Terlihat Reno yang sedang menunggu diambang pintu kelas Adel. Cowok itu sudah mengumpulkan niat untuk meminta maaf kepadanya.
"Permisi, Adel nya ada?" Reno mulai memasuki kelas.
"Del, lo dicariin sama kak Reno tuh" Ocha menyenggol lengan Adel.
Akan tetapi, Adel hanya mengacuhkan kedatangan Reno dan berlalu keluar kelas. Kali ini ia hanya butuh sedikit ketenangan.
Reno langsung mencegah Adel sebelum ia benar benar pergi dari hadapannya.
"Del, gue minta maaf soal kemarin."
"Buat apa kakak minta maaf ke Adel? Kan Adel bukan siapa siapa nya kakak."
"Gue gak seburuk apa yang lo pikir. Gue kemarin cuman mau ngebela adek gue, apa itu salah?"
"Maaf kak, Adel gak mau ikut campur sama urusan kakak. Permisi, Adel mau ke perpus dulu."
Reno kembali menahan tangan Adel. "Gu-gue suka sama lo."
Adel membulatkan matanya. Bagaimana bisa Reno bisa suka kepadanya? Ngobrol aja jarang.
"Ha? maksud kakak?"
"Iya, sebenarnya gue suka sama lo. Dan gue mau kita punya hubungan lebih dari sekedar kakak kelas dan adik kelas."
Reygan yang mendengarkan ungkapan Reno itupun langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka. Wajah cowok itu nampak memerah dan napasnya yang memburu.
"MAKSUT LO APA, HA?" Reygan mendorong tubuh Reno, hingga cowok itu sedikit mundur ke belakang.
"Lo yang apa apaan Rey!. Minggir! jangan ganggu suasana deh."
"Adel itu pacar gue! Jadi jangan harap lo bisa milikin dia!" ucapan Reygan mendapat tatapan dari seluruh murid yang ada disana. Bagaimana tidak? seorang Reygan bisa jatuh cinta apalagi pacaran sama gadis polos seperti Adel.
"Cihhhh halu lo ketinggian bro!"
Ucapan Reno membuat Reygan semakin tersulut emosi.
Ocha menarik tangan Adel agar menjauh dari sana.
"Lo kalau di diemin makin ngelunjak ya Ren!"
"Jangan belagu lo, lo gak tau siapa gue?" ucap Reno tak mau kalah.
"Gue tau, elo adalah ketos VGS dengan tampang sok cool, tapi belakangnya apa? BRANDALAN!"
"Anjng!" Satu pukulan berhasil mendarat di pipi kanan Reygan.
Reygan mengusap pipinya."Oke!. Lo main kasar, gue akan jauh lebih kasar" Reygan mengeluarkan senyum smirk nya.
Tak butuh waktu lama, Reygan mendorong kencang tubuh Reno hingga tersungkur ke lantai dan ia menghajar habis lelaki yang adadihadapannya itu.
Semua murid menyaksikan perkelahian tersebut. Kenapa tidak ada yang melerai mereka? Bahkan teman Reygan pun malah menambah suasana menjadi panas.
Mau tidak mau,Adel berjalan ke arah mereka dan melerainya.
"REYGAN, STOP!!" pekik Adel yang mengeluarkan suara kerasnya.
Ia sudah muak dengan Reygan dan Reno yang terus berkelahi karena suatu alasan yang tidak masuk akal.
Selang beberapa detik kemudian, pak Munir datang dengan membawa rotan, senjata andalannya.
"Reygan, Reno ada apa ini? Kenapa kalian ribut? Mau jadi sok jagoan? Sekarang, kalian ikut bapak ke ruang BK!" Perintah pak Munir.
...🦋...
Ruang BK
"Sekarang, jelaskan kepada bapak kenapa kalian tadi berantem?"
"Dia duluan pak yang cari gara gara sama Reygan. Enak aja, dia mau ngrebut pacar Reygan, kan gak sopan!!" Reygan menunjuk muka Reno.
"Emangnya kamu punya pacar? Kok bapak gak tau."
"Punya lah pak. Kan Reygan ini ganteng bin Sholeh."
"Ya walaupun pacar pura pura sih." batin Reygan.
Reno hanya menyaksikan keduanya dengan tatapan dingin. Ia masih waras dan gak se tolol Reygan, jadi mending dia duduk diam.
Pak Munir menghembuskan nafasnya. "Ini bukan saatnya bercanda Rey---"
"Saya gak bercanda pak, emangnya ini stand up comedy?" Reygan memotong pembicaraan pak Munir se enak dengkulnya.
"Ya Allah kamu ini benar benar ya Rey! bapak belum selesai ngomong, jadi dengerin bapak selesai dulu baru kamu boleh ngomong."
"Yaudah deh, silahkan bapak ngelanjutin. Nanti Reygan dengerin kok." Ucapnya sambil memakan cemilan yang ada dihadapannya.
Kini, pak Munir beralih bertanya kepada Reno, daripada ia bertanya ke Reygan yang jawabannya merembet kemana mana.
"Reno, sekarang kamu jelasin kejadian tadi."
Reno mengeluarkan senyum miringnya. "Tadi saya kan mau minta maaf dan saya ngungkapin perasaan ke Adel. Kan kalau orang ngungkapin perasaannya ke cewek gak salah kan pak? terus si kutu kupret ini tiba tiba datang terus mukul saya pak."
"Eh, jangan ngadi ngadi lo! Gue kan emosi juga gara gara lo pancing emosi gue" samber Reygan.
"Reygan, siapa yang suruh kamu ngomong?" Sambung pak Munir.
Reygan kembali diam dan melanjutkan aktivitas nya memakan cemilan.
"Lanjutkan Ren"
"Nah, sebenarnya saya mau ngelawan, tapi apalah daya saya pak yang dipiting kayak kepiting rebus. Jadi saya cuman pasrah deh."
"Apa benar itu Rey?" Pak Munir kembali menatap Reygan.
Reygan diam.
"Rey, apa benar yang diucapkan Reno itu?" tanya pak Munir sekali lagi.
Reygan masih tetap diam.
Pak Munir menarik nafas dalam dan memegang kepalanya yang sedikit pening. "Astaghfirullah, sabar."
Reno juga ikut geram dengan sikap Reygan. "WOY, NYET! Pak Munir nanya tuh, Lo budeg atau giama sih?" Reno menggeplak lengan Reygan dengan kencang.
"Lo apa apain sih? main geplak orang aja! Kan tadi pak Munir nyuruh gue diem, ya jadi gue diem lah" ucap Reygan dengan entengnya.
Pak Munir dan Reno sama sama menepuk jidatnya. "Capek ya pak? Sama, saya juga" Reno mengelus tangan pak Munir.
Reygan yang menyaksikan hal itu langsung bergedik ngeri."Dihh Ren, elo ternyata jeruk makan beruk juga ya?. Ih jyjyk, gak mau gak suka GELAY!!"
"LAMBEMU" pak Munir refleks mengucapkan kata itu.
"Bapak akan kirim surat kepada orang tua kalian" sambung pak Munir.
"Hah? bapak mau kirim surat sama orang tua saya? maaf pak, orang tua saya bukan tukang pos, jadi bapak salah server" polos Reygan.
"ASTAGHFIRULLAH" pak Munir kembali mengusap dadanya pelan.
"Maksud saya surat panggilan untuk datang ke sekolah. REYGAN! HIH!" pak Munir mencoba tetap sabar.
"Owhh, surat panggilan ke sekolah"
Deg
"APA? Bapak gak salah nih?" Reygan refleks melempar cemilannya ke wajah pak Munir.
Reno yang melihat kejadian itu hanya tertawa seperti melepas beban.
"Eh eh maaf pak,tadi refleks ngelempar. Lagian sih, bapak ngagetin aja!" Reygan membersihkan muka pak Munir dengan tisu
"CUKUP!. Sekarang kalian keluar dari ruangan bapak!. Untuk surat panggilannya, nanti bisa menyusul. Bapak sudah muak apalagi sama kamu Rey. Kamu kapan tobatnya sih? biar otak kamu jernih dikit"
"Em, tunggu saya dapet hidayah ya pak. Dan sebelumnya makasih atas cemilannya, Reygan jadi kenyang nih." Reygan mengusap usap perutnya dan keluar dari ruangan diikuti Reno yang hanya mengekornya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reygan Dinata (End)
RomansaGenre : fiksi remaja, romansa. "Harga diri lebih penting daripada segala materi."- Adel. "Apa yang gue mau, harus gue dapetin!"-Reygan. Semesta mempertemukan mereka sehingga terlibat dalam skenario Tuhan. Apakah keduanya saling punya rasa? dan apaka...
