19 | GULUNGAN TANAH NOD

80 12 1
                                        

"Stela!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Stela!"

Aku tersedak dan terbatuk dengan keras. Air memenuhi hidung, tenggorokan, serta kedua mataku, sampai-sampai aku merasa seperti tercekik. Seseorang dengan cepat mengubah posisiku–yang tadinya berbaring telentang–menjadi duduk dengan sedikit membungkuk. Aku langsung terbatuk-batuk mencari udara. Lalu belaian lembut terasa di punggungku. Begitu tenang hingga kurasakan dadaku tak lagi sesak.

"Cari tempat untuk berteduh!" suara Aiden terdengar memerintah di tengah-tengah berisiknya curah hujan yang deras.

"Kamu gak pa-pa?"

Aku menoleh ke samping, mendapati Hugo sedang menatapku khawatir. Sebelah tangannya masih berada di punggungku. Sementara satu lagi menahan jaket yang menaungi kepala kami dari lebatnya hujan disertai angin kencang. Aku mengerjap, menyingkirkan genangan air di mataku dengan punggung tangan.

"Kita berhasil masuk ke Tanah Nod?" tanyaku dengan suara gemetar.

Cowok itu mengangguk. "Kita perlu mencari tahu di mana posisi kita sekarang."

Aku menepuk-nepuk saku jaketku. Menyadari Gulungan Tanah Nod dan batu Mirah sudah ada di dalam sana entah sejak kapan. Aku tak ingat pernah mengantongi kedua benda itu setelah serbuan asap kelabu tadi.

"Oza nemuin celah di ujung sana, ayo!" seru Aiden pada kami.

Hugo menarik tanganku untuk berlari bersamanya. Embusan angin seketika meraung-raung seperti murka. Aku tak bisa melihat dengan jelas ke mana kami melangkah. Tirai hujan ini terlalu lebat untuk ditembus mata manusiaku. Jadi sepanjang jalan aku hanya melihat ke bawah, pada tanah hitam yang terasa sekeras batu cadas.

"Ini gua buntu! Tidak ada makhluk apa pun yang pernah menghuninya!" Oza memberi laporan pada Aiden sewaktu kami mendekat.

Tanpa ragu lagi, kami semua bergegas menghambur ke dalam. Tepat saat hujan di luar sana berubah menjadi badai mengerikan. Aiden mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya: batu petir. Cahaya kebiruan langsung menerangi seisi gua dengan benderang.

"Ada manfaatnya juga bawa benda itu ke tempat Yang Bukan Duniawi." Dahlia berdecak kagum. Tidak seperti kami yang basah kuyup, ia dan Hiro tampak kering dari kaki hingga kepala.

"Er, Stela, kayaknya lo perlu dikeringkan dulu." Dahlia menarik jubah dari balik punggungnya, lalu mengulurkan kain bertudung itu padaku. "Ini bisa menyerap air, cukup selimutkan aja ke seluruh badan lo dan–ah, sini gue bantu."

"Makasih." Aku baru menyadari betapa kedinginannya diriku setelah mendengar gigiku bergemeletuk.

Hiro menyerahkan jubah miliknya pada Aiden, yang langsung ditolak mentah-mentah oleh cowok itu. Oza juga melakukan hal serupa. Tapi Ronen menyambar jubah itu sebelum Hiro repot-repot menawarkan. Aku melirik Hugo, cowok itu sepertinya tidak keberatan bila seluruh pakaiannya basah. Ia duduk tak jauh dariku, bersandar ke belakang dengan rambut yang masih meneteskan air. Jaketnya dibiarkan tergeletak di atas tanah.

THE WATCHERSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang