![]()

"Lari ke sini, bodoh!"
Seorang pria terdengar berteriak. Aku tak dapat melihat di mana sosoknya berada, sebab aku terlalu sibuk menghindari kejaran para monster yang tengah dihadang Hugo.
Makhluk-makhluk setinggi dua meter itu memiliki empat kaki yang menyerupai kaki laba-laba, setiap ujungnya meruncing tajam. Sementara bagian tubuh mereka hanya terdiri dari leher dan kepala, tanpa mata, dilapis oleh cangkang keras yang dapat menembakkan duri sepanjang sedotan. Kurasa terkubur hidup-hidup di bawah bukit ini lebih baik daripada harus menghadapi mereka.
"Stela, cepat sembunyi di celah itu!" seru Hugo setelah ia melempar tiga monster ke segerombol pria yang baru saja muncul dari dalam bukit.
Aku segera menurutinya. Celah itu berada di antara dua batu besar, dengan luas yang hanya bisa menampung satu orang. Posisinya lumayan tersembunyi, namun aku masih dapat melihat apa yang terjadi di luar sana. Hugo terus menyerang pria-pria berjubah itu dengan lemparan monsternya. Beberapa di antara mereka terjatuh seperti pin-pin bowling, tapi lebih banyak lagi yang terlihat siaga.
"Tangkap dia, dasar tidak berguna!" Suara kasar itu kembali memerintah.
Ketakutanku praktis memuncak saat lima pria yang membawa pedang muncul untuk mengepung Hugo. Mereka menyerang cowok itu secara bergantian, dalam tempo yang begitu cepat. Pedang-pedang mereka berkelebat bagai bayangan. Salah satunya bahkan nyaris menebas tangan kanan Hugo. Tapi ia berhasil meraih jubah pemiliknya, lantas membanting pria itu ke rekan di sebelahnya. Membuat keduanya terlempar tepat ke mulut seekor monster yang sedang menganga. Merasa ngeri, aku buru-buru mengalihkan pandangan.
Tiga pria yang tersisa mulai meningkatkan serangan mereka. Teriakan-teriakan murka bergaung seolah membelah udara. Mengikuti gerakan pedang yang diayunkan dengan membabi buta. Orang-orang itu sungguh mengerikan. Salah langkah sedikit saja, bisa dipastikan lawan mereka mati tercincang. Tapi untungnya, lawan mereka kali ini bukan manusia biasa.
Meski terlihat seperti menahan sakit, Hugo masih mampu menangkis setiap hunusan. Gerakan cowok itu tak kalah lincah saat ia memberi serangan balik. Namun di waktu yang sama, mereka juga berhasil menekan Hugo ke belakang. Dan terus membuat cowok itu termundur hingga mereka nyaris mencapai posisiku. Lalu salah satu pria berjubah itu melihatku.
"Dia di sini!" pekiknya ke sisi di mana komplotannya berkumpul.
Saat kupikir nasib kami akan segera tamat, kilatan biru tiba-tiba meledak dari kedua tangan Hugo, melempar ketiga pria itu ke berbagai arah yang berbeda. Tak satu pun di antara mereka ada yang kembali bangkit. Setelah itu, kusadari Hugo mulai kewalahan. Langkahnya yang terlihat agak goyah seolah menandakan ia sudah mencapai batasannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE WATCHERS
Fantasy(The Chosen sequel) - ꜰɪɢʜᴛ ᴏʀ ʙᴇ ꜰᴏʀᴇᴠᴇʀ ꜰᴀʟʟᴇɴ - *** Setelah berhasil melewati ritual terakhir yang nyaris mempertemukannya dengan kematian, Stela kini dihadapkan pada awal yang baru. Awal di mana ia mempel...
