(The Chosen sequel)
- ꜰɪɢʜᴛ ᴏʀ ʙᴇ ꜰᴏʀᴇᴠᴇʀ ꜰᴀʟʟᴇɴ -
***
Setelah berhasil melewati ritual terakhir yang nyaris mempertemukannya dengan kematian, Stela kini dihadapkan pada awal yang baru. Awal di mana ia mempel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku pernah mendengar beberapa kisah tentang penciptaan. Bagaimana dunia ini bermula dari kekosongan, dari kekacauan, dari keteraturan, bahkan dari pembunuhan. Semua itu kemudian berujung pada hadirnya kefanaan: manusia. Namun tak banyak yang bercerita apa saja yang tercipta selama proses itu berlangsung.
Sebelum cahaya membentuk malaikat, sebelum api mengobarkan iblis, sesuatu sudah diijinkan untuk ada. Dan apa pun yang sedang menghampiri kami di gua Na-id ini, ia mungkin salah satunya.
"Serafim."
Suara itu bergaung di sekeliling kami. Nadanya serupa bisikan, tapi ucapannya terdengar sejelas lemparan batu. Merasa terancam, kami segera merapatkan diri pada dinding gua. Membentuk sebuah barisan rapat–terlepas itu berguna atau tidak. Aku masih berdiri di balik punggung Hugo dan Aiden. Gemetar. Keringat dingin meluncur melewati tengkuk dan punggungku saat suara yang sama kembali menggema.
"Kalian telah melampaui batas."
Nyala merah itu berhenti di hadapan kami. Berdesis-desis. Menatapnya lebih lama hanya membuat kepalaku pening. Jadi aku menundukkan pandangan. Saat itulah aku sadar telah melakukan kesalahan.
Kedua kakiku mendadak terasa lemah, nyaris mati rasa. Seolah keduanya terbuat dari sekumpulan asap tipis, bukannya tulang dan daging. Dalam sekejap, aku kehilangan kemampuan untuk berdiri. Tubuhku tumbang tanpa perlawanan.
"Stela!" Hugo menangkap bahuku tepat sebelum aku jatuh terduduk.
Mataku kembali mendarat pada api tak berasap itu. Namun tak seperti sebelumnya, kobaran itu kini bergolak seakan mencoba merubah bentuk. Aku berusaha menggerakkan kaki untuk menjauhinya. Hal itu sia-sia saja. Aku bahkan tak bisa memalingkan wajah dari kobaran yang kian membesar itu. Yang mengunci tatapanku dari apa pun. Cahaya merahnya semakin membutakan. Semakin terang, dan begitu menyakitkan hingga aku ingin berteriak.
Tak ada suara yang keluar dari tenggorokanku.
"Lihatlah."
Aku masih menatap kobaran itu, panik. Kedua mataku terasa panas dan berair. Saat kupikir kesadaranku akan menguap, di detik itu pula sebuah gambaran asing muncul di dalam memoriku. Seolah seseorang baru saja mengirim kenangannya padaku. Sekilas demi sekilas. Gambar demi gambar, sampai ruang pemahamanku mulai terisi.
"Hin dan Bin." Aku membisikkan dua nama itu tanpa suara.
Mereka adalah penghuni dunia lama. Dunia sebelum benda-benda Zhmersine diturunkan. Sebelum pemberontakan di surga pecah. Hin dan Bin menjadi salah satu kehidupan awal yang diuji. Terpilih dari bangsa djin, keistimewaan itu menuntun mereka pada pemberontakan besar di muka bumi–apapun sebutannya pada masa itu. Pemberontakan yang memicu terciptanya kaum iblis.
"Cahaya menjadi api. Api melawan api."
Aku menelan ludah, gugup. Keberadaan Hin dan Bin di Tanah Nod berawal dari peristiwa pemusnahan kaum mereka. Pemusnahan yang dipimpin oleh sesosok iblis tak dikenal. Aku tak bisa mengetahuinya. Hin dan Bin yang tersisa lantas bersembunyi di Tanah Nod. Terkurung dalam kebebasan terbatas. Lalu dikenal sebagai roh bayang oleh leluhur Krow.