11 | PESAN MISTERIUS

138 23 11
                                        

Kami meninggalkan kabin milik Hugo saat langit di ujung timur mulai memancarkan rona keemasan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Kami meninggalkan kabin milik Hugo saat langit di ujung timur mulai memancarkan rona keemasan. Bulan masih tampak di atas sana. Ditemani setitik cahaya terang sang bintang pagi yang terasa mengawasi gerak-gerik kami.

Dahlia, Hiro, Ronen, dan Oza sudah pergi lebih dulu ke Amtrum melalui bayangan-untuk mengintai situasi. Sementara aku, Aiden, dan Hugo harus terjebak bersama di dalam satu mobil entah untuk berapa lama. Semoga saja perjalanan ini tidak memakan waktu sepanjang hari. Aku tak dapat membayangkan apa saja yang mungkin terjadi selain kebosanan.

Kedua mataku masih terasa berat saat Aiden memintaku duduk di kursi belakang. Katanya supaya aku bisa melanjutkan tidurku yang kurang dari tiga jam. Tapi aku menduga cowok itu hanya tak ingin memberikan Hugo kesempatan untuk menyerang dirinya dari belakang ketika ia fokus menyetir. Aiden mendengus saat aku mengatakan hal itu padanya.

"Gue tahu lo gak percaya sama dia, tapi-"

"Tapi gimana kalau ini memang rencana dia?" aku bergegas memotong, lalu menoleh ke luar mobil untuk memastikan Hugo masih berada di sekitar kabinnya. "Dia sengaja memberi kesan seakan dia membelot dari Beelzebub, tapi gimana kalau itu cuma bagian dari rencana dia untuk membantu Beelzebub? Lo gak bisa percaya gitu aja sama dia, Aiden, ingat kesalahan yang pernah gue lakuin dulu."

Aiden menoleh dari balik kemudi, sebelah tangannya disandarkan pada jok di antara kami. Ia memandangi wajahku selama beberapa saat. Seolah berusaha mengalirkan keyakinannya terhadap Hugo padaku namun kutolak mentah-mentah.

"Gue ngerti lo gak mau kejadian kemarin terulang lagi, tapi situasi sekarang udah beda, Stela. Hugo gak sekuat yang lo kira. Dia mungkin berhasil nipu lo, tapi gak semudah itu bagi dia buat nipu gue atau Daim lainnya."

Aku menyandarkan punggung ke belakang, memutuskan kontak mata kami dengan luapan rasa kesal. Rasanya percuma saja memperdebatkan hal ini bersama Aiden. Ia sama sekali tidak mempertimbangkan masalah kehadiran Hugo melalui sudut pandangku. Sekalipun itu hanya kecemasanku belaka. Apa salahnya lebih berhati-hati? Semoga saja cowok itu tidak kelewat percaya diri atau ia memang memiliki rencana lain seandainya kecemasanku menjadi nyata.

"Mari berharap itu benar," gumamku selagi mengalihkan pandangan ke arah Hugo yang sedang berdiri di sisi kabin. Cowok itu tengah menggulung lengan bajunya ke siku, lantas berjongkok untuk menarik sesuatu dari permukaan tanah. Aku memicingkan mata, curiga. "Dia lagi ngapain?"

Jawabannya kudapat di saat yang sama. Begitu Hugo memasukkan benda yang ditariknya tadi ke dalam saku jaket, kabin di belakangnya serta-merta memudar. Seakan-akan bangunan yang kami singgahi itu tidak nyata. Lantas berubah menjadi hutan semak yang padat. Tak menyisakan tanda-tanda bahwa tempat itu pernah dijamah tangan mana pun. Dengan mulut ternganga, aku kembali menatap Aiden.

"Anggap aja kabin itu tenda kemah versi Nephilim," jelas cowok itu sambil kembali menghadap ke depan. "Mereka gemar mengoleksi barang-barang mewah dan langka, fyi."

THE WATCHERSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang