42 | KISAH SERAM JAHRAD

73 7 6
                                        

Kami melanjutkan perjalanan begitu waktu dingin berakhir

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kami melanjutkan perjalanan begitu waktu dingin berakhir. Mendung yang tadinya berpusat di puncak Urkurd rupanya telah menyebar ke berbagai penjuru. Sebagian tampak memudar menjadi guratan kelabu.

Tanpa kehadiran Dabilgru, gunung Urkurd kehilangan kesan mengerikannya. Pemandangan kelam yang sempat menaunginya sepenuhnya sirna. Membuatku penasaran pada nasib tanah terlarang jika seluruh benda Zhmersine lenyap.

Para monster barangkali bisa memasuki area ini.

Sisa-sisa hujan masih terlihat di sepanjang jalur menuju hutan Thorgor yang berlumpur. Kami terpaksa melambatkan langkah sampai menemui jalur yang lebih kering, tepat di sisi sebuah sungai berair gelap. Arusnya tampak tenang.

"Kita pasti sampai lebih cepat kalau ada perahu," celetuk Aiden yang berjalan di depanku. Kemudian ia menoleh pada Hugo, "Lo punya sesuatu yang bisa ngapung di air?"

Hugo mengangguk. "Saya punya yacht di Ischia."

Senyum palsu terbit di wajah Aiden. "Maksud gue yang mirip kunci kabin lo itu."

"Gak sempat koleksi."

Aiden memutar mata, lalu beralih padaku. "Coba tanya Krow apa dia tahu perahu."

Mengingat gaya hidup mereka yang mengandalkan alam, seharusnya mereka punya sesuatu mirip perahu di sini. Pria besar itu mengajakku mendekati tepian sungai selepas aku bertanya. Yang lain tetap di posisi masing-masing, mengamati kami penasaran.

"Salah satu alasan mengapa monster menjauhi Jahrad adalah ini," Krow melambai sekilas ke arah sungai, "coba kau perhatikan."

Pria itu mengambil sehelai daun kering di dekat kaki kami, lantas menjatuhkannya ke permukaan sungai yang bersih. Tanpa embusan angin, daun itu mendarat lebih cepat. Aku terus memerhatikan ketika arus mulai menyeretnya menjauhi tepian. Dan tetap memerhatikan sampai sesuatu terjadi.

Sebuah pusaran air mendadak muncul dari bawah daun. Mengisapnya ke dalam putaran yang cepat, membentuk sebuah lubang lebar di tengah-tengah sungai. Lubang yang tampak dalam dan mengerikan. Aku sontak termundur, nyaris tersandung kakiku sendiri.

"Kami menyebutnya Kuwurah, lubang pelahap."

Aku menatap pusaran itu dan Krow bergantian. "Apa ada makhluk lain di dasar sana?"

"Entahlah," Krow menggeleng. "Lubang itu selalu muncul saat ada yang menyentuh permukaan sungai. Jadi tak satupun benda dapat mengapung di sini. Kami memanfaatnya untuk melenyapkan mayat musuh. Sangat membantu."

Aku berusaha menjaga raut wajahku tetap datar. Dalam hati menebak-nebak itukah alasan mereka berani memasuki Jahrad? Demi mengenyahkan mayat?

Pria itu mengajakku kembali bergabung dengan yang lain. Mereka masih asik memerhatikan pusaran Kuwurah yang perlahan-lahan menghilang. Ketika aku menoleh untuk kedua kalinya, permukaan sungai itu sudah kembali tenang.

THE WATCHERSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang