...SELAMAT MEMBACA...
Keduanya kini tengah berjalan menuju parkiran.
Eitssss ingat, tangan Adel masih digenggam erat Reygan.
"He'em.. genggamannya nyaman banget ya pak?" Ucap Adel yang berjalan di belakang Reygan.
"Eh sorry" entah kenapa Reygan kini menjadi cuek. Apa mungkin dia cemburu?
"Cuek amat lo!! Perasaan tadi masih b aja."
"Suka suka gue lah!" Jawab Reygan yang terus berjalan tanpa melihat Adel
"Ni anak ngeselin banget sih, lama-lama pengen gue getok juga nih" gumam Adel yang masih terdengar di telinga Reygan.
"Gue masih denger ya!!"
Adel hanya menyengir kuda. Tiba-tiba ide jahil muncul di dalam otaknya.
"Aduhhhh Rey, mata gue kelilipan hiks hiks hiks" Adel memulai drama jahilnya
Reygan yang dari tadi terus berjalan, kini berhenti dan langsung menghampiri Adel.
"Lo kenapa?"
"Mata gue kelilipan debu, huwaaaa perih banget."
"Sini gue tiupin" Reygan mendekat ke arah Adel dan meniup pelan mata Adel.
"Reygan kalau dilihat-lihat baik juga sih. Eh tapi kadang ngeselinnya minta ampun. Paling di baik cuman kalau ada maunya doang" batin Adel
Fyuhhhhhh
"Gimana? udah mendingan?" Tanya Reygan dengan lembut.
Adel tersadar dari lamunannya.
"Hhhhhh orang gue cuman bercanda wlekk" Adel menjulurkan lidahnya dan langsung pergi dari hadapan Reygan.
"DASAR MAK LAMPIR!!!" teriak Reygan.
"Kyaaa tapi dia lucu" sambungnya.
"Lah motor si Reygan yang mana dah, yang ini kalik ya?" Tebak Adel yang langsung menaiki sebuah motor klasik berwarna hitam.
"Maaf kak, kakak mau ngapain di motor aku?" Ucap seseorang yang bertubuh gendut dan memakai kacamata.
"Eh eh maaf ya, kakak salah motor" Adel menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
"Owhh yaudah kak. Aku duluan."
"I-iya silahkan" Adel langsung turun dari motor tersebut.
"Hahahahahaha malu gak? malu gak? malu lah masak enggak" Reygan tertawa terbahak-bahak karena melihat komuk Adel yang menurutnya lucu.
"Kampretttt lo Rey!!" Adel berdecak kesal.
"Lah siapa suruh tadi ninggalin gue hmm?"
"Yaudah iya gue salah. Cepetan anterin gue pulang bapak ojek!!"
"Enak aja ngatain gue kang ojek"
"Udah cepetan, gak pakek lama! Lo bawa helm cadangan kan?"
"Lo bawel banget sih! Nih pakek helm nya" reygan menyodorkan helm bergambar hello Kitty
"Hhhhh helm lo hello Kitty? Lucu amat dah, pinky ucucucucu"
"Gausah ngarang. Itu helm adek gue. Ya tadinya sih mau jemput adek gue, tapi gak jadi deh, gue nyuruh supir aja.
"Yeeee kalau gitu ngapain lo ajak pulang bareng? Kan kasihan adek Lo," ucap Adel sambil menaiki motor ninja milik Reygan.
"Udah gausah banyak protes, ribet amat hidup Lo!" Reygan mulai menyalakan mesin kendaraan nya.
Di perjalanan hanya ada keheningan diantara mereka berdua. Sampai akhirnya Adel membuka pembicaraan.
"Loh perasaan tadi cuma muter muter deh. Lo mau nyulik gue ya Rey? Gausah macem macem deh, gue mau masih suci nih" Adel mulai memberontak.
Karena takut terjadi hal yang tak diinginkan, Reygan terpaksa menepikan motornya di pinggir jalan.
"Nethink mulu sih lo?" Reygan menoyor helm yang terpasang di kepala Adel.
"Awhhhh sakit pe'a!. Lah, lagipula elo nya sih daritadi muter muter mulu!"
"Gue kan gak tau jalan arah rumah Lo" polos Reygan
"Astaghfirullah ogeb banget sih!. Kalau gak tau kenapa gak nanya ke gue, Mansur!!!" Geram Adel.
Reygan hanya menyengir kuda. "Ya maap"
"Hufttt yaudah. Nanti lurus terus ada gang di sebelah kanan terus belok. Eh tapi anterin gue nya sampai ke depan gang aja" jelas Adel.
"Gak. Mama gue ngajarin, kalau nganter orang apalagi nganter cewek itu harus sampai ke depan pintu rumahnya. Entar kalau terjadi apa apa sama lo gimana?"
Adel terheran mendengar ucapan Reygan. "Owhh, bilang aja lo khawatir sama gue kan?"
Adel mulai menggoda Reygan sampai Reygan tersipu malu. Tapi ia tetap memperlihatkan tampang cool nya, padahal di dalam hati pasti udah salto girang tuh.
Rumah Adel. Rumah yang bisa dibilang sangat sederhana tapi begitu nyaman dan bersih.
"Ini rumah lo?" Tanya Reygan.
"Iya, emang kenapa? Emang sih kecil, tapi se enggaknya bisa buat teduh dari panas hujan"
Reygan hanya ber oh saja.
Seorang wanita paruh baya keluar dari rumah dan menghampiri kedua remaja tersebut. Siapa lagi kalau bukan ibu nya Adel. Adel memanggil nya dengan sebutan bunda.
"Adel, kamu sudah pulang nak?" Tanya bunda.
"Eh Assalamu'alaikum bund. Iya,Adel udah pulang." Adel menyalimi tangan bundanya.
"Suttt salim napa!" Adel berbisik kepala Reygan.
"Eh iya. Hay tante" Reygan mengikuti perintah Adel.
"Ini siapa Del? Pacar kamu?"
"Eh enggak bund, ini temen sekolah Adel"
"Ya walaupun sebenarnya musuh sih" sambung Adel pelan.
"He'em gue masih bisa denger. Lo kira gue gak punya kuping?" bisik Reygan tepat di telinga Adel.
Adel hanya mengangkat bahunya acuh.
"Owhh temennya Adel. Nama kamu siapa nak?"
"Reygan tante. Yang paling ganteng di penjuru sekolah.
Adel yang mendengar itu langsung memegang perutnya. Rasanya sih ia pengen muntah sekarang juga.
Bunda Adel hanya tersenyum melihat tingkah laku mereka.
"Kamu mau minum apa Rey? biar tante buatin."
"Em Reygan mau minum---" ucapan Reygan terpotong terlebih Adel terlebih dahulu.
"Gausah bund, lagipula Reygan juga mau pulang. Ya kan?" Ucap Adel yang memelototi REygan
Reygan hanya bergedik ngeri, pasalnya ia seperti ingin diterkam macan betina.
"Eh em i-iya tante, Reygan buru-buru pulang karena ada urusan."
"Owhh yasudah hati hati di jalan ya."
"Iya Tante. Bay mak lampir" pamit Reygan sambil melangkahkan kakinya keluar dari pekarangan rumah Adel.
"Teman kamu baik ya Del" puji bunda.
"Baik apanya bund?, aku sama dia kayak anjing dan kucing tauk. Eh, tapi aku kucingnya"
"Kamu gaboleh gitu!, bunda lihat dia anaknya baik kok. Kalau kamu jadi pacar dia, pati bunda dukung.
"ih apaansih bunda!. Udah ah, Adel mau mandi terus berangkat kerja dulu."
Adel memliki kerja sampingan sebagai pelayan cafe. Ia melakukan hal itu, untuk biaya kehidupannya sehari-hari. Ia melarang bundanya bekerja, karena ia gak mau bundanya kelelahan dan jatuh sakit.
maaf kalau ada typo
Thanks❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Reygan Dinata (End)
RomanceGenre : fiksi remaja, romansa. "Harga diri lebih penting daripada segala materi."- Adel. "Apa yang gue mau, harus gue dapetin!"-Reygan. Semesta mempertemukan mereka sehingga terlibat dalam skenario Tuhan. Apakah keduanya saling punya rasa? dan apaka...
