Sepi ya? Iya. Wkwkwk
Reygan kini tengah sibuk mengamati gadis yang sedang memakan makanannya dengan lahap. Sampai sampai, mulut gadis itu belepotan dengan kuah bakso yang dimakannya.
Tak butuh lama, ia langsung mengambil tisu yang berada didekatnya. "Kalau makan tuh jangan belepotan! kayak anak kecil aja"
"Nanggung Rey, gue laper banget. 3 hari belum makan" jawab Adel yang masih mengunyah bakso didalam mulutnya
"Bunda lo gak kasih lo makan atau gimana?"
"Bunda gue sih ngasih makan. Tapi dari kemarin gue cuman makan ati doang"
Reygan terdiam. Sepertinya Adel sekarang sedang menyindir nya secara halus.
"Alhamdulillah, kenyang" Adel menepuk perutnya yang sedikit begah
"Yaudah yuk masuk kelas. 5 menit lagi bel pasti bunyi. Lo ada pelajaran BK kan?"
"Tumben lo tau pelajaran di kelas gue. Lo stalking?"
"Dikit doang sih. Yuk masuk" Reygan beranjak dari tempat duduknya
"Kita bolos aja yuk?"
Mendengar ucapan Adel barusan, mata Reygan membulat sempurna. Sejak kapan Adel mau bolos sekolah? bukannya dia gadis yang paling rajin?
"Bercanda kalik. Gitu aja dibikin serius. Yuk masuk, malah bengong disitu!"
Reygan menghela napasnya. "Untung gak serius. Kalau sampai gue tau lo bolos, siap siap aja!"
"Kan gue nyontoh elo. Gue juga pengen ngerasain rasanya bolos pelajaran itu gimana sih?"
Reygan menjewer telinga Adel "Dibilangin jangan aneh-aneh! ngeyel banget sih lo. Jangan nyontoh perilaku buruk yang gue lakuin"
"Ih sakit Rey! sejak kapan lo jadi over posesif gini sih?"
"Sejak gue jatuh cinta sama lo" Reygan mengembangkan senyum manisnya
"Hallah, jatuh cinta karena taruhan aja bangga!"
Perlahan senyum Reygan mulai luntur."Lo masih marah sama gue? Daritadi perkataan lo itu nyindir ke gue terus"
"Lo kesindir? Alhamdulillah sih."
Reygan menundukkan kepala. Jari-jarinya memainkan baju yang sengaja ia keluarkan tadi.
Adel terkekeh dan mengangkut dagu cowok itu supaya bisa mendongak dan menatapnya
"Gue baru tau, kalau seorang Reygan bisa nyesel atas kelakuannya sendiri."
...🦋...
Pelajaran di kelas Adel pun dimulai. Pelajaran BK yang dijelaskan pak Munir kali ini adalah membahas tentang hobi.
Guru yang berusia lima puluh tahun itu sedang menjelaskan materi secara rinci.
"Eh ini kita udah SMA tapi BK nya kenapa bahas hobi sih?" bisik Ocha kepada Adel yang sedang menopang dagunya diatas meja
"Gak tau Cha. Udah, kita dengerin aja. Jarang-jarang kan pak Munir ngajarnya santuy kayak gini?"
"Bener juga sih."
"Cha, gue ngantuk. Gue ijin tidur dulu ya, bosen banget gue dengerin pak Munir ngomong. Serasa dia lagi dongeng"
"ADEL MAJU!"
Adel yang ingin memejamkan matanya pun tersontak menegakkan tubuhnya menjadi tegap. Ia menoleh ke kanan, ke kiri, atas, bawah untuk memastikan apakah benar yang dipanggil adalah namanya.
"Bapak manggil saya?" Tanya nya sekali lagi
"Iya, Adelia Bulan. Sini maju!"
"Sekarang, kamu sebutkan hobi yang kamu sukai"
"Sekarang pak?"
"Besok, nunggu kucing bertelur!"
"Owhh oke pak" Adel mengacungkan jari jempolnya ke depan.
"Ya sekarang lah, HIH!" geram pak Munir
"Lah kata bapak tadi nunggu kucing bertelur dulu. Sebenernya yang salah bapak atau saya sih?
"Terserah. Sekarang sebutkan atau gak kamu ceritakan hobi yang kamu sukai" titah pak Munir
"Ih bapak kepo ya? Bapak kepo kek dora. Atau jangan-jangan, bapak keturunan dora ya?"
"ADEL, SEKARANG KAMU KELUAR!"
"Maksut bapak ke kantin? Siap pak kalau begitu"
Pak Munir membenarkan kacamata yang sedikit turun dari hidungnya
"Sekarang kamu bapak hukum berdiri di depan tiang bendera sampai jam pelajaran saya selesai!"
"Mampus dia" batin Ocha yang menatap Adel dari tempat duduknya. Kenapa sikap Adel berubah hampir 180° dari sebelumnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Reygan Dinata (End)
RomanceGenre : fiksi remaja, romansa. "Harga diri lebih penting daripada segala materi."- Adel. "Apa yang gue mau, harus gue dapetin!"-Reygan. Semesta mempertemukan mereka sehingga terlibat dalam skenario Tuhan. Apakah keduanya saling punya rasa? dan apaka...
