(The Chosen sequel)
- ꜰɪɢʜᴛ ᴏʀ ʙᴇ ꜰᴏʀᴇᴠᴇʀ ꜰᴀʟʟᴇɴ -
***
Setelah berhasil melewati ritual terakhir yang nyaris mempertemukannya dengan kematian, Stela kini dihadapkan pada awal yang baru. Awal di mana ia mempel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kami mendengar teriakan.
Mula-mula terdengar samar, seperti berasal dari suatu tempat yang tak jauh. Tempat yang barangkali tersembunyi di sekitar jalur yang kami lalui. Pemikiran itu praktis membuatku gelisah.
"Seharusnya kita gak biarin mereka pergi sendiri." Ronen mendesah sesal. Cowok itu sempat menawarkan diri untuk mengawal kelompok Krow, namun tawarannya dianggap berlebihan.
"Mau gimana lagi," Aiden memerhatikan sekeliling dengan masam, "Pemimpinnya gengsian."
Ketika kami akhirnya tiba di kaki gunung Urkurd, suara itu terdengar semakin jelas. Dan aku tersadar teriakan itu bukan milik Krow maupun pengikutnya. Suara itu bahkan bukan berasal dari manusia.
"Mereka di sana."
Aku melihat ke arah yang ditunjuk Aiden. Pada bebatuan yang meruncing dari permukaan tanah bagai taring-taring raksasa. Di sela-sela batu kelam itu, Krow dan pasukannya tampak meronta. Tubuh mereka tertahan oleh gumpalan berlendir yang kelihatannya lengket sekali. Tebakan Aiden rupanya benar; mereka memang membutuhkan bantuan.
Kami memelankan langkah dan berhenti di balik gundukan batu besar. Mencoba mengintai situasi secara diam-diam. Penyerang kelompok Krow masih berada di sana. Vorgol, sekumpulan makhluk berwujud aneh: memiliki kepala, tubuh, dan kaki selayaknya manusia. Namun tanpa rambut, tangan, dan wajah–hanya sebuah mulut lebar yang dipenuhi taring. Sementara kulit pucat kelabu mereka dihiasi banyak bekas sayatan hitam. Jika ini bukan di Tanah Nod, aku yakin aku sedang melihat hantu.
"Yiaks, jangan bilang itu ludah Vorgol." Dahlia memasang raut jijik. Lendir serupa memang tampak menetes-netes dari mulut mereka. Kuharap cairan itu tak sebusuk penampilannya.
"Mari berharap itu gak beracun." Aiden menatap kami bergantian. "Gue, Oza, dan Ronen akan maju nyerang alien itu. Sementara kalian tetap di sini, jaga-jaga kalau kawanan mereka muncul."
Kami kompak mengangguk. Ketiga cowok itu bergegas mengendap-endap ke arah bebatuan di dekat sana. Berusaha menemukan titik yang tepat sebelum melakukan penyerangan.
Awan mendung menebal di puncak Urkurd, menciptakan bayang-bayang yang memanjang di atas tanah. Bayang-bayang itu mencapai Aiden, Oza, dan Ronen lebih dulu. Menaungi sosok mereka dalam keremangan cahaya yang tersisa. Lalu, diiringi embusan angin kencang, ketiganya seketika lenyap dari pandangan.
Aku berpaling ke arah kumpulan Vorgol, menunggu kekacauan terjadi. Makhluk itu terdengar saling menyahut lewat desisan aneh. Tingkah mereka juga berubah aneh. Mereka berjalan ke sana kemari seolah sedang gelisah.
"Apa mereka sadar mau diserang?" Aku berbisik pada Dahlia.
"Mungkin," Dahlia terdengar sama bingungnya dengan diriku.
Aku memerhatikan kondisi Krow. Rasanya aneh melihat pria sebesar dirinya tampak tak berdaya dalam balutan lendir itu. Yang membuatnya sekilas mirip serangga yang terjebak di jaring laba-laba. Oh tidak.