40 | KEKUATAN HATI

69 6 8
                                        

Kami mendapatkan apa yang kami cari

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kami mendapatkan apa yang kami cari.

Seharusnya itu sebuah kabar gembira. Namun tak satu pun diantara kami ada yang merayakannya. Setelah menyerahkan benda itu pada Aiden, aku tak yakin bisa tersenyum seperti sebelum semua ini terjadi. Badai yang tadinya menaungi gunung Urkurd seakan berpindah ke dalam diriku. Mengacaukan pikiran berikut suasana hatiku.

Hugo masih terlihat pucat walau ia telah menenggak Lacrima. Dan itu bukan satu-satunya hal yang kukhawatirkan pada dirinya. Kalung sialan itu sudah hampir setengah penuh, berkat energi gelapku. Energi yang barangkali akan kembali saat aku menghadapi dua Zhmersine tersisa. Tampaknya kata-kata Hugo soal aku yang menjadi penyebab kematiannya bukan sekedar kiasan. Jadi aku menjauhinya.

Aku juga mengasingkan diri dari yang lain saat kami beristirahat di kaki gunung Urkurd. Aku hampir mencelakakan Hugo, dan itu bisa saja terjadi pada mereka. Kalau-kalau aku kehilangan kewarasanku seperti di puncak tadi.

Aiden bilang aku dan Hugo harus memulihkan tenaga sebelum kami bisa melanjutkan perjalanan. Andai ia tahu, bagiku sisa perjalanan ini terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Setiap langkah yang kuambil hanya akan menyiksaku sampai mati.

Para Vorgol sudah menghilang jauh sebelum kami turun. Ili-Bani berkata mereka pergi ke arah hutan Thorgor. Barangkali berusaha menjaga benda Zhmersine sebelum kami sempat mengambilnya. Lagi. Ketiadaan mereka membuatku leluasa memilih tempat untuk menyendiri.

Aku menemukan sebuah kolam kecil di dekat pohon entah apa. Tingginya tak sampai empat meter. Rindang. Aku duduk memeluk lutut di bawah bayang-bayang teduhnya. Menangis. Kekuatan ini telah membantu sekaligus menghancurkanku.

Aku benci menjadi cengeng seperti ini. Bukan seperti diriku dulu yang bahkan tak bisa meneteskan air mata. Kurasa aku merindukan saat-saat itu. Saat di mana semua masalah yang menyesaki dadaku ini tak pernah ada. Belum ada.
Butuh beberapa menit bagiku untuk meredakan tangisan senyapku.

"Mau?"

Aku menoleh ke samping. Mendapati sosok yang tak kusangka akan mendatangiku sendirian di sini menawariku sebungkus permen. Sedikit canggung, kuraih permen itu dan memaksakan senyum kecil.

"Makasih, Hiro."

Cowok itu duduk di sebelahku. Ikut memeluk lutut dan meratapi kolam tak berpenghuni di hadapan kami dalam diam. Tiba-tiba aku penasaran, selain permen- apa lagi yang ia bawa dari tempat asal kami?

"Aku lihat kamu pergi," ungkap Hiro setelah beberapa lama melamun. "Kamu versi mata oranye itu."

Kami bertatapan sejenak, lantas bertukar senyum muram.

"Sebenarnya itu terlihat keren, tapi ...."

"Maaf kalau itu udah buat lo takut." Aku bergegas menyela.

Aku tak menyalahkan Hiro karena merasa begitu. Aku versi Astaroth jelas bukan sosok yang menyenangkan untuk ditemui. Lagipula ia baru saja membuktikan ucapan Hugo waktu itu. Soal dirinya yang memang takut padaku dalam penglihatannya.

THE WATCHERSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang