9 | SEKELUMIT MASA LALU

184 36 8
                                        

Kami tiba di sebuah kabin kayu berteras luas-tiga jam sebelum waktu tengah malam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kami tiba di sebuah kabin kayu berteras luas-tiga jam sebelum waktu tengah malam. Di suatu area pegunungan yang dikelilingi oleh hutan padat. Yang belakangan kuketahui adalah tempat persembunyian pribadi milik Hugo.

Selepas berunding singkat di sisi gua tak bernama milik Talang Danuh, Aiden memutuskan-dengan setengah frustrasi-bahwa saat ini, antara kami dan Hugo, sedang berada dalam posisi saling membutuhkan. Itulah alasan Aiden membawa kami mengunjungi kabin beratap tinggi dengan undakan dari batu alami itu. Di mana Hugo mengaku menyimpan potongan informasi terkait benda-benda Zhmersine.

Aku masih tidak mau memercayai omong kosong cowok itu. Sekalipun ia bersumpah untuk menyelamatkan hidupku. Sisi warasku terus berbisik bahwa ini hanya sandiwara baru yang sedang ia jalankan di balik topeng tak berdaya. Hanya masalah waktu sampai Hugo kelak mengungkapkan kebenarannya. Seperti yang sudah pernah terjadi. Dan ketika saat itu tiba, kurasa semuanya telah terlambat.

"Dahlia," aku menepuk lengan gadis itu pelan, "Hiro ngilang ke mana, ya?" Aku memerhatikan sekeliling pekarangan kabin yang remang-remang. Berharap menemukan sosok Hiro di suatu sudut. Padahal kami baru saja berbincang singkat, beberapa detik sebelum dirinya mendadak lenyap entah ke mana.

Dahlia melayangkan tatapannya pada Aiden-yang berjalan masam di sisi Hugo-sebelum ia menjawab pertanyaanku. "Er, kayaknya gue lupa jelasin ini sama lo." Dahlia menghentikan langkahnya beberapa meter dari anak tangga pertama. Aku mengikuti dengan was-was.

"Tentang apa?"

Melalui sudut mata, kusadari para cowok di teras sana bergerak masuk ke dalam kabin. Namun Aiden menunggui kami di ambang pintu. Mengisyaratkan tunggu-apa-lagi? lewat tatapannya yang penasaran.

"Gue mau nemanin Stela nyari udara segar." Dahlia berdusta dengan tenang. Terlalu santai hingga aku merasa kebohongannya merupakan sebuah kebenaran. "Lo tahu, kan, dia perlu waktu untuk ..." Dahlia menunjuk ke arah kabin-atau mungkin Hugo yang berada di dalam kabin-penuh arti. Aiden mengangguk paham dan segera berbalik meninggalkan kami tanpa sepatah kata pun.

"Ayo, kita ngobrol di situ aja."

Dahlia mengajakku mendekati sisi kanan kabin. Di mana sejumlah batu pipih selebar nampan disusun bertumpuk melingkari sisa-sisa kayu yang telah terbakar. Tepat di sisinya, sebuah meja piknik dari kayu-dengan bangku yang menyatu pada kaki-kakinya-menawarkan kenyamanan berselimut senandung hutan malam hari.

"Sebentar," sambung Dahlia saat aku mendaratkan diri pada salah satu kursi yang dingin.

Gadis itu menghilang selama beberapa saat. Praktis membuatku merasa ditinggalkan di tengah antah berantah. Sesuatu bisa saja sedang mengintai kami, sesuatu yang bergigi runcing dan juga bersayap. Dan sebelum paranoid itu kembali menguasai pikiranku, Dahlia muncul dengan setumpuk ranting di kedua tangan. Yang kemudian ia campakkan ke tengah-tengah perapian. Berikutnya, keremangan di antara kami terusir oleh nyala api unggun yang memancarkan kehangatan.

THE WATCHERSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang