(The Chosen sequel)
- ꜰɪɢʜᴛ ᴏʀ ʙᴇ ꜰᴏʀᴇᴠᴇʀ ꜰᴀʟʟᴇɴ -
***
Setelah berhasil melewati ritual terakhir yang nyaris mempertemukannya dengan kematian, Stela kini dihadapkan pada awal yang baru. Awal di mana ia mempel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Reruntuhan batu berjatuhan membelah kabut. Tak satu pun ada yang mengenai tubuhku.
Saat aku memerintah Sabbathi untuk mengeluarkan kami dari sisi lain, aku tak mengira itu berarti ledakkanlah-tempat-ini-sampai-tak-bersisa. Kepungan kabut yang tadinya pekat seketika lenyap, berganti dengan keremangan cahaya oranye dari kejauhan. Aku menurunkan kedua tangan yang kusilang di depan wajah, takut terkena imbas ledakan buatan Sabbathi. Dan menyadari kami tiba di waktu yang tepat.
Sejumlah sosok setipis asap dengan wajah berang-mirip neraca-tampak mengepung kami. Na-id. Tangan mereka mengeluarkan uap yang mendesis-desis-gelombang panas, kutebak itu senjata mereka.
Meski Krow bilang Na-id tak bisa diilawan dengan senjata, aku tetap menyiagakan Sabbathi sebelum makhluk itu memberi serangan. Sementara teman-temanku masih terperangah menatapku. Jelas tak mengira kemunculanku yang mendadak mutan begini. Kuharap mereka tak menganggapku menggila.
"Ini karena bantuan Helda," jelasku pada mereka, setengah berteriak. "Efeknya cuma sebentar, kita harus cepat!"
Salah satu Na-id melempar serangan ke arahku. Sabbathi yang membawa kapak segera menangkis bola gas-nya seperti pemain bisbol memukul bola. Kemudian ia lenyap. Si prajurit pembawa kapak maksudku, bukannya roh kabut yang mengepung kami.
Pemandangan itu praktis membuat teman-temanku tersadar. Mereka segera mengambil tempat di sekelilingku-nyaris bersamaan. Turut menyiagakan senjata yang berkilat-kilat marah. Hanya Hugo satu-satunya yang kulihat tak mengacungkan senjata. Duh, untuk apa juga memegang senjata kalau kau saktimandraguna. Aku merasa dungu sempat memikirkan ini.
"Pertahankan konsentrasi kamu," Hugo mengingatkanku dan aku bergegas memalingkan wajah darinya agar tetap fokus. Maklum, sebagian diriku gampang terpengaruh pada kehadirannya.
"Seeza! Alihkan perhatian mereka supaya kita bisa kabur ke situ!" Seru Krow sambil menunjuk ke jalur yang terhalang dua sosok Na-id.
Aku mengacungkan jempol pada Krow, dan dengan tiga Sabbathi yang tersisa, kuperintahkan mereka untuk membukakan jalan bagi kami. Pada detik itu pula mereka maju dengan serangan yang mengacaukan formasi Na-id. Senang rasanya tak ada tarikan yang mengganggu dari dasar perutku.
Selagi Sabbathi menahan sekumpulan asap tipis yang murka itu, Krow bersorak memimpin jalan. Aku berlari di posisi paling belakang, memastikan tak ada Na-id yang bisa menjangkau kami. Tangan-tangan mereka terjulur melempar banyak serangan. Satu lagi Sabbathi memudar ditelan gelombang panas. Kepergiannya meninggalkan selapis perisai yang menahan embusan hawa panas dariku.
"Cahaya! Kita sudah dekat!"
Entah siapa yang berteriak, aku tak begitu mendengarkan. Pergerakan energi di dalam tubuhku mulai terasa melemah. Garis-garis keperakan yang berpendar di kulitku turut meredup. Gawat. Aku menoleh ke balik punggung, menyadari serangan dua Sabbathi juga tidak segencar sebelumnya. Namun aku tahu masih ada yang bisa kulakukan untuk membawa kami keluar dari gua ini. Sebelum semua berakhir celaka.