(The Chosen sequel)
- ꜰɪɢʜᴛ ᴏʀ ʙᴇ ꜰᴏʀᴇᴠᴇʀ ꜰᴀʟʟᴇɴ -
***
Setelah berhasil melewati ritual terakhir yang nyaris mempertemukannya dengan kematian, Stela kini dihadapkan pada awal yang baru. Awal di mana ia mempel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ini bukan pertama kalinya aku mendekati kematian. Aku tak akan pernah terbiasa dengan hal itu. Ada ketakutan yang selalu tertinggal setiap kali kami bertemu. Yang terus menumpuk hingga kupikir aku sudah mencecapi sedikit rasanya. Pahit, menusuk, berdenyut di bawah kulitku seolah hidup.
Bukankah kematian adalah akhir dari hidup?
Aku ingin berkata tak ada yang bisa menjamin hal itu. Namun aku juga tak yakin bisa memercayai hal tersebut. Setiap kematian adalah misteri. Seperti lubang hitam yang menganga entah ke mana. Menyesatkan. Anehnya, dalam beberapa cara, kau masih bisa berinteraksi dengan mereka yang telah mati. Jadi, kematian tak seharusnya menghentikanmu dari apa pun. Kau hanya perlu bersiap menghadapinya sebelum ia benar-benar tiba.
Kau mulai terdengar gila, Stela.
Gemuruh petir kembali menggelegar di puncak Urkurd. Awan hitam bergulung menyamarkan separuh keberadaan gunung itu. Menambah kesan mengerikan yang sudah kurasakan sejak awal melihat penampakkannya.
"Dabilgru, Anqa, Unktehila, Misknubiq," Aiden mengabsen dengan wajah gusar, "Yang mana kira-kira menghuni gunung Urkurd?"
Kami baru saja berhenti tak jauh dari kaki gunung petaka itu. Ada pergerakan yang tertangkap mata Krow di sekitar sana. Ia bilang itu Vorgol; semacam penunggu Jahrad–hasil dari jelmaan roh bayang yang tak sempurna. Jadi tak bisa digolongkan sebagai manusia ataupun monster. Barangkali sejenis siluman. Krow dan Aiden sepakat untuk tak membuang tenaga terhadap makhluk itu. Sekarang mereka–pasukan Shuraih, mencoba menemukan jalur lain.
"Mereka jelmaan benda apa aja kita gak tahu, Den," Dahlia menyahut sembari memutar-mutar belatinya. Ia terlihat cukup gugup, namun tidak segugup diriku. Kurasa Dahlia hanya mencemaskan Hiro. Walau sekarang cowok itu terlihat baik-baik saja. Ia sudah bisa tersenyum meski jelas tampak dipaksakan.
Tak kunjung mendapat jawaban yang dicari, Aiden mendengus tak senang. Ia lantas bergerak menghampiri Hugo dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ada ide, Tuan jenius?"
Hugo menatapnya tanpa ekspresi. "Kalian bisa berdoa."
"Nice try."
"Ingat wujud benda Zhmersine?"
"Tongkat, cincin, batu, dan tabut," Aiden menghitung dengan jemarinya, "Apa itu petunjuk?"
"Ya, kita perlu melihat kisah nabi yang pernah memiliki benda Zhmersine di masa lalu. Di sana pasti ada pertanda."
Aiden mengangkat kedua alisnya, menanti Hugo melanjutkan penjelasannya dengan tak sabar.
"Seperti: tongkat yang dimiliki Musa pernah berubah menjadi ular besar. Mungkin itu semacam klu dari wujud aslinya."
"Gimana dengan cincin, batu, dan tabut?" Ronen menyambung, "Gak ada ayat yang mengisahkan ketiga benda itu pernah berubah menjadi makhluk hidup."