(The Chosen sequel)
- ꜰɪɢʜᴛ ᴏʀ ʙᴇ ꜰᴏʀᴇᴠᴇʀ ꜰᴀʟʟᴇɴ -
***
Setelah berhasil melewati ritual terakhir yang nyaris mempertemukannya dengan kematian, Stela kini dihadapkan pada awal yang baru. Awal di mana ia mempel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Berlari menghampiri Dabilgru itu mudah. Sebagaimana kau berlari mendekati bahaya dan menyerahkan diri. Kau tak perlu memikirkan cara untuk kabur sebab yang satu itu urusan nasib. Andai aku mengetahui ini sejak awal, aku pasti tak akan semenyesal sekarang.
Berpisah dari yang lain, aku mencoba berlindung di balik gundukan batu yang menjulang. Tepat saat makhluk petir itu menembakkan kilatnya padaku. Berang. Sedetik saja aku terlambat, aku yakin akan berubah menjadi Yangi panggang.
Aku masih terheran-heran mengapa tubuhku masih utuh sejak menerima sambaran pertama. Kilat itu seharusnya menghancurkanku. Mengubahku menjadi potongan dadu atau semacamnya. Namun kemudian, aku mengingat alasannya.
Tubuhku yang sekarang bukanlah tubuh manusia. Hanya sebuah tiruan. Tubuh ini hadir lewat ritual, bukan dilahirkan. Hanya jiwa manusiaku yang melewati fase itu. Barangkali karena itu sambaran pertama Dabilgru tak meninggalkan luka pada tubuhku. Namun melihat apa yang terjadi pada Sabbathi, tetap saja aku tak berniat merasakan sambaran keduanya.
Sebuah ledakan pecah di puncak gundukan benteng pertahananku. Aku menjerit kaget. Gundukan batu itu bergetar hingga ke dasar. Menciptakan bunyi berderak yang menggaungkan keruntuhannya. Dan sebelum aku sempat berpindah, sapuan kencang sayap Dabilgru menyusul menerbangkan segalanya-termasuk diriku.
Dengan mata terpejam, tubuhku lagi-lagi terhempas entah ke mana. Sama sekali tanpa perlawanan. Diiringi hujan pecahan batu yang menggores lengan dan wajahku. Sensasi perih seketika menyayat dari berbagai titik.
Kau tak boleh berhenti di sini, Stela.
Aku bisa mencecap rasa darah di mulutku. Dalam posisi telungkup, aku mencoba bertumpu dengan kedua siku. Rasanya sakit sekali, sialan. Tangan dan kakiku seperti baru saja diremukkan.
Aku harus segera menemukan tempat berlindung dan mulai memikirkan cara melawan balik. Makhluk itu jelas tak akan menghentikan serangannya sampai salah satu diantara kami kalah. Tapi masalahnya, penglihatanku yang memburam membuatku sukar memerhatikan sekitar.
Aneh. Biasanya pandanganku hanya memburam jika aku mulai kehilangan kendali pada Sabbathi. Sekarang kan mereka sudah lenyap. Aku tak bisa memanggil ulang walau sisa-sisa kehadiran mereka masih menggenang di sini. Aku juga tidak bisa ... sensasi nyeri mendadak tumbuh di dadaku. Seolah ada tangan yang meremas jantungku dan berusaha menghancurkannya. Apakah ini akibat dari tercampak tadi?
Dabilgru kembali memberiku serangan kilat biru keemasannya. Jika aku tak mengalami serangan jantung, kurasa aku akan berakhir tuli setelah pertarungan ini selesai. Kalau memang bisa selesai. Nyeri yang entah dari mana asalnya ini membuatku kesulitan berpikir. Aku tak tahu bagaimana cara menghentikan serangan Dabilgru. Ia terlalu kuat. Terlalu sulit kuimbangi dengan kemampuanku yang terbatas.
Kamu masih terikat dengan batasanmu.
Aku terhenyak. Ingatan itu seketika menyadarkanku bahwa masih ada satu hal yang mampu kulakukan untuk menaklukkan Dabilgru. Tapi itu berarti aku akan membahayakan teman-temanku. Terutama Hugo. Aku benci memikirkan ini. Mempertimbangkannya saja terasa seperti mengorbankan orang-orang yang kusayangi.