Genre : fiksi remaja, romansa.
"Harga diri lebih penting daripada segala materi."- Adel.
"Apa yang gue mau, harus gue dapetin!"-Reygan.
Semesta mempertemukan mereka sehingga terlibat dalam skenario Tuhan. Apakah keduanya saling punya rasa? dan apaka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Orangnya sudah pergi, namun hatinya masih tetap disini."
*
**
Setelah selesai berbicara dengan Widya, Reygan melangkahkan kakinya ke belakang rumah Viona untuk menyusul gadis itu yang katanya berada di taman halaman belakang rumah.
Setelah sampai disana, Reygan menjatuhkan dirinya di bangku panjang tepat disebelah Viona.
"Mama ngomong apa sama lo?" tanya Viona yang masih sibuk dengan benda pipih ditangannya.
Viona mengangguk paham. Dirinya tidak marah jika mamanya meminta orang lain apalagi Reygan untuk sekedar menjaganya. Menurutnya, itu adalah hal yang sudah biasa.
"Waktu gue masih SMA di Jogja, papa ninggalin mama sama gue."
Reygan yang mendengar hal itu langsung mengalihkan fokus nya menghadap ke arah Viona. Karena merasa tertarik dengan topik pembicaraan yang barusaja diucapkan Viona.
"Papa selingkuh dari mama gue. Harta mama gue dikuras abis sama dia untuk bersenang-senang sama perempuan jalang selingkuhan nya itu."
"Semua mobil dia jual. Aset perusahaan bangkrut gara-gara di korupsi. Dan rumah satu-satunya di Jogja dia gadein untuk melunasi semua utangnya."
"Mama gak tau apa-apa kenapa tiba-tiba bank sita rumah gue gitu aja. Mama gue juga gak tau utang apa yang dimaksud oleh pihak bank."
Reygan hanya diam menyimak dan membiarkan Viona meluapkan segala unek-unek yang ada di dalam hatinya. Mungkin gadis itu sekarang sedang butuh orang untuk mendengar segala curahan hatinya.
Viona memang masih berkutip dengan benda pipih yang berada ditangannya, namun air matanya sedikit demi sedikit mulai menetes dari kelopak mata indahnya.
"Papa pernah bawa selingkuhannya ke rumah. Waktu itu mama syok banget pas tahu kalau papa itu selingkuh. Kalau gue sih udah tau duluan sebelum mama gue tau."
"Waktu itu juga pernah, papa pulang kerumah dalam posisi mabuk berat."
Viona menarik nafasnya dalam.
"Gue emang sering liat papa malem-malem keluar masuk dari club malam sama beberapa cewek, termasuk cewek selingkuhannya itu."
"Jujur, gue mau ngelabrak si tua bangka itu. Tapi ada aja yang ngehalangin gue."
"Waktu papa mabuk, tua bangka itu malah marah-marah gak jelas dirumah. Semua barang-barang dirumah dia lempar ke sembarang arah dan semuanya pecah."
"Mama sempat nyoba nenangin papa gue yang terpengaruh sama minuman alcohol itu. Tapi malah mama gue juga terkena sasaran lemparan, sampai kepala mama luka."
"Pas gue ngeliat kejadian itu, gue emosi banget sama papa. Dan gak sengaja tangan gue ini nonjok muka papa sampai hidungnya berdarah."
"Terus papa gak terima. Dia malah balik dorong gue sampai kepala gue kebentur meja. Dan..."
"Pokoknya gitu lah. Gue gak mau mikirin masa lalu gue. Gue, mama, sama Bi Atun pindah kesini untuk ngelupain semua masalah selama kita tinggal di Jogja, dan membuka lembaran kehidupan baru disini."
Reygan mengangguk. "Sabar ya Vi. Gue tau lo adalah cewek yang kuat."
Viona menyerka air matanya. Gadis itu kemudian beralih posisi menghadap kesamping, ke arah Reygan yang sedari tadi menatapnya lekat.
"Lo gak keberatan kalau mama gue suruh lo buat jaga gue?" tanya Viona.
Reygan menggeleng. "Gue sedikitpun gak ngerasa keberatan Vi. Justru gue seneng kalau mama lo punya kepercayaan untuk gue supaya bisa ngejaga lo."
Viona mengangguk. "Semua orang yang dekat sama gue, apalagi cowok, pasti mama suruh orang itu untuk ngejaga gue. Dan kalau ada yang berani nyakitin gue ataupun bikin gue nangis, mama gue akan nyuruh orang suruhannya untuk menghabisi orang itu."
Ucapan Viona barusan membuat Reygan sedikit ngeri. "Diam-diam mematikan."
"Lo gak usah takut.."
"Eum, nama lo siapa? gue gak tau" ucap Viona dengan tampang polosnya.
Reygan menepuk jidatnya pelan. Dari awal dirinya memang belum memperkenalkan namanya kepada Viona. "Eh iya, gue lupa. Nama gue Reygan."
Uluran tangan Reygan disambut hangat oleh telapak tangan Viona. "Viona."
"Gue udah tau." jawab Reygan yang disertai sedikit tertawa kecil. Viona ikut tersenyum.
"Oiya Rey. Kalau gue boleh tahu, lo kenapa ngira kalau gue itu Adel? Adel itu siapa? pacar lo?" tanya Viona yang sedikit penasaran. Lebih tepatnya kepo sih.
Reygan menghela nafas beratnya lalu menghadapkan tubuhnya kedepan, mendongakkan kepalanya keatas menatap indahnya langit sore yang bercampur warna jingga.
"Adel itu cewek yang berhasil naklukin hati gue. Orang yang paling gue sayang setelah kedua orang tua gue."
"Dia cantik Vi. Cantik banget." tutur Reygan sembari membayangkan raut wajah Adel yang sedang tersenyum ceria. "Persis sama seperti wajah lo."
"Makannya pas gue pertama kali ketemu sama lo, gue kira lo adalah dia. Tapi ternyata gue salah." Reygan tersenyum tipis.
"Terus sekarang Adel ada dimana?"
Reygan mengangkat jari telunjuknya melayang bebas di udara dan mengarah ke arah langit. "Dia ada di atas sana... selamanya."