14 | PASUKAN NERAKA

132 17 16
                                        

Aku menahan napas saat barisan pertama mayat hidup tiba di hadapanku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku menahan napas saat barisan pertama mayat hidup tiba di hadapanku. Tangan mereka terulur ke depan, berusaha menggapai diriku dengan agresif tetapi tak ada yang berhasil menyentuhku. Gelang pemberian Yugin ini ternyata bukan benda sembarang. Benar-benar menakjubkan! Pasukan mayat hidup itu hanya bisa berdiri sekitar dua meter dariku, sementara mulut mereka menyuarakan geraman marah.

Selepas menyelipkan belati di balik jaket, kuputuskan untuk menghampiri Hiro yang tadi meneriaki namaku dan menyalurkan energi gelang ini pada dirinya, sesuai yang diinstruksikan Yugin. Kami semua harus terlindung perisai sebelum aku bisa menyampaikan pesan dari Helda.

"Hiro! Cepat pegang tangan gue!" aku mengulurkan tangan ke arahnya. Cowok itu tampak kebingungan sesaat, tapi dia melakukannya.

"Kenapa kita harus pegangan tangan?" tanyanya cepat.

"Lihat sekeliling lo."

"Eh?" Hiro terdengar heran. "Kok bisa? Mereka gak bisa mendekat!"

Aku menarik lengan jaketku untuk memperlihatkan gelang pemberian Yugin padanya.

"Karena gelang ini, Yugin yang ngasih secara diam-diam."

Hiro mendesah lega. "Aku belum pernah lihat benda itu, tapi ayo, kita selamatkan yang lain dulu."

Kami bergegas berlari menuju Dahlia sebab posisinya yang paling dekat. Gadis itu tengah sibuk melayangkan belati di kedua tangannya ke segala arah, seperti melampiaskan emosi secara habis-habisan. Mudah saja baginya untuk menjatuhkan selusin mayat hidup dalam sekali tebas. Tetapi jumlah mereka tak kunjung berkurang.

"Dahlia! Sini pegang tanganku!" Hiro melambaikan tangannya pada gadis itu.

"Astaga Hiro, ini bukan saatnya untuk saling menguatkan!" Dahlia mengayunkan belatinya ke arah lima mayat hidup sekaligus. "Sekalian aja lo gandengan tangan sama para zombie ini!"

"Bukan itu!"

"Kalo lo mau berdoa atau mengheningkan cipta, nanti aja di pemakaman gue!"

Ya ampun, sepertinya mereka punya masalah dalam komunikasi.

"Dahlia gue punya gelang perisai!" teriakku sekencang mungkin.

Untungnya, pernyataan itu langsung menarik perhatian Dahlia meski ia terlihat sedikit tak yakin. Dahi gadis itu mengerut sesaat sebelum ia berlari menggapai tangan Hiro. Dan dalam sekejap mata, Dahlia sudah berada di bawah perlindungan perisai seperti kami.

"Wow, kekuatan macam apa ini?" tanyanya takjub saat menyadari pasukan mayat hidup itu tak dapat mendekati kami.

Aku menggelengkan kepala, tak tahu bagaimana menjelaskannya. "Yugin yang ngasih."

"Hah, anak itu pasti mencuri barang hasil sitaan di ruang ilegal."

Mencuri atau tidak, saat ini aku tak akan memasalahkannya. Yang penting kami bisa melindungi diri dari amukan pasukan mayat hidup. Dan aku bisa memberitahu mereka tentang percakapanku bersama Helda.

THE WATCHERSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang