(The Chosen sequel)
- ꜰɪɢʜᴛ ᴏʀ ʙᴇ ꜰᴏʀᴇᴠᴇʀ ꜰᴀʟʟᴇɴ -
***
Setelah berhasil melewati ritual terakhir yang nyaris mempertemukannya dengan kematian, Stela kini dihadapkan pada awal yang baru. Awal di mana ia mempel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Embusan angin kencang menampar wajahku, menyisakan dingin yang terasa menggigit kulit. Menengok ke atas, kulihat hamparan awan kelabu bergulung-gulung rendah, berarak menuju kaki langit yang menggelap di kejauhan. Pada beberapa titik, cahaya matahari tampak jatuh dari sela-selanya. Mendarat tepat ke arah bebatuan di mana aku sedang terduduk sendiri.
"Kita sudah semakin jauh."
Sebuah suara berkata dari balik punggungku. Menoleh ke belakang, kulihat dua sosok berjubah hitam sedang berdiri di dalam naungan kabut-saling berhadapan. Aku tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa atau penampilan mereka. Tetapi keduanya tampak begitu tinggi dan-anehnya-terasa dipenuhi kegelapan.
"Hanya masalah waktu sampai kita semua diasingkan ke dalam jurang kekacauan itu."
"Itu tak akan terjadi."
"Itu pasti terjadi! Selama kita tak melakukan apa pun dalam melawan takdir-Nya, kita pasti berakhir seperti putra Adam yang terbuang."
"Setidaknya kita masih memiliki masa pengampunan."
Sosok yang berdiri di sisi kiri menggeleng cepat. "Ia telah meninggalkan kita, apa kau lupa?Ia tak akan mengasihi kita lagi, tak akan ada pengampunan apa pun, semuanya sudah berakhir!"
Sosok yang satu lagi terdiam sejenak. Seolah merenungkan perkataan lawan bicaranya yang digebu emosi.
"Lalu apa rencanamu, Fuchiel?"
"Kau sudah tahu jawabannya."
Gemuruh petir terdengar dari atas sana.
"Hanya ini pilihan yang tersisa, kau harus memikirkan keselamatanmu." Sosok Fuchiel kini memudar menjadi bayangan tipis, namun suaranya masih terdengar jelas saat ia berkata, "waktumu tak lagi banyak."
Seperginya sosok Fuchiel, sosok berjubah itu perlahan beralih ke arahku. Seakan ia telah mengetahui keberadaanku di sini sejak awal. Sembari bergidik, aku menunggu apa yang akan ia lakukan padaku. Namun sosok itu hanya diam bagai patung. Ia tak mendekat barang seinci pun. Dalam kegelisahan, aku bisa merasakan tatapannya dari balik bayang-bayang gelap yang menaungi wajahnya. Lalu tangan kanannya terulur ke depan, menampakkan sebuah benda yang berkilau semerah darah.
"Melalui setetes darah mereka dikutuk, melalui setetes darah pula mereka dibebaskan."
Suaranya terdengar langsung di dalam kepalaku. Begitu menggema sehingga kupikir akulah yang mengucapkannya. Kemudian, kurasakan sebuah getaran mengguncang bebatuan di sekitar kami. Mulanya hanya pelan. Detik berikutnya, getaran itu berubah menjadi gempa hebat. Retakan demi retakan muncul bersama gemuruh dari dalam tanah. Sementara udara mengembuskan hawa panas. Ini sungguh mengerikan. Langit di atas sana bahkan terlihat goyah. Garis-garis kilat berkelebat membelah awan badai. Dunia seolah sedang runtuh.
"Hanya ketika ketiga bagian disatukan, segalanya akan terungkap."
Aku mencengkeram kerikil di kedua sisiku, mencoba bertahan dari getaran hebat itu sebisa mungkin. Lalu, dari tubuh sosok itu terpancar nyala api yang semakin kulihat, semakin terasa membutakan. Bergegas kuangkat sebelah tangan ke depan wajah, berusaha menghalau silau sambil mengintip melalui celah jemari. Sosok itu tengah melebur bersama kabut yang melingkupinya.