Cafe Star
"Rey, sebaiknya lo nunggu disini sampai hujan reda aja!"
Reygan menatap luar dan benar saja, hujan turun begitu derasnya.
"Mau gue buatin minum? tapi gak gratis ya, lo harus bayar"
Reygan mengangkat sudut bibirnya mengukir sebuah senyuman."boleh, hot chocolate satu."
"Cuman itu? Yaudah lo tunggu sebentar."
Reygan menatap kepergian Adel, lamunanya membuyar ketika ada seseorang yang menyapanya.
"Lo kenal sama Adel?" Ucap orang tersebut.
"Iya. Btw, lo siapa?"
"Gue manajer di cafe ini. Kenalin, nama gue Bintang." Bintang mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Reygan.
"Gue Reygan."
Bintang mengangguk. "Lo pacarnya Adel?" Tanya cowok itu.
"Pacar pura pura" singkat Reygan.
"Tapi kayaknya lo suka sama dia, keliatan dari cara natap lo ke Adel tadi."
Reygan diam dan hanya mencerna perkataan Bintang.
"Adel udah gue anggep kayak adek sendiri. Dulu gue punya adik seumuran dia, tapi sekarang dia udah beda alam sama gue."
"Terus?"
"Walapun lo pacar pura pura nya, gue harap lo bisa jagain dia seutuhnya, dan jangan pernah lo menjadi alasan air matanya jatuh sia sia."
"Kenapa gue harus jagain dia?"
Bintang terkekeh."Lo sebenarnya gak mau Adel tersakiti juga kan? udahlah, jujur aja sama gue. Lo itu sebenarnya sayang sama dia, tapi elonya aja yang terlalu gengsi, yakan?"
"Nih ya gue kasih tau, Adel itu emang diluarnya aja sifatnya kayak gak ada beban. Dia berusaha senyum untuk menutupi segala kesedihannya. Dia anak tunggal, dan dia hanya tinggal sama ibunya. Ibunya sering sakit sakitan dan Adel harus bekerja banting tulang untuk mencari uang. Sedangkan dia masih disibukkan dengan kegiatan sekolah. Gue salut sama dia. Adel wanita hebat Rey, dan dia beda dengan yang lain. Jadi, lo gak boleh sia-sia in dia. Gue tau lo sebenarnya orang baik." ujar Bintang
"Eum akan gue coba. Dan gue janji gak akan sakitin dia"
"Gue gak butuh janji, gue butuhnya pembuktian dari Lo" Bintang menepuk pundak Reygan pelan.
"Eh, bang Bintang ada disini. Kirain Adel tadi abang udah pulang" Adel datang dengan membawa secangkir hot chocolate.
"Hehehehe iya, abang masih disini. Abang tinggal dulu ya, kamu ngobrol aja sama temen kamu. Kasihan kalau dikacangin" Bintang berdiri dan mengusap lembut rambut Adel.
"Oke bang"
Adel duduk di kursi depan Reygan sambil menatap hujan.
"Lo suka hujan?" Reygan mulai bertanya dan sedikit menyeduh hot chocolate miliknya.
"Iya, gue suka hujan karena setiap tetesan yang diberikan hujan itu membuat ketenangan dalam hidup gue. Dan gue belajar dari hujan bahasa air bagaimana berkali-kali ia jatuh, tapi tidak sedikitpun mengeluh pada takdir." Adel mulai meneteskan cairan bening yang keluar dari mata indah nya.
Reygan yang sadar dengan hal itu langsung berdiri disamping Adel dan mengusap pipi nya yang basah.
"Lo wanita kuat, jadi jangan pernah lo sembunyiin luka dalam diri lo sendiri kalau ujung ujungnya buat lo rapuh. Kalau elo butuh sandaran, maka bahu gue siap menjadi tempat untuk elo bersandar" ucap lembut Reygan.
Mendengar ucapan Reygan, Adel sontak memeluk tubuh kekar cowok itu dan meluapkan segala kesedihannya dalam dekapan dada bidangnya.
"Luapin aja kesedihan lo Del. Hidup emang suatu tantangan yang harus dihadapi dan perjuangan yang harus di menangkan. Kalo lo merasa dititik terendah, jangan pernah menyerah. Karena itu bukan suatu kegagalan dalam hidup Lo." tangan Reygan mengusap punggung Adel yang sudah terisak.
"Eh, maaf gue gak sengaja" Adel melepaskan pelukannya.
"Kok dilepas sih?. Sayang Del, tadi nyaman banget loh."
"Gausah modus! btw, makasih ya karena elo udah nenangin gue dan udah dengerin curhatan gue." Adel tersenyum ke arah Reygan.
"Iya, santai aja. Sebelumnya gue minta maaf soal kejadian lalu yang mungkin menyakiti hati Lo"
"Gue juga minta maaf soalnya gue udah nyiram jus jeruk ke badan lo, lagian lo ngeselin sih!"
Reygan membalasnya dengan muka datar.
"Hujan udah mulai reda tuh, lo mau pulang sekarang atau nanti?" Tanya Adel.
"Em, gue nungguin lo selesai kerja aja deh."
"Gue pulangnya sama bang Bintang. Lo pulang aja, entar keluarga lo nyariin"
"Yaudah deh. Gue pulang. Dada pacar. Nanti hati hati dijalan ya!." Reygan melambaikan tangan ke arah Adel dan tersenyum kearahnya.
Adel hanya terkekeh melihat tingkah laku temannya itu, ya lebih tepatnya pacar pura pura sih.
.....
KAMU SEDANG MEMBACA
Reygan Dinata (End)
RomanceGenre : fiksi remaja, romansa. "Harga diri lebih penting daripada segala materi."- Adel. "Apa yang gue mau, harus gue dapetin!"-Reygan. Semesta mempertemukan mereka sehingga terlibat dalam skenario Tuhan. Apakah keduanya saling punya rasa? dan apaka...
