(The Chosen sequel)
- ꜰɪɢʜᴛ ᴏʀ ʙᴇ ꜰᴏʀᴇᴠᴇʀ ꜰᴀʟʟᴇɴ -
***
Setelah berhasil melewati ritual terakhir yang nyaris mempertemukannya dengan kematian, Stela kini dihadapkan pada awal yang baru. Awal di mana ia mempel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Latihan pertama itu berakhir gagal.
Aku tak bisa menutupi kekecewaan yang kini melandaku bagai serbuan hawa panas di sekeliling kami. Meski Hugo dan yang lainnya sudah mencoba menghiburku melalui dukungan mereka, aku masih saja merasa tak berguna.
Dan lebih menyebalkan lagi, Aiden sudah menduga hal itu akan terjadi. Sebab menurutnya aku ini masih seorang pemula–amatir, sekalipun aku memiliki kekuatan dahsyat. Aku tetap memerlukan waktu untuk bisa menyesuaikan diri. 'Gak ada yang berhasil dalam sekali coba, kecuali lo lagi beruntung,' begitu ucap Aiden sebagai upayanya dalam mewajarkan kegagalanku.
Setelah waktu dingin berakhir, Krow meminta kami menunggu di tempat tenda-tenda tadinya berada. Aku tak melihat Aiden dan yang lainnya di sekitar sini. Ke mana mereka pergi? Pasukan Shuraih sudah mengemaskan segalanya, dan kini hanya tersisa kerumunan orang-orang yang menatap kami penasaran. Serta sekumpulan makhluk mirip singa seukuran kuda, berkaki empat, punya cakar, dan taring di sepanjang mulutnya. Yujaq.
Ya ampun, melihatnya saja aku sudah merasa gemetar. Bagian kepala makhluk itu ditumbuhi surai yang lebat, dengan sepasang telinga meruncing ke atas. Sedangkan tubuh mereka dipenuhi sisik-sisik keras berwarna hitam mengkilap. Sebuah kombinasi yang membingungkan namun mengintimidasi. Salah seekor makhluk itu menatapku tajam dan mendesis. Aku praktis berjengit merapatkan diri pada Hugo.
"Kelihatannya dia tahu siapa kau." Krow berkata padaku sambil lewat. Pria itu sedang mengawasi pasukannya yang bertugas menyiapkan kendaraan kami di depan sana. Mereka sibuk memasang sesuatu mirip alas duduk yang disambung dengan tali-talian.
"Apa itu pertanda bagus?" tanyaku sedikit berteriak.
"Entahlah," balas Krow setengah hati.
Gawat. Bagaimana jika mereka tidak menyukai kehadiranku? Apa mereka bisa merasakan siapa aku sebenarnya? Apa yang harus kulakukan jika tak satu pun dari makhluk itu mau mengangkutku?
"Kamu harus lebih tenang," Hugo berbisik pelan. Sebelah tangannya menyusup menggenggam tanganku, menepis kecemasan yang hampir memenuhi benakku. "Mereka bisa merasakan ancaman dari emosi kamu."
"Emangnya aku kelihatan lagi emosi?"
"Mereka pasti kabur kalo kamu ngamuk," lalu Hugo menambahkan dengan geli, "saya mungkin ikutan kabur."
Sembari menahan senyum, aku memberinya pukulan ringan lewat punggung tanganku. Tepat di perutnya yang terasa kokoh oleh otot. Pikiranku mendadak melayang ke saat di mana kami berciuman untuk pertama kali. Saat Hugo tidak mengenakan baju, dan kulitnya terasa begitu hangat sewaktu jemariku menyentuh ... sialan. Ingatan itu mengundang hasrat yang terpaksa kutendang kembali ke tempat ia berasal.
Tidak sekarang, Stela, kendalikankewarasanmu!
"Ehm." Suara dehaman Aiden terasa menampar kesadaranku.