44 | BENCANA YANG MENGINTAI

42 3 1
                                        

Bulir-bulir keringat terasa sejuk di dahiku kala embusan angin melintas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Bulir-bulir keringat terasa sejuk di dahiku kala embusan angin melintas. Bukan angin alami, tetapi angin yang datang dari sabetan pedang Ronen-beberapa senti dari wajahku. Cowok itu menyeringai melihat aku nyaris tersandung.

"Kayaknya kamu masih butuh tidur," Ronen kembali mengacungkan pedang.

Aku menggeleng, memosisi ulang kakiku pada mode siaga. "Gue cuma gak fokus."

Kueratkan genggaman di sekitar gagang yang cukup berbobot. Lalu meniru gerakan yang telah diajarkan Aiden dalam menangkis pedang lawan. Berhubung waktu yang kumiliki untuk mempelajari teknik bertarung ini terbatas, Aiden bersabda bahwa aku harus menguasai cara bertahan lebih dulu. Sebab bila aku tak mau kepalaku ditebas, maka aku harus bisa menepis, menahan, menghindar, bahkan mengunci pedang lawan.

Ugh, yang terakhir jelas terlampau sulit.

Ronen kembali mempersempit jarak di antara kami. Ujung pedangnya mengarah padaku, menunggu momen di mana aku mulai lengah. Saat menyangkut pertarungan, Ronen ternyata tak sekalem biasanya. Terlebih duel satu lawan satu begini. Mau tak mau aku merasa ngeri.

Tadinya aku berlatih dengan Hiro, sesuai yang dianjurkan Aiden. Namun Hiro tak sengaja membuat pedangku terpental. Gagangnya menghantam dahiku dan meninggalkan rona keunguan samar. Setelah itu Hiro kelewat berhati-hati sehingga Aiden merasa latihan kami tidak efektif.

Aku menggeser kakiku ketika Ronen mengayun pedangnya. Tak ingin terus-terusan terpojok, bergegas kuangkat pedangku-walau nyaris terlambat. Percikan dari benturan logam berhamburan di sisi wajahku.

"Jangan adu tenaga, Stela!" Aiden meneriakiku entah dari mana. "Tangkis pedangnya!"

Dengan lengan gemetar, aku berusaha memutar pedangku. Tapi, ya ampun, dorongan Ronen kuat sekali. Sepatuku bahkan mulai terseret ke belakang. Tenaga sisi manusiaku benar-benar tak bisa diandalkan. Mungkin ucapan Ronen soal aku butuh tidur ada betulnya.

"Jangan diam di satu tempat!"

Suara Aiden yang menyaingi dentang logam tak henti berkumandang. Jujur saja, kuharap aku bisa melempar pedangku ke arahnya sekarang. Tapi tentu saja itu tindakan bodoh.

"Langkah lo harus membentuk sudut, bukannya lurus!"

"Posisi kaki itu menentukan hidup dan mati, jangan disilang!"

Membuktikan ucapannya, aku tersandung kakiku dan jatuh. Ronen mundur selangkah, memberiku isyarat untuk segera berdiri tanpa menawarkan bantuan. Memangnya sejak kapan ada lawan yang mengulurkan tangan di tengah-tengah pertarungan? Yang ada jiwaku sudah terpisah dari ragaku.

"Kalo ini duel beneran, hutan ini bisa jadi makam lo, tahu?" Aiden merampas pedang pinjamanku. "Kontrol jarak dan perhatikan arah serangan, itu bisa membantu lo menentukan langkah selanjutnya."

Aiden kembali memperagakan teknik yang telah ia ajarkan padaku. Masih dalam posisi duduk, aku menyaksikan bagaimana Ronen menyerangnya. Sabetan pedang cowok itu berubah lebih agresif. Seolah-olah ia menaruh dendam pada Aiden. Namun aku tahu Ronen hanya bersemangat. Dan Aiden menepis tiap serangannya bagai mengibas nyala api pada lilin.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 16 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

THE WATCHERSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang