33 | MELEWATI BATAS

64 7 2
                                        

Sunyi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sunyi.

Tak satu pun suara terdengar selain detak jantungku sendiri. Aku tak berani bergerak, apalagi melangkah barang seinci. Takut pergerakan sekecil apa pun bisa mengundang sesuatu yang mungkin saja sedang mengintai di balik kabut sialan ini.

Apa yang harus kulakukan?

Pandanganku sama tak bergunanya sewaktu gelap tadi. Jangankan mencari Hugo atau Aiden, melihat lututku sendiri saja aku kesulitan. Kabut ini seperti mencekikku dari berbagai arah. Menyesakkan dadaku dengan kepanikan yang tak jelas tertuju pada apa.

Tenang.

Aku memejamkan mata, mencoba menenangkan diri lewat pernapasan yang pernah diajarkan Hugo. Ambil napas, tahan, hitung sampai empat detik, embuskan dalam durasi yang sama. Ulangi. Tambah sekali lagi. Dan lagi, hingga kurasakan degup jantungku sudah tak selaju sebelumnya.

Gunakan otakmu, Stela.

Ketakutan itu masih terasa, tentu saja. Tapi setidaknya aku mulai bisa menganalisa apa yang sedang terjadi. Setengah bagian diriku percaya semua ini hanya terjadi di dalam kepalaku. Walau segalanya benar-benar terlihat nyata. Na-id si pengacau pikiran pasti membuat aku berhalusinasi.
Apalagi yang bisa menjelaskan ketiadaan teman-temanku dan Krow? Aku tak bisa memikirkan kemungkinan yang lebih masuk akal dari itu.

"Stela."

Aku terlonjak dan menoleh ke belakang. Rasanya seseorang baru saja lewat di balik punggungku. Mungkinkah itu Hugo? Tapi kalau itu memang dia, seharusnya dia akan memanggilku lebih dari sekali. Aku menunggu dengan napas tertahan. Cukup cemas pemilik suara itu bukan seperti yang kuharapkan.

Sepuluh detik berlalu. Hening.

Ini bukan pertama kalinya aku berada disituasi menegangkan, jadi aku tak berani memanggil balik atau bersuara. Siapa tahu itu cuma jebakan. Kuputuskan untuk bergeser ke samping demi mencari aman. Jika aku tak salah ingat, di sisi kiriku adalah dinding gua. Semoga saja dinding itu masih di sana, atau aku malah berakhir tersesat dalam labirin kabut ini.

"Kamu mau ke mana?"

Kakiku tersandung sesuatu. Saking kagetnya, aku sampai kehilangan keseimbangan dan tersungkur. Kepalaku terbentur benda keras. Tidak terlalu kuat, namun pandanganku jadi agak memburam. Jantungku berdentum-dentum panik.

"Ini aku, tenanglah, aku sedang membentengi tempat ini."

Panjang umur, Helda.

Kutelan segala umpatan begitu menyadari kehadiran pria itu. Ketakutan yang semula menghantuiku seketika menguap. Berganti dengan kekhawatiran yang biasa kurasakan bila didatangi si Pemberi Peringatan. Kira-kira kesialan macam apa yang kali ini tengah menantiku? Sambil menggosok bagian belakang kepala, aku mencoba bertanya pada pria itu.

"Apa yang terjadi?"

"Kurasa aku baru saja menyelamatkanmu dari serangan Hin dan Bin yang pemarah."

"Jadi ini bukan halusinasi?"

THE WATCHERSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang