Sepertinya sudah seabad sejak terakhir kali aku melihat malam.
Langit tak lagi tampak ketika kami memasuki kepungan awan hitam di puncak Urkurd. Suasana di sini praktis setemaram malam. Segalanya jauh lebih suram. Dingin. Berisik. Cahaya kilat menjadi satu-satunya penerang langkah kami.
Aku terseok-seok di barisan belakang. Berusaha menerjang angin yang terasa basah. Namun tak ada hujan yang datang mendera. Aku cukup mensyukuri yang satu itu. Tak ada gua yang bisa dijadikan tempat berlindung di sini. Pasti gawat sekali jika kami harus berjalan di tengah hujan badai.
Entah berapa lama lagi kami harus mendaki. Aku tak bisa memastikan di mana posisi kami sekarang. Pemandangan di sekitar kami rasanya tak pernah berubah.
Kueratkan genggamanku pada Hugo ketika serbuan angin lagi-lagi menerpa. Kali ini sedikit lebih kencang dari sebelumnya. Tubuhku hampir saja oleng ke kanan.
"Kamu dengar itu?"
Aku memicingkan mata pada awan yang tampak berputar-putar, tak yakin apa yang Hugo maksud.
"Suara angin? Ya."
Hugo menggeleng. "Coba kamu dengar lagi."
Aku segera menyiagakan pendengaran. Bebatuan kecil di bawah sepatuku berkeletak renyah. Gemuruh guntur tak henti pecah. Kemudian ... wuus. Suara itu nyaris menyaru bersama embusan angin. Aku bergegas mengamati sekitar, mencari-cari.
"Apa kita diawasi?"
"Ya."
Kami hampir sampai di puncak. Setelah itu tidak ada apa-apa selain gundukan batu dan area terbuka maha luas. Yang sepertinya bisa kusebut sebagai area bertarung. Namun lawan tarung kami belum terlihat di mana pun. Barangkali tidak di atas tanah.
Embusan angin kembali menampar. Keras.
"Magen!" Krow berseru mengangkat perisainya. Diikuti Tzuk dan Amos yang mengambil posisi berjauhan.
Aiden mengangguk pada para Daim. Belati ujung lengkung mereka kini berpendar di tengah-tengah keremangan. Siap diayunkan.
"Hei," aku menatap Hugo lekat-lekat, lantas menyentuh mata kalung Haelel miliknya, cemas. "Jangan paksain kekuatan kamu selama situasi masih terkendali."
"Saya gak janji."
Kutelan kembali omelan yang meletup-letup di lidahku. Tak ingin yang lain menyadari kekhawatiranku terhadap dirinya.
"Kamu tahu saya gak akan menuruti kemauan kamu yang satu itu." Hugo menarik tanganku menjauh dari kalungnya. Kemudian ia berpaling.
Kegusaran sontak berkembang dibenakku. Aku mengerti jika Hugo hanya ingin melindungiku. Tapi sikapnya yang tak memedulikan keselamatan sendiri justru membuatku muak. Harus berapa kali kukatakan aku tak mau ia kehilangan nyawa?
Itu berarti kau harus berusaha lebih keras lagi, Stela.
Baiklah. Jika aku tak bisa membujuknya untuk menghemat kekuatan, maka aku harus membuatnya tak memerlukan kekuatan itu. Dengan kata lain, aku harus bisa mengatasi makhluk itu tanpa bantuannya. Kuraih belati yang tadi diserahkan Ili-Bani. Mencoba mengeluarkan darah demi memanggil Sabbathi.
Kali ini, aku tak boleh gagal.
Riuhnya suasana sekitar membuat mereka tak menyadari apa yang sedang kulakukan. Dengan pengetahuan yang kudapat dari Helda, aku tahu aku bisa memanggil senjataku dengan cara berbeda. Jadi kupejamkan mata dan memusatkan pikiran. Berkonsentrasi.
Aku bisa berenang ke mana pun aku mau. Aku tak akan tenggelam.
Seiring tarikan dari dasar perutku tumbuh–mengencang, suara yang kukenal mulai berhamburan di sekeliling kami. Percikan bunga api.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE WATCHERS
Fantasy(The Chosen sequel) - ꜰɪɢʜᴛ ᴏʀ ʙᴇ ꜰᴏʀᴇᴠᴇʀ ꜰᴀʟʟᴇɴ - *** Setelah berhasil melewati ritual terakhir yang nyaris mempertemukannya dengan kematian, Stela kini dihadapkan pada awal yang baru. Awal di mana ia mempel...
