukup berang. Seharusnya aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Aiden pasti mengira aku sudah mulai menggila karena tercemar kekuatan Astaroth. Masalahnya, menyaksikan mereka semua disiksa tanpa henti juga bisa membuatku merasa sinting.

“Dengerin gue dulu,” ucapku takut-takut pada cowok itu. “Waktu gue sama Hugo nemuin jalan masuk ke tempat kalian ditahan, gue dapat semacam penglihatan tentang sepasang senjata.”

Aiden mendengus, seolah sudah menduga aku akan berkata seperti itu. “Jadi lo mau bilang kalau makhluk-makhluk itu gak ada hubungannya sama Astaroth?”

THE WATCHERSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang