(The Chosen sequel)
- ꜰɪɢʜᴛ ᴏʀ ʙᴇ ꜰᴏʀᴇᴠᴇʀ ꜰᴀʟʟᴇɴ -
***
Setelah berhasil melewati ritual terakhir yang nyaris mempertemukannya dengan kematian, Stela kini dihadapkan pada awal yang baru. Awal di mana ia mempel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kami diikuti.
Aku tak berani menoleh ke belakang untuk sekedar mengecek seberapa dekat si penguntit itu dengan kami. Derap langkah kakinya terdengar berdentum-dentum bagai batu yang berguling ke arah kami. Kami–ya ampun. Aku dan Hugo terus berlari tanpa henti. Tanpa sempat memedulikan apa yang terjadi pada teman-teman kami di belakang sana. Pada apa yang sedang mereka hadapi berlima. Kedengarannya cukup egois, tapi Hugo meyakinkanku bahwa Aiden dan para Daim itu bisa melindungi diri mereka dengan baik. Tidak seperti aku. Si manusia yang tidak memiliki kemampuan bertarung selain kabur.
Sebuah anak panah sekali lagi melesat di antara kami. Nyaris saja menyentuh bahu kiriku. Sementara si penguntit terdengar memaki-maki di belakang sana.
"Saya akan mengecoh dia," Hugo berkata dengan suara stabil meski kami terus berlari. "Kamu gak boleh berhenti, oke?"
"Tapi–"
"Saya akan nyusul kamu secepatnya."
Hugo melepas genggamannya dari tanganku. Dan kurasakan kecepatan lariku jadi tidak sekencang saat bersamanya. Aku ingin berpaling untuk melihat apa yang sedang ia lakukan, tapi aku mendapati diriku menuruti ucapannya untuk terus berlari.
Pepohonan kuno di sekelilingku berkelebat seperti bayangan–selagi aku menempuh jalur sempit yang dipenuhi semak-semak rendah. Jenis tanaman liar yang berduri tajam. Tapi aku tak sempat memedulikan itu sebab aku terlalu kalut menentukan arah langkahku. Segalanya terlihat sama saja di sini. Hijau, menyesatkan, tak berujung. Lalu kudengar suara dahan-dahan patah dari belakang sana. Memecah kesunyian hutan bersama bunyi kepakan sayap dari puncak pepohonan.
Aku mendongak, berusaha melihat dari sela sela dedaunan. Puluhan ekor burung tampak terbang menjauh menuju sisi kananku. Aku pernah mendengar tentang hewan yang berusaha menemukan tempat aman setelah merasa terancam oleh sesuatu. Jadi kuputuskan untuk berlari ke arah yang dituju burung-burung itu. Sialnya, karena sibuk mendongak, enam langkah kemudian aku malah terpeleset.
Aku terjatuh ke balik semak–yang ternyata menyembunyikan dataran yang lebih rendah, lantas meluncur ke bawah dan mendarat pada sebuah kolam lumpur dengan posisi terduduk. Terlepas dari rasa nyeri yang kurasakan, aku bersyukur kolam ini dangkal. Dalamnya kira-kira hanya sebatas betisku. Berwarna hitam pekat, dan agak berbau amis. Saat aku mencoba berdiri, ada sesuatu yang menyentuh pergelangan kakiku. Rasanya dingin. Licin. Mirip sesuatu yang hidup dan dapat merayap.
Panik, aku menggeliat menarik kakiku sambil bergerak mundur. Berusaha keluar dari kubangan kolam sialan ini, namun padatnya lumpur cukup menghambat gerakanku. Sementara sesuatu di dalam sana masih menggapai-gapai kakiku. Jangan bilang itu lintah pengisap darah atau ular! Aku nyaris menjerit memanggil nama Hugo, kalau saja aku tak mengingat kehadiran para penyerang kami. Alih-alih selamat, aku barangkali tamat kalau sampai mereka yang lebih dulu menemukanku.
Sembari mengerang menahan ngeri–sekaligus jijik, aku menghentakkan kedua kakiku kuat-kuat pada apa pun yang ada di bawah sana. Berkali-kali, hingga sentuhan dingin itu tak terasa lagi. Aku bergegas mengambil langkah lebar-lebar menuju tepian. Berharap sesuatu di dalam lumpur itu tak dapat mengejar.