43 | JALUR MENUJU THORGOR

30 6 3
                                        

"Itu pertanda sihir

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Itu pertanda sihir."

Krow memperingati kami sehingga waktu istirahat terpaksa dipangkas. Aku masih merasa lelah begitu kami kembali berjalan. Tapi lebih baik memaksakan diri melangkah dari pada menemui pencetus 'tanda sihir' itu.

Ili-Bani menjelaskan bahwa kami sedang dilacak Bailshaar; para tangan gaib keturunan Ordurk. Orang-orang yang terlahir dalam kondisi semacam penyihir. Yang kemudian diperalat oleh petinggi Izhtad. Mereka dikabarkan memiliki kemampuan berinteraksi dengan bangsa djin. Bersekutu. Dari situlah mereka dapat menemukan keberadaan seseorang.

"Seharusnya mereka tak bisa melacak kita," Ili-Bani berkata gelisah, "roh bayang pasti membantu para pengkhianat itu."

Mengingat Hin dan Bin berusaha menghalangi kami, hal itu cukup menjelaskan mengapa sihir mereka bisa tiba di sini. Pemimpin Izhtad jelas tak sabar melengkapi koleksi batu Mirah yang terakhir. Simbol yang kelak mengukuhkan kekuasaannya atas tanah Nod. Bila memang roh bayang mendukung mereka, Krow memperkirakan kami pasti bertemu tak lama lagi.

"Kita tak boleh membiarkan kejadian lama terulang, Krow. Tidak dengan kehadiran Seeza sebagai satu-satunya peluang kita."

"Aku tahu," Krow mengangguk tenang, namun sorot matanya dipenuhi kebencian. "Kali ini kupastikan merekalah yang akan kecolongan."

Aku tak yakin aku memahami apa yang Krow maksud dengan 'kecolongan'. Apa ia mau aku mencuri batu itu? Kedengarannya menarik—meski agak mustahil. Sekarang saja aku sudah mengkhawatirkan dua hal: apa yang akan kami hadapi di hutan Thorgor—bagaimana aku akan melawan musuh bebuyutan Krow dengan tanganku sendiri.

Andai saja cincin sakti itu bisa kugunakan. Sayangnya, benda itu bagai artefak tua yang tak lagi berfungsi. Entah dibutuhkan mukjizat untuk membuatnya bekerja, atau kami saja yang tidak tahu cara mengaktifkannya. Tak ada satupun petunjuk mengenai hal itu. Jadi harapanku kini tersisa pada Helda. Semoga pria itu dapat memberiku petunjuk baru sebelum kesialan berikutnya tiba.

"Ada yang tidak beres."

Krow melambatkan langkah. Mata waspadanya menjelajahi pepohonan besar di sekitar kami. Dahan-dahannya membentang rapat, membiaskan rona hijau kekuningan dari cahaya matahari yang terhambat. Suhu tak lagi segerah sebelumnya. Berganti dengan hawa sejuk yang berembus dari arah sebuah setapak: jalur menuju kedalaman hutan Thorgor. Kabut tipis melayang rendah di dekat sana. Kuharap itu bukan kesialan yang baru saja kupikirkan.

Di sini, tumbuhan tampak lebih besar dari hutan lainnya. Lebih subur. Bentuk dan warna-warnanya juga tak lazim. Seolah menyatakan mereka berasal dari suatu zaman yang sangat tua. Yang seharusnya telah punah—hilang di ingatan. Alih-alih tetap ada dan memancarkan pesona primitif yang begitu kuat.

"Di mana kawanan Vorgol itu?" Ili-Bani turut mencari-cari.

Ada banyak jejak lumpur yang mengering di sekitar sini. Semuanya mengarah ke jalur berkabut. Melintasi dedaunan lebar yang tampak terkoyak. Tangkai-tangkainya mencuat patah, mengeluarkan getah hitam yang mengental.

THE WATCHERSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang