EMPAT PULUH DELAPAN

242 22 0
                                        

Hay, i'am back!
Klik tombol bintangnya yuk!
Makasih gaes! I lope you, tapi bo'ong.
haha...

"Sekedar untuk bersinggah, namun tak bersungguh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Sekedar untuk bersinggah, namun tak bersungguh."
...

Perlahan Viona turun dari atas motor milik Reygan.

Tangannya melepas kaitan helm yang terpasang di kepalanya, lalu jari-jemarinya merapikan rambut panjangnya yang sedikit terurai berantakan.

"Makasih." singkat gadis itu. Kemudian, Viona melangkahkan kakinya masuk ke pekarangan rumah dua lantai yang berdominasi dengan cat warna putih.

"Tunggu!" cegat Reygan yang menarik kembali pergelangan tangan Viona. Menyebabkan gadis itu mundur beberapa langkah ke belakang.

"Lo gak mau nawarin gue minum?"

Viona menaikkan satu alisnya. "Lo haus?."  tanya gadis itu sembari melepas cekalan tangan Reygan.

Reygan melepas helm full face nya dan menaruh helm itu di spion sebelah kiri motor miliknya. Ia menatap manik mata Viona. "Iya, gue haus."

"Masuk." tanpa basa-basi, Viona menyuruh Reygan untuk masuk ke dalam rumah berlantai dua itu. Dengan semangat, Reygan turun dari motornya dan mengikuti langkah Viona dari belakang. Cowok itu sedikit menyungging bibir tebalnya karena berhasil lebih dekat dengan Viona.

"Gausah liatin gue terus! gue gasuka!" cela Viona yang seakan tahu gerak-gerik Reygan.

Reygan hanya kembali tersenyum. Viona terlihat sangat lucu ketika dia marah ataupun sebal. Persis dengan Adel dulu. Rasanya Reygan ingin sekali mengacak-acak rambut hazel nya itu.

Seorang wanita keluar dari arah kursi ruang tamu dengan membawa kemoceng dan serbet yang ia sampirkan di pundaknya.

"Eh, non Viona udah pulang. Mau bibi buatin minum gak non?" tawar Bi Atun---asisten rumah tangga di rumah Viona.

"Gausah bi. Bibi buatin minum buat temen Viona aja."

Bi Atun beralih menatap Reygan yang berada di belakang tubuh Viona. Reygan menaik satukan alisnya karena melihat tatapan Bi Atun yang sedikit---mengerikan.

"Hay Bi. Saya Reygan." Reygan memberikan sapaan kepada Bi Atun dengan ramah.

Untuk waktu yang lama, Bi Atun memperhatikan Reygan dengan lekat sambil sesekali memiringkan kepalanya. "Kamu pacarnya non Viona?"

Reygan sedikit menahan napas. Matanya berkedip berkali-kali. Dia ingin sekali menjawab 'iya'. Tapi kalau dia menjawab 'iya' , pasti jiwa keganasan Viona akan muncul seketika.

"Enggak Bi. Dia bukan pacar Viona. Cuman temen" bukan jawaban yang keluar dari mulut Reygan, melainkan jawaban dari mulut Viona.

"Yah, cuman dianggep temen." ucap Reygan dalam hati.

"Owhh, bibi kira pacarnya non Viona."

"Oiya Bi. Mama udah minum obat?"

"Obat?" batin Reygan yang menatap bingung ke arah Viona.

Bi Atun menggeleng. "Belum non. Tadi nyonya gak mau makan. Kata nyonya, makan-nya nunggu non Viona pulang aja."

"Yaudah, nanti Viona mau ke kamar mama." kata Viona yang dibalas Bi Atun dengan senyuman serta anggukan kecil. "Kalau gitu saya pamit ke dapur dulu. Mau buat minuman."

"Iya, makasih Bi."

Prang!

"Mama?"

Viona berlari menuju arah kamar yang berada di dekat tangga. Gadis itu juga melempar tas nya ke sembarang arah.
Reygan yang mendengar bunyi pecahan beling itu juga sama terkejutnya dengan Viona. Cowok itu dengan segera melangkahkan kaki lebarnya mengikuti langkah Viona dari belakang.

Setelah sampai di depan pintu kamar, Viona memutar kenop pintu dengan cepat.

Deg! Viona menelan salivanya susah payah. Keringat dingin mulai bercucuran memenuhi keningnya. Kondisi kamar yang sudah seperti kapal pecah. Pecahan beling ada dimana-mana, semuanya berantakan.

"Mama?" lirih Viona memanggil mamanya yang terduduk di sisi ranjang kasur dengan kondisi menunduk serta tangannya menjambak rambut dia sendiri.

Widya--mama Viona.

Mendengar suara lembut dari anaknya, Widya mendongakkan kepalanya ke atas menatap putri kesayangannya yang sudah bercucuran air mata.

"Sayang..." panggil Widya nyaris terdengar tanpa suara. Tanpa aba-aba, Viona berjongkok di depan Widya dan memeluk wanita paruh baya itu dengan erat.

Reygan tersentuh melihat keduanya. Kondisi mama Viona sepertinya tidak baik-baik saja. Cowok itu memilih diam dan tak mau mengangkat suara. Dia tak mau ikut campur dengan urusan keluarga Viona yang sebenarnya ia juga tidak tahu masalahnya apa.

Viona mengelus punggung Widya dengan lembut sembari menenangkan suara isakan tangis Widya. Setelah merasa Widya sudah tenang, Viona melepas pelukannya. "Mama kenapa? mama gak ngelukain diri sendiri kan?"

Widya menggeleng pelan. "Mama benci laki-laki bajingan itu!"

Mendengar penuturan Widya barusan, Viona memejamkan matanya sebentar dan menarik nafasnya dalam. "Viona kan udah bilang ke mama. Mama jangan pikirin papa lagi. Disini udah ada Viona Ma. Viona akan selalu menjaga mama."

"Kita pindah di Jakarta juga untuk ngelupain semua masalah Ma. Kita disini untuk membuka lembaran kehidupan yang baru."

"Mama sayang sama Viona kan?" tanya Viona yang dibalas anggukan Widya.

"Viona lebih sayang sama mama. Viona cuman punya mama. Gak ada orang lain selain mama dan bi Atun di hidup Viona."

"Sekarang mama makan ya? terus minum obat." tawar Viona dengan senyuman diwajahnya.

"Tapi mama maunya disuapin sama kamu sayang."

Viona mengangguk. "Iya, Viona yang nyuapin mama makan dan minum obat."

Keduanya sama-sama tersenyum. Widya mengalihkan pandangannya ke arah Reygan yang sedari tadi diam berdiri dibelakang Viona. "Dia siapa?"

"Dia temen Viona Ma. Namanya Reygan." jawab Viona membuat Reygan tersenyum canggung.

"Saya keluar dulu Tan, maaf mengganggu." pamit Reygan yang akan keluar dari dalam kamar.

"Eh, gausah. Tante mau bicara sama kamu."

...

Mau bicara apa hayo?

Reygan Dinata (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang