13 | PESAN DARI MIMPI

108 15 4
                                        

Jika pergi ke Legiun bersama Aiden memakan waktu cukup lama, lain ceritanya kembali ke tempat itu bersama Hasta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jika pergi ke Legiun bersama Aiden memakan waktu cukup lama, lain ceritanya kembali ke tempat itu bersama Hasta. Entah bagaimana caranya, aku kini berada di tengah-tengah kegelapan. Padahal beberapa saat lalu aku masih tergeletak di lantai Amtrum.

Kegelapan yang mengepungku untungnya bukan jenis yang membutakan. Setelah menunggu sampai kedua mataku dapat menyesuaikan penglihatan, kusadari aku sedang berbaring di sebuah ruang yang cukup luas. Langit-langitnya tampak seperti bagian dalam gua. Tinggi. Dipenuhi stalaktit. Sedangkan dinding dan lantainya terbuat dari batu kasar yang dingin membeku di bawah kulitku. Pantas saja punggungku terasa tak nyaman. Berguling ke samping, kusadari ikatan Simpul Gordian telah lepas dari tangan dan kakiku. Menyisakan sensasi nyeri yang tak lagi berarti.

Aku memindai tempat ini sekali lagi. Berusaha menemukan Aiden dan yang lainnya, berikut jalan keluar untuk menyelamatkan diri. Namun tidak adanya sumber cahaya membuat hal itu terasa sulit. Segalanya terlihat disamarkan oleh keremangan dan bayang-bayang gelap. Hanya deru napasku yang terdengar mengusik kesunyian. Ketakutan mulai memenuhi benakku.

Di mana sebenarnya aku berada?

"Halo."

Aku terperanjat menghantam dinding belakang, lantas menoleh ke arah sumber suara dengan degup jantung yang memompa laju. Ya Tuhan. Ternyata sejak tadi aku tidak pernah sendiri.

"Tenang," suara itu berkata lagi. Suara seorang lelaki. Asing.

Aku berusaha mengumpulkan keberanian, meski rasanya sia-sia saja. Berdiam diri jelas bukan pilihan tepat saat ini. Si pemilik suara itu bisa saja orang jahat yang akan menyakitiku tanpa ampun.

"Jangan mendekat."

Suara langkah diseret terdengar satu kali, lalu hening.

"Lucu sekali," lelaki itu terkekeh pelan. Suara tawanya membuat sekujur tubuhku merinding.

"Apanya yang lucu?"

"Kamu, Stela."

Aku tertegun. Merasa dua kali lebih gelisah dari sebelumnya. Terlepas bagaimana lelaki itu bisa mengenali diriku, tampaknya ia tahu tentang siapa aku sebenarnya-dinilai dari caranya menyebut namaku dengan mencurigakan.

"Aku ada di sekelilingmu tapi kamu meminta aku tidak mendekat, bagaimana mungkin?" ia terkekeh lagi.

Sepertinya tempat ini bukan bagian dari Legiun. "Di mana saya sekarang?"

Lelaki itu berdeham. "Hmm, sepertinya ini pikiran kamu."

Aku mengernyitkan dahi. "Maksudnya?"

"Kita ... berada ... di dalam ... kepala kamu." Lelaki itu melambatkan tempo bicaranya seolah aku ini dungu. Tetapi jawabannya barusan mendadak membuatku merasa seperti itu.

"Kepala sa-" aku terhenti, mendadak menyadari sesuatu. "Jadi ini cuma mimpi?"

"Entahlah, apa kamu pernah menanyakan hal seperti itu di mimpi kamu?"

THE WATCHERSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang