30 | JALAN PINTAS

57 7 1
                                        

Satu Qisad sudah berlalu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Satu Qisad sudah berlalu.

Kami baru saja melanjutkan perjalanan setelah Krow memastikan tak ada monster lain yang berkeliaran di jalur yang akan kami lalui. Wilayah di sini dikuasai oleh makhluk-makhluk yang lebih agresif. Lebih kuat. Jumlah mereka juga lebih banyak. Menghadapi kawanan monster itu hanya berarti membuang-buang tenaga. Jadi kami menghindari mereka sebisa mungkin.

Aku belum tidur sejak kami memulai perjalanan ini. Tak satu pun di antara kami ada yang tidur. Rasanya terlalu tegang untuk memejamkan mata. Kami hanya berhenti untuk beristirahat. Membiarkan para Yujaq menarik napas sebelum kaki-kaki kokoh mereka kembali menyeret kami di bawah terik yang membakar.

Krow sempat menjelaskan padaku bangsa mereka sudah mencoba banyak monster untuk dijadikan tunggangan. Dari sekian banyak monster tersebut, hanya Yujaq yang mampu bertahan diterpa suhu panas. Aku bertanya bagaimana mereka bisa melakukannya? Krow bilang sederhana, Yujaq mampu beradaptasi lewat naluri bertahan mereka.

Hal itu lantas mengingatkanku pada latihan kesadaran yang kemarin gagal kulakukan. Apa bentuk pertahanan diriku sewaktu merasakan serangan energi Hugo? Tidak ada. Jika pingsan bisa disebut sebagai pertahanan diri, kurasa aku cukup berbakat untuk yang satu itu. Berbakat dalam dikendalikan rasa sakit.

Kami kembali beristirahat saat menemukan sebuah celah, lalu melanjutkan perjalanan sampai Hamed–waktu dingin–mulai mengembuskan kedatangannya. Ketika awan mendung membentang di atas kepala kami, para Yujaq perlahan mengurangi laju mereka.

"Kita hampir sampai!" Krow berseru dari depan barisan. "Mereka tak bisa berlari lebih jauh lagi, jadi bersiaplah!"

Meski tak ada perbedaan yang mencolok di lingkungan sekitar, kegelisahan yang terpancar dari kawanan Yujaq cukup menyatakan kami sudah mendekati wilayah terlarang. Satu persatu makhluk itu mulai mengerang menyedihkan. Pandangan mereka tak lagi sefokus sebelumnya. Mereka takut. Begitu pula aku.

Tubuhku sedikit terdorong saat Yujaq yang membawa aku dan Hugo berhenti berlari. Cowok itu menahan tanganku dipinggangnya–erat, mencegah diriku dari jatuh terjerembab. Kami berhenti di posisi paling belakang.

"Kamu gak apa-apa?" Hugo menoleh sekilas.

"Ya," aku bersandar pada punggungnya, menghela napas lega.

Omong-omong Hugo tak lagi mendiamkanku sejak kami beristirahat kemarin. Cowok itu rupanya cuma mengikuti kemauanku untuk berjauhan di depan Aiden. Bukannya merajuk seperti yang kukira. Memalukan sekali sudah berburuk sangka.

Mengikuti yang lain, kami melompat turun dari punggung Yujaq. Para pengikut Krow bergegas melepas seluruh perlengkapan yang mereka pasangkan pada makhluk itu. Aku merasa sedikit iri saat melihat mereka berlari kembali ke arah kami berasal. Menjauhi bahaya apa pun yang sudah menanti di depan sana. Angin yang bertiup kencang mengiringi kepergian Yujaq secepat larinya. Sekarang kami harus bergerak dengan kaki-kaki kami sendiri.

THE WATCHERSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang